Menanti Langkah Besar Capres dalam Menangani Terorisme


0
14 shares
Harakatuna

Publik sedang menanti debat capres-cawapres. Antusiasme publik terhadap agenda debat sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat dari aktivitas di media sosial belakangan ini; hampir semua netizen memposting konten tentang debat capres-cawapres.

Debat pertama akan dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2019 dengan tema hukum, hak asasi manusia, korupsi dan terorisme. Debat pertama ini akan menjadi sesuatu yang menarik. Pertama, karena debat ini merupakan permulaan dari serangkain debat yang akan dihelat oleh KPU sehingga nuansanya akan amat sangat mendebarkan terlebih kandidat capres-cawapres saat ini, terutama capres—berbeda dengan tahun sebelumnya.

Kedua, tema debat pertama merupakan tema yang tak pernah ada habisnya. Artinya, hukum, HAM, korupsi dan terorisme adalah masalah bangsa yang hingga saat ini belum ada “obat mujarabnya”. Saban tahun, masalah hukum, apalagi terorisme acapkali menghantui Indonesia, bahkan juga dunia. Dengan demikian, debat kali ini sangat dinanti-nanti masyarakat.

Semua orang tentu mengamini bahwa terorisme adalah kejahatan yang luar biasa sehingga menjadi salah satu musuh bagi dunia saat ini. Risiko dari aksi tak beradab dan brutal ini sangat merugikan banyak orang. Bagimana tidak. Nyawa manusia menjadi korban. Terorisme juga sangat mengganggu stabilitas keamanan yang berdampak pada bidang lain karena efek teror atau ketakutan yang ditimbulkannya.

Harus jujur dikatakan bahwa Indonesia belum bebas (merdeka) dari terorisme. Kajadian demi kejadian teror, baik dalam skala besar maupun kecil, masih saja terjadi. Yang mutakhir, aksi teror terjadi/menimpa petinggi KPK dalam beberapa hari ini.

Keadaan semakin mengkhawatirkan ketika jaringan terorisme sudah merasuk pada ranah dunia international. Keberadaan ISIS di Irak dan Suriah menjadi pengaruh dominan dalam setiap aksi teror yang melanda Indonesia. Bagaimana pun juga, ISIS mempunyai kepentingan untuk mengacaukan dunia, termasuk Indonesia. Sehingga, bayang-bayang aksi terorisme bisa saja terjadi setiap saat/waktu.

Baca Juga:  Radikalisme Menyusup ke SMA?

Lalu bagaimanakah sikap atau gagasan atau pun program yang akan dijalankan oleh Capres-cawapres 2019-2014 nanti dalam hal memberangus terorisme di Indonesia? Apakah ada cara-cara luar biasa guna mengenyahkan terorisme di Indonesia? Dan tawaran apa yang dapat disuguhkan bagi bangsa Indonesia guna mencegah dan menindak aksi terorisme. Dan tentunya masih ada pertanyaan lainnya.

Dalam hal terorisme, Indonesia mempunyai beberapa titik rawan terhadap ancaman aksi terorisme. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal. Pertama, bahwa Indonesia akan amat sangat menjadi target utama aksi terorisme karena merupakan negara yang penduduk Muslimnya mayoritas. Kondisi ini justru menjadi daya tarik bagi kelompok radikal. Hal ini sangat logis mengingat terorisme/pelaku teror selalu memboncengi Islam dalam menjalankan aksinya.

Kedua adalah adanya celah keamanan yang longgar sehingga sangat besar kemungkinan bisa dimanfaatkan oleh kelompok radikalis untuk menjalankan teror. Kita bisa menganalisis kondisi Indonesia yang begitu besar dan letak geografisnya yang di kelilingi oleh lautan, penduduk yang plural dan masyarakatnya yang masih banyak yang awam, baik tentang agama maupun wawasan kebangsaan dan ditambah dengan kondisi ekonomi.

Setidaknya dua titik rawan di atas dapat menjadi bahan kajian dan perhatian para Capres-cawapes dalam acara debat nanti sehingga dapat melahirkan kebijakan yang cerdas dan tepat untuk menanggulangi masalah terorisme di Indonesia. Masyarakat benar-benar menanti langkah besar para calon petinggi bangsa untuk membasmi terorisme yang dampaknya sangat besar dan meresahkan.


Like it? Share with your friends!

0
14 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.