Menangkal Radikalisme Melalui Rumah Ibadah


0
2 shares

Perkembangan Radikalisme di Indonesia terus berkembang dan perlu mendapat perhatian khusus. Maraknya radikalisme menjadi ancaman serius bagi bangsa ini. Apalagi dalam momen konstelasi politik yang sarat akan kepentingan. Radikalisme dijadikan alat untuk menyerang lawannnya dengan membuat isu-isu yang memecah belah persatuan.

Radikalisme sangat mempengaruhi tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengaruh dari ideologi ini membawa dampak negatif. Maka tidak mengherankan kerap terjadi sentimen-sentimen yang berujung pada pertikaian antar golongan. Timbul sebuah pertanyaan, Benarkah kita sudah “Bhineka Tunggal ika”? Slogan yang dijunjung tinggi oleh bangsa ini, semboyan bangsa yang nampak dalam burung garuda lambang negara Indonesia.

Perbedaan; Keniscayaan

Semua sepakat bahwa kehidupan ini akan senantiasa berada dalam perbedaan. Dari miliaran manusia yang ada di bumi tidak akan mungkin sama (sama persis), pasti ada perbedaannya. Bisa dari bentuk bentuk tubuh, wajah maupun dari aspek psikologis. Contoh sederhana ada pada sidik jari manusia yang bervariasi bahkan peluang menemukan hanya satu set sidik jari diantara 64 miliar kemungkinan. Artinya perbedaan adalah keniscayaan yang tidak mungkin diangkari.

Dari aspek individual saja manusia sudah berbeda apalagi jika kita melihat dari aspek yang lebih luas. Misal dalam kelompok-kelompok sosial masyarakat seperti suku dan ras. Sudah pasti akan banyak mengalami perbedaan. Namun dalam aspek kelompok atau golongan kita akan melihat perbedaan yang diikat oleh satu cara pandang yang sama dan rasa kebersamaan yang kuat. Meskipun akan beragam kepentingan.

Maka perbedaan karena beda kepentingan bukan berarti hal itu membuat kita saling terpecah belah. Bangsa ini adalah bangsa yang besar dengan keanekaragaman budaya dan agama. Maka memaksakan keberagaman untuk satu hal yang individual adalah tindakan yang kurang tepat. Memang adanya perbedaan sangat berpotensi melahirkan konflik. Konflik yang pada akhirnya menuntun pada jalan kekerasan penghilangan hak dan menimbulkan tindakan diskriminatif. Tetapi jika konflik tersebut dapat diolah dengan baik maka akan memunculkan rasa kebersamaan yang erat.

Baca Juga:  STOP Menjual Isu SARA di Dunia Maya!

Penting untuk kita cermati bersama bahwa kekerasan harus diatasi sedini mungkin. Kekerasan tidak mesti dilawan dengan kekerasan. Justru jika itu terjadi malah bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebaliknya akan memperburuk masalah. Persatuan harus tetap terjaga demi mewujudkan cita-cita bersama negara yanag adil dan berperadaban. Mungkin kita perlu belajar pada apa yang telah diperjuangkan oleh Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur, tokoh yang karismatik dan berusaha mempersatukan bangsa Indonesia dari perpecahansalah satunya disebabkan Radikalisme. Ia mengatakan:

“Kalau pemerintah dan kekuasaan yang ada mengukuhkan struktur ekonomi eksploitatif, kalangan agama harus memunculkan altenatif mereka di arus bawah: penguatan swadaya masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan, membebaskan diri dari kungkungan hukum yang tidak adil, dan memperjuangkan hak-hak asasi manusia.”

Cara yang dilakukan oleh Gus Dur adalah mengaja kepada semua segenap rakyat: buruh, petani, pedagang dan kaum intelektual untuk bersama-sama mendesak kepada pemilik kebijakan untuk memenuhi hak-hak ekonomi politik mereka melalaui perubahan undang-undang yang eksploitatif.

Rumah Ibadah; Pelerai Konflik

Gagasan dalam mengatasi radikalisasi atau deradikalisasi biasanya melalui konsep konvensional yang mengacu pada cara-cara menghindari, melerai konflik. Barangkali kita boleh mencoba konsep yang ditawarkan oleh Mahatma Gandhi (Ashima) yaitu mengatasi masalah dengan cinta. Atau yang pernah dilakukan oleh Martin Luther King Jr. Tokoh asal negara Paman Sam ini mengajak masyarakat untuk melakukan transformasi politik dan kebudayaan tanpa kekerasan. Menyelesaikan kekerasan dengan cara pendekatan kultur bisa diterapkan di Indonesia.

Berbeda keyakinan jangan sampai membuat kita berpaling dari kebenaran dan kemaslahatan bersama. Penting diingat bahwa Tuhan memberikan perbedaan sebagai rahmat. Dengan adanya perbedaan hidup terasa berwarna dan melahirkan keragaman kreativitas dalam kehidupan. Akal yang diberikan Tuhan pun mesti digunakan dengan baik. Kesadaran bahwa  keberagaman itu rahmat timbul dari akal yang sehat.

Baca Juga:  Mengapa Harus Merah-Putih?

Radikalisme timbul karena penolakan pada keragaman. Dihasilkan dari cara berfikiran yang mengutamakan ego. Rasa bahwa kehidupan ini hanya miliknya sendiri pada akhirnya menghapus rasa kebersamaan dengan yang lain.

Maka ibadah dapat menjadi solusi guna menangkal radikalisme. Rumah ibadah berfungsi sebagai tempat untuk memperbaiki keadaan tidak hanya spritiual tetapi juga sosial. Prinsip semua agama pada dasarnya adalah menuntun penganutnya menuju kebahagiaan. Kebahagiaan yang ditujukan bukan untuk dia melainkan untuk umat manusia. Maka tempat ibadah adalah ladang untuk menumbuhkan kebaikan. Dan pancasila dan UUD 1945 pun telah menjamin bahwa siapapun yang hidup di negeri ini bebas menjalankan rutinitas keagamaan dan dilindungi haknya.

Kegiatan ibadah sudah seharusnya tidak hanya dilakukan sekedar ritus semata. Sebab kegiatan ritus terkadang justru membelenggu pola pikir dan menimbulkan tradisi yang eksklusif di masyarakat. Oleh karena itu perlu pemahaman yang baik bahwa kehidupan ini bukan untuk dirinya semata. Kegiatan keagamaan perlu didakan secara rutin dengan kajian yang tidak membahas masalah ibadah individual saja akan tetapi membahasa ibadah sosial. Artinya pembahasan akan sangat beragam mulai dari masalah sosial, ekonomi bahkan politik dalam kehidupan bermasyarakat. Alhasil rumah ibadah akan mampu berkontribusi guna melerai konflik, ujaran kebencian dan radikalisme di masyarakat.


Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.