28.3 C
Jakarta

Mencegah Radikalisme ala Lily Wahid

Artikel Trending

KhazanahPerempuanMencegah Radikalisme ala Lily Wahid
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Kita semua kehilangan, Lily Chodidjah Wahid Adik Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang wafat pada Senin (9/5) kemarin. Duka berjamaah adalah kewajaran. Namun, rasa bangga atas prestasi-prestasi dan amal jariyah kebaikan harus kita ungkapkan.

Selain dikenal sebagai tokoh perempuan pemberani membela rakyat kecil, mantan anggota DPR RI ini telah banyak mengajarkan cara mempertehankan NKRI dari ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari ini mengungkapkan bahwa salah satu kunci mempertahankan NKRI dari ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme adalah melaksanakan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dalam kehidupan sehari-hari. Selain menghafalkan lima sila yang ada dalam Pancasila, mengamalkan adalah keharusan.

Karena, hafal tanpa pengamalan tidak akan berpengaruh apa-apa. Hafal lima sila Pancasila adalah langkah awal untuk selanjutnya memahami isi kandungan dan merealisasikan dalam perilaku sehari-hari.

Lily mengatakan bahwa Pancasila sudah sangat ideal diterapkan di Indonesia. Indonesia bukan negara yang terdiri atas satu model masyarakat, namun beragam suku, bangsa, dan ras antar golongan. Ia mengatakan bahwa para founding father bangsa telah berpikir matang-matang saat memutuskan Pancasila yang ada dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai ideologi dan landasan hidup bangsa.

Bahkan, para founding father rela mengganti tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yaitu ‘Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dengan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ dalam rangka mengakomodir keinginan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Jangan sampai ada kelompok masyarakat yang notabene sama-sama ikut berjuang dalam kemerdekaan, namun terzalimi saat sudah merdeka.

Saat itu, umat Islam bukan berarti kalah terhadap salah satu bagian kelompok masyarakat Indonesia. Justru umat Islam memiliki kontribusi besar dalam mempersatukan seluruh lapisan masyarakat. Bagi pemeluk agama Islam, langkah ini juga menjadi ihtiyar sehingga mereka bisa melakukan peribadatan dengan khusyu’.

Dapat dibayangkan manakala bangsa ini terus saja bertikai karena merasa ada yang terzalimi, antar-suku dan agama tidak pernah akur, maka ketenangan dalam beribadah tidak dapat terwujud.

Tahun 2018 lalu, Lily mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa jika hari ini masih ada segelintir kelompok masyarakat yang mempromosikan isu intoleransi, maka hal itu adalah gangguan dari luar yang akan memecah-belah persatuan bangsa. Sudah lebih dari 70 tahun negara ini tidak pernah ada masalah dengan tujuh kata yang dihilangkan dalam Pancasila tersebut. Maka, jika sekarang mengemuka masalah, maka itu dipastikan ada kepentingan lain di baliknya.

BACA JUGA  Perempuan, Benteng Keluarga dari Propaganda Radikalisme

Lily menerangkan bahwa upaya pecah belah Indonesia menjadi beberapa kelompok adalah setingan internasional yang ingin menjadikan Indonesia menjadi beberapa negara bagian. Upaya ini telah dilakukan beberapa kali namun selalu gagal.  Hal ini dilakukan lantaran Indonesia merupakan negara kaya sumber daya alam, dan mereka akan menguasainya.

Upaya-upaya negara luar yang akan menghancurkan negara Indonesia tidak lagi dengan perang fisik berhadap-hadapan. Jika ini yang dilakukan, maka dipastikan Indonesia akan selalu menang karena mengetahui musuhnya jelas. Cara yang digunakan adalah dengan mengadu domba sesama warga negara Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai cara yang murah meriah dengan harapan akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Menggoreng isu agama adalah salah satu pilihan memecah belah warga. Maka bukan mustahil manakala muthakhir perpecahan antarkelompok warga terjadi karena gesekan agama. Bukan saja antara satu agam dengan yang lain namun juga dalam satu agama yang memiliki perbedaan pemahaman syariat.

Dalam agama Islam misalnya, terdapat kelompok-kelompok, yang antara satu dengan yang lainnya tidak sepaham dalam mengerjakan ibadah. Dan perbedaan ini dijadikan jalan untuk memecah-belah antara satu dengan yang lainnya.

Menurut Lily, perpecahan semacam ini bisa terjadi lantaran masyarakat Indonesia mulai luntur dalam memahami Pancasila, lebih-lebih generasi mudanya. Sehingga, langkah yang mesti dilakukan adalah bagaimana secara bersama-sama menyadarkan kepada generasi muda agar mau belajar Pancasila, bukan saja hafal lima sila yang ada namun juga memasukkan dalam hati sehingga bisa mengaktualisasikan dalam falsafah hidup bangsa.

Di lain kesempatan, Lily juga mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk waspada kepada orang asing. Mulai dari polisi dan angkatan tingkat kecamatan dan desa, bapak RT dan RW agar menertibkan warga. Apabila ada orang asing mesti mendapatkan kepastian. Termasuk di lingkungan kos atau kontrakan jangan sampai ada teroris yang menyelundup. Tentu langkah-langkah ini perlu menjadi perhatian dan dipraktikkan bersama bersama.

Anton Prasetyo, S. Sos. I., M. Sos.
Anton Prasetyo, S. Sos. I., M. Sos.
Ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr NU Gunungkidul

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru