30.5 C
Jakarta

Meneguhkan Peran Ulama Perempuan; Mencari Titik Temu Peradaban Baru

Artikel Trending

KhazanahTelaahMeneguhkan Peran Ulama Perempuan; Mencari Titik Temu Peradaban Baru
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Salah satu rangkaian kegiatan dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) II adalah International Conference yang diadakan pada tanggal 23 November 2022 mendatang di UIN Walisongo Semarang. Diadakan oleh AMAN (Asian Muslim Action Network) Indonesia dan bekerjasama dengan UIN Walisongo Semarang, kegiatan ini menghadirkan berbagai tokoh luar negeri untuk membahas sejumlah fenomena populer dalam rangka menguatkan peran perempuan dalam ranah global.

Dalam kegiatan International Conference, tema yang diangkat adalah “Affirming the Role of Women Ulama in Creating A Just Islamic Civilization” dengan menghadirkan tokoh-tokoh global seperti; Syaikh Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyib, imam besar Al-Azhar-Mesir, Fatima Seedat (Founder of Shura Yabafazi South Africa), Qutub Jahan (India), Dr. Nuriye Ortayli (Istanbul), dan masih banyak lagi tokoh-tokoh internasional lainnya.

Dalam keterangannya, Ruby Kholifah, direktur AMAN Indonesia, memiliki semangat positif dalam kegiatan ini karena akan banyak momen saling belajar antara ulama perempuan di Indonesia dengan para tokoh antar negara untuk menguatkan peran perempuan di ranah global. Dari kegiatan inilah, wacana keilmuan akan terus berkembang untuk menguatkan narasi peran perempuan agar bisa diterima oleh publik.

Dalam kegiatan ini, ada beberapa panel yang dibahas, di antaranya: The Futures of Muslims, Justice and Beauty in Muslim Marriage, Women Peacebuilders, Defending Women’s Rights Under Fragile Democracy, Climate Justice and Sustainable Development, Men Involvement in Faith Communities, Promoting Gender and Freedom of Religion and Belief (FoRB), Muslim Women Movement Around the World. Tema-tema ini adalah topik populer yang akan dibahas pada international conference dan menjadi ajang para akademisi, baik dari perempuan ataupun laki-laki untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing negara antara yang satu dengan lainnya. Para peserta yang akan hadir dalam kegiatan ini, setidaknya bisa belajar langsung secara komperehensif berbagai pandangan para ahli berkaitan dengan topik yang sudah disediakan.

Apa yang dibawa oleh forum ini?

Sejarah tentang peran perempuan ditorehkan oleh Siti Aisyah ra yang memiliki julukan perempuan cerdas. Karena begitu cerdasnya, ia menerima kepercayaan dari rosulullah untuk memberikan jawaban atas sebagaian masalah umat. Sejarah mencatat bahwa ada 1.212 hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. Dari ribuan hadis tersebut, ada sekitar 300 di antaranya telah diriwayatkan kembali secara bersama oleh ahli hadis Al Bukhari dan Muslim.

BACA JUGA  HTI dan Pemboikotan Masjid: Gerakan Ideologisasi Khilafah Melalui Buletin Kaffah

Selain Siti Aisyah, dalam konteks kebangsaan, ada banyak sekali ulama perempuan yang berperan di tengah masyarakat dengan keilmuan dan gerakan sosial yang dilakukan. Setidaknya, beberapa tokoh tersebut, di antaranya: Nyai Khoriyyah Hasyim, Rahmah El-Yunusiyyah, Sitti Walidah, dll. Tokoh tersebut adalah bagian dari ulama perempuan yang secara keilmuan mampu mempertegas kedudukan seorang perempuan muslim dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Pepatah Arab pernah mengatakan bahwa, perempuan adalah pilar negara, bila baik, maka negara akan menjadi baik, bila ia rusak maka akan hancurlah sebuah negara. Dalam makna literal, kalimat ini tidak kemudian mendiskreditkan perempuan sebagai makhluk yang seringkali dianggap remeh ataupun kelas kedua. Akan tetapi, perempuan memiliki peran besar untuk masyarakat dalam upaya mempertegas tanggung jawab kemanusiaan sebagai khalifah di bumi. Maka dengan ini, saleh atau tidaknya seorang perempuan, tidak dilihat dari aspek kebaikan moral individunya saja. Akan tetapi dilihat dari kebaikan moral secara sosial yang meliputi Kesehatan fisik dan mental, cerdas secara nalar dan pikiran sehingga mampu mengaktualisasikan diri dalam ranah publik di segala ruang.

Mengacu kepada argumen di atas, perlu kiranya untuk ditegaskan bahwa posisi ulama perempuan bukanlah sebatas tokoh yang hadir sebagai perempuan secara fisik. Lebih jauh tentang ulama perempuan, ia adalah sebutan untuk individu-individu, melainkan gerakan kolektif untuk mewujudkan keilmuan Islam yang bersumber dari al-Qur’an, Hadits, dan seluruh khazanah keislaman dengan meniscayakan perujukan pada realitas kehidupan yang dialami perempuan (Kupipedia).

Melalui forum ini, penulis berharap bahwa, kegiatan ini adalah awal dari titik balik langkah dan gerakan perempuan di Indonesia dalam mewujudkan keadilan yang mengedepankan kemanusiaan. Memberikan ruang sangat luas bagi perempuan untuk berdaya dan memaksimalkan potensi yang dimiliki sebagai makhluk Tuhan yang memiliki amanat menjadi khalifah di bumi. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru