27.7 C
Jakarta

Mencegah Anak Muda Jadi Teroris

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMencegah Anak Muda Jadi Teroris
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Keterlibatan anak muda sebagai teroris patut kita sesalkan. Mereka adalah harapan dan tumpuan kemajuan bangsa. Namun, semua itu langsung sirna seketika taatkala mereka terlibat terorisme. Aksi-aksi terorisme justru melenyapkan keberlangsungan kehidupan, baik dirinya maupun orang lain.

Kalau mencermati hasil survei BNPT (2020) yang menyatakan bahwa 85% generasi muda, milenial, rentan terpapar radikalisme. Ini memberikan pesan kuat bahwa generasi muda kita jadi sasaran empuk perekrutan teroris. Maka, tindakan pencegahan adalah hal penting yang harus dilakukan. Ini pekerjaan rumah kita bersama.

Apalagi sekarang ini kelompok teroris terus melakukan transformasi baik dalam hal strategi, taktik, dan peralatannya. Dalam setiap aksinya, kelompok teroris menguasai dan memanfaatkan berbagai bentuk teknologi mutakhir dan tercanggih. Seperti teknologi pengamatan (vision machine), telepon selular, teknologi sibernatik, dan teknologi simulasi.

Setidaknya ada tiga logika sosial sebagai efek dari perkembangan teknologi, yang secara intensif dimanfaatkan teroris. Pertama, logika ketidakterlihatan. Perkembangan teknologi pengawasan dan pengintaian mutakhir, seperti satelit, radar, kamera video, dan internet memungkinkan setiap orang menggunakan akses di dalamnya. Dengan logika ini, kelompok teroris dapat melakukan pengintaian target tanpa terdeteksi seperti yang terjadi di Gereja Katedral.

Kedua, logika miniaturisasi. Perkembangan teknologi simulasi mampu membuat sebuah model miniaturisasi tindakan sebagai tiruannya. Dengan logika ini, mereka telah melalukan observasi lokasi yang akan menjadi sasaran.

Ketiga, logika nomadisme. Globalisasi telah membuka peluang besar bagi para teroris untuk menjalankan nomad strategy. Yaitu, sebuah pola operasi teror yang bertransformasi dalam skala global dalam sebuah jaringan yang kompleks. Mereka bisa belajar teknologi elektronik, misalnya, di Australia, sistem radarnya di Singapura, latihannya di Malaysia, tapi aksi terornya di Indonesia.

Keahlian Merekrut

Di samping itu, para agen perekrut terorisme memiliki kecakapan untuk mempengaruhi orang agar mengikuti ajakannya melalui metode cuci otak. Mantan penasihat Jamaah Islamiyah (JI) Abdul Rahma Ayub (CNN, 2015) memaparkan tiga tahapan untuk merekrut anggota. 1) Membangkitkan nostalgia kejayaan kekhalifahan Islam. 2) Menumbuhkan semangat juang dengan mempertontonkan kekejaman musuh-musuh (negara-umat kafir). 3) Pendalilan, menampilkan dalil-dalil yang mampu menimbulkan keinginan berjihad.

Dengan tahapan tersebut, para perekrut teroris tidak membutuhkan waktu lama untuk mengubah seseorang menjadi teroris. Perekrut seperti Ali Imron, mantan teroris Bom Bali, mampu mengubah seseorang menjadi teroris butuh waktu 2 jam. Sedang Abu Mukafi seorang mantan perekrut dari kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD) membutuhkan waktu 15 menit.

Maka, tak heran bila para pendoktrin calon teroris juga punya pengamatan yang jeli untuk merekrut generasi muda seperti apa yang bisa dijadikan teroris. Rata-rata yang disasar adalah anak muda yang gampang terombang-ambing, labil, dan mudah terpengaruh dalam berpikir dan bersikap. Mereka yang cepat menelan mentah-mentah sebuah gagasan konsep, tanpa dikunyah, langsung dianggap sebagai kebenaran.

BACA JUGA  Meneropong Ekstremisme UAS dalam Kacamata Birokratisasi Dakwah

Anak muda yang seperti itu yang dicuci otaknya oleh para pendoktrin teroris dengan cara membandingkan hal yang tidak sebanding. Sebagai contoh: Anda memilih hukum buatan Tuhan atau buatan manusia? Pilih Kitab Suci atau UUD 1945? Pilih Nabi atau bapak/ ibumu? Memilih mati syahid atau mati seperti kafir?

Saat dihadapkan langsung pertanyaan-pertanyaan seperti itu, orang/calon teroris tidak akan bisa berpikir jernih. Kemampuan akal dan nalar tidak bekerja. Padahal kalau dikasih waktu berpikir, justru pertanyaannya yang salah, tidak berimbang. Tetapi metode indoktrinasi cuci otak tidak memberi ruang kesempatan untuk berpikir jernih dan mempertanyakan, apalagi mendiskusikannya.

Saat sudah terjebak, orang/calon teroris akan bersikap intoleran. Kemudian ia juga menentang keluarga agar tidak mengikuti kegiatan sosial budaya, dasa wisma, menggunakan bank, dan sebagainya. Bahkan ia menganggap pemerintah, Pancasila, UUD 1945, demokrasi/pemilu sebagai thogut. Jadi, jelas sekali bila generasi muda telah terpapar radikalisme akan menunjukkan gejala-gejala, mulai dari ucapan maupun sikap-sikap yang berubah dari sebelumnya.

Antisipasi Dini

Karena itu, penyebaran ajaran radikalisme dan terorisme diantisipasi sejak dini. Kita perlu melindungi anak-anak kita agar tidak terpapar pengaruh ideologi radikalisme-terorisme. Seperti pepatah lama yang tak pernah usang, mencegah lebih baik daripada mengobati.
Langkah pertama yaitu mengajarkan keberagaman pada anak.

Praksisnya, mengenalkan dan mengajak anak berinteraksi sosial dengan segala ragam perbedaan yang ada di kehidupan sehari-hari, baik perbedaan suku, profesi, dan keyakinan. Kita bisa hidup berdampingan satu sama lainnya dengan saling menguatkan agar tercipta kohesi sosial.

Kedua, memberikan bahan bacaan yang beragam dan bermutu. Keberagaman bacaan dimaksudkan agar anak kaya akan pengetahuan dan wawasan. Sedangkan kebermutuan agar anak dapat melahap bacaan baik, bermanfaat, serta sesuai dengan usianya. Sehingga pengetahuan dari bacaan menjadikan anak bijak menyikapi persoalan dan segala perbedaan yang ada di kehidupan sehari-hari.

Ketiga, mengenalkan mentor/guru/ulama yang memiliki pandangan moderat. Hal ini bertujuan agar anak muda mendapatkan informasi, ilmu dan cara pandang yang lebih terbuka, toleran. Tidak berpakem pada satu arah pandangan saja, berkaca mata kuda.

Keempat, perlu digalakkan literasi digital secara masif di kalangan anak dan keluarga. Hal ini untuk menghindari mereka terpapar dan terpengaruh konten radikalime di jagat internet. Dalam kaitan itu, perlu kiranya mereka segera mengakses, menyosialisasikan, dan menerapkan seri Modul Literasi Digital yang dikeluarkan Ditjen Aplikasi Informatika Kominfo.

Sejak beberapa tahun terakhir (hingga 2024) Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital dan Siber Kreasi telah menerbitkan seri buku Cakap Bermedia Digital, Aman Bermedia Digital, Literasi Digital Keluarga, Isu-Isu Masyarakat Digital Kontemporer, dan lainnya. Buku-buku tersebut dapat menjadi panduan gerakan literasi digital di tengah makin gencarnya penetrasi radikalisme di dunia maya. Semoga.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru