31.1 C
Jakarta

Mencuri Suara Umat Islam untuk Tahun 2024 di Balik Isu Islamofobia

Artikel Trending

KhazanahTelaahMencuri Suara Umat Islam untuk Tahun 2024 di Balik Isu Islamofobia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- 2024 sudah di depan mata. Bagi masyarakat biasa, tahun tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun yang lainnya. Bahkan mungkin, dianggap sebagai tahun untuk memilih pemimpin Indonesia yang tidak ubahnya memilih makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Bagi orang yang tidak memiliki penyakit, tentu apa saja bisa dimakan. Namun, bagi orang yang memiliki penyakit dan mementingkan selera, hanya makanan tertentu yang dimakan.

Begitu juga dengan fenomena 2024 esok. Para politisi yang memiliki kepentingan untuk duduk di kursi pemerintahan, sudah mempersiapkan betul, langkah dan strategi seperti apa yang akan dilakukan untuk mendapatkan suara masyarakat Indonesia agar bisa diberi tanggung jawab untuk menjadi wakil rakyat.

Melihat fenomena ini, maka kita perlu melihat, seperti apa pemilih ada tahun 2024 esok. Berdasarkan laporan The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) atau MABDA bertajuk The Muslim 500 edisi 2022, ada 231,06 juta penduduk Indonesia yang beragama Islam.

Sedangkan jumlah penduduk Indonesia, Worldometer merilis data jumlah penduduk Indonesia hingga 25 April 2022 adalah 278.752.361 jiwa. Melalui kondisi demikian, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa, masyarakat muslim menduduki populasi terbesar sebagai calon pemilih wakil rakyat pada tahun 2024 silam. Strategi yang bisa dilakukan oleh para calon wakil rakyat adalah merebut suara umat Islam, menarik simpati dan empati agar bisa memberikan suara tersebut kepada dirinya. Entah seperti apapun strateginya, bahkan dengan jubah agama sekalipun, akan dilakukan.

GNAI dan misi dibalik kesejahteraan umat

Fenomena tersebut kiranya perlu dilihat dengan adanya deklarasi Gerakan Nasional Anti Islamofobia yang diinisiatori oleh beberapa tokoh, diantaranya: Wakil Ketua MUI Buya Anwar Abbas, Gus Aam (cucu pendiri Nahdlatul Ulama KH Wahab Hasbullah), Sekjen PP Syarikat Islam Ferry Juliantono, musisi Ahmad Dhani Prasetyo, Habib Mukhsin, Ustadz Umar Husein, Refly Harun, hingga Ustadz Alfian Tandjung.

Alasan yang melatar belakangi deklarasi gerakan tersebut, menurut Ferry juliantono adalah kebencian yang dialami oleh umat Islam di pelbagai belahan dunia. Perbedaan teologi yang diperburuk dengan perbedaan politik, ekonomi dan budaya membuat konflik antar negara. Atas dasar masalah tersebut, muncul-lah kebencian terhadap Islam, sehingga gerakan tersebut lahir sebagai upaya untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tampah darah Indonesia.

BACA JUGA  Gempa Cianjur dan Wujud Intoleransi di Tengah Persoalan Sosial

Sebenarnya, kalau dilihat dari garis ambisius yang dimiliki oleh para tokoh inisator itu, gerakan GNAI tidak lebih dari sekedar gerakan politik untuk mencuri suara umat Islam. Mengapa penulis katakan demikian? Hal tersebut tidak lain sejalan dengan latar belakang keseharian para tokoh. Anwar Abbas misalnya, tidak bisa disebut sebagai perwakilan dari MUI. Sebab ia tidak mewakili secara kelembagaan, namun atas dasar pribadi dirinya.

Selain Anwar Abbas, ada pula Hidayat Nur Wahid yang turut serta hadir dalam deklarasi tersebut. Seperti kita ketahui bahwa, Hidayat Nur Wahid adalah politisi PKS yang dikenal dengan kontroversialnya dalam memberikan statement tentang pemerintah. Bisa dikatakan pula, ia akrab sekali dengan isu khilafah. Dalam membawa isu keislaman, Hidayat Nur Wahid sangat mahir sekali untuk mengambil suara umat islam dengan simbol-simbol keislaman.

Tidak hanya itu, argumen penulis nyatanya sejalan dengan cuitan dari akun twitter @Khazanah GNH menganggap bahwa gerakan GNAI tidak lebih daripada jualan emosi umat. Pernyataan tersebut kiranya sangat masuk akal mengingat bahwa, orang-orang yang mendukung gerakan itu adalah alumni 212 yang tidak lain para pengusung khilafah dan para pemuja simbol agama yang selama ini memainkan suara umat Islam.

Masyarakat muslim harus cerdas dan kritis

Sampai disini, melihat fenomena demikian, maka sebagai umat Islam, kita perlu kritis terhadap gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam. Ke depan, akan ada banyak simbol-simbol Islam yang turut memeriahkan euforia tahun 2024. Hal yang paling bisa dilakukan adalah menelaah secara dalam, atas segala fenomena yang terjadi agar tidak dibodohkan dan menjadi bodoh oleh para politisi yang membawa Islam dalam setiap gerakannya. Mereka biasanya membawa Islam untuk menarik simpati dan empati masyarakat Islam sebagai populasi calon pemilih terbanyak di Indonesia pada tahun 2024. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru