Menangkal Intoleransi Antar Umat Beragama


0
61 shares

Memiliki keanekaragaman suku, ras, budaya, dan agama tentu menjadi peluang serta ciri khas tersendiri bagi masyarakat Indonesia dalam bingkai internasional. Dibalik keberagaman yang ada, tentu juga akan berpotensi mengundang berbagai gejolak konflik sosial pula, baik itu konflik antar suku, ras, budaya itu sendiri atau bahkan hingga konflik antar umat beragama bilamana tidak dimbangi dengan perilaku masyarakat yang bersikap tasamuh terhadap  keberagaman yang ada.

Seperti halnya akibat dari tindakan intoleransi yang pernah terjadi  dan menimbulkan konflik di berbagai wilayah di Indonesia seperti  bentrok antar suku, aksi bom bunuh diri di beberapa gereja di Indonesia, aksi terorisme yang mengatasnamakan agama hingga pada kasus tindakan penistaan agama. Hal tersebut menunjukkan bahwa suatu keanekaragaman tidak senantiasa bernilai positif pada suatu bangsa, melainkan akan menjadi akar perpecahan bagi bangsa tersebut jika tidak mampu menyikapi dengan bijak terhadap keanekaragaman yang ada.

Persoalan dibidang tindakan intoleransi kini mencuak kembali dengan beredarnya video seorang wanita 52 tahun yang membawa seekor anjing masuk kedalam masjid Al munawaroh di Sentul, Bogor yang mengundang amarah umat muslim di indonesia. Apapun motif dari pelaku tersebut, amarah dika langan umat muslim tidak dapat terbendung  lagi. Bahkan dewan masjid Indonesia (DMI) mengutuk keras perbuatan wanita tersebut serta meminta agar kasus tersebut diproses secara transparan (Detik.com 01/07/2019).

Sudah sepantasnya amarah kaum muslim terbakar akibat tindakan yang dilakukan wanita  52 tahun tersebut. Megingat bahwa masjid merupakan sarana  beribadah bagi umat muslim yang suci  serta sebagai  tempat yang disucikan. sedangkan disisi lain, dalam islam sendiri anjing merupakan hewan yang dianggap dapat mendatangkan najis berat atau ketidak sucian yang dapat menyebabkan tidak sahnya dalam melakukan ibadah terlebih pada ibadah sholat. sehingga perilaku wanita tersebut dinilai oleh kalangan umat muslim sebagai suatu tindakan penistaan agama.

Baca Juga:  Merajut Kerukunan Ala “Pluralisme” Pesantren

Kata-kata kasar serta tanggapan demi tanggapan negatif pun ramai dan membanjiri media sosial seketika video seorang wanita yang membawa anjing peliharaannya masuk kedalam masjid itu beredar. tanggapan umat muslim mengutuk keras tindakan seorang wanita tersebut di media sosial disebabkan oleh  kebanyakan  dari mereka  merasa bahwa agama islam telah di rendahkan oleh kaum non muslim, tetapi ada pula  tanggapan  yang menunjukkan sikap  mereka yang sama sekali tidak tersulut amarah dari tindakan yang dinilai sebagai tindakan penistaan agama tersebut. Menurut sikap umat muslim yang kedua ini, mereka mengambil ibrah dari kisah-kisah di zaman Rosulullah tentang seekor anjing. Salah satunya ialah kisah tentang wanita pelacur yang diampuni dosanya karena memberi minum sekor anjing. Dari kisah tersebut, pada intinya mereka berharap agar umat muslim tidak terlalu termakan amarah hingga takutnya nanti timbul disintegrasi sosial di negara ini.

Dikarenakan amarah yang sudah membara, umat muslim tetap saja mengutuk terhadap tindakan intoleran yang tentu tidak etis tersebut  agar ditangani secara serius oleh lembaga berwenang terlepas dari kondisi yang dialami oleh wanita 52 tahun itu.

Hal ini tentu menujukkan kepada kita akan betapa pentingnya toleransi antara umat beragama dalam menjalankan syari’atnya masing masing. Kesadaran pada diri sendiri masing masing umat pemeluk agama hendaknya perlu di pupuk kembali agar kasus-kasus penistaan agama yang serupa tidak lagi terjadi serta masing-masing dari mereka dapat hidup berdampingan tanpa adanya permusuhan.

hal tersebut menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak terlalu tersulut amarah yang mendalam dalam menyikapi konflik intoleransi. Biarlah tindakan yang bertentangan tersebut di tangani oleh pihak yang berwenang dan  masyarakat tetap menjaga silaturrahmi agar tidak terjadi disintegrasi sosial atau bahkan konflik antar agama yang tidak diinginkan.

Baca Juga:  Kampus dan Bahaya Laten Radikalisme

Penerapan Pendidikan multikultural Dalam hal ini perlu di tingkatkan kembali sebagai  bentuk upaya preventif dari pemerintah maupun lembaga Pendidikan untuk menghindari gejolak perpecahan serta agar kasus intoleransi seperti halnya diatas  tidak terjadi kembali. Pendidiikan dengan berbekal keberagaman serta latar belakang dari lapisan masyarakat yang berbeda, tentu menjadi tangga bagi masyarakat indonesia sebagai wujud meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sikap saling menghargai terhadap perbedaan yang ada. Pemahaman dalam hidup di tengah perbedaan tentu  akan meningkatkan kesadaran masyarakat sebagai mahluk sosial yang tidak adapat hidup sendiri  dalam melanjutkan keberlangsungan hidupnya. Sehingga kesadaran tersebut akan menumbuhkan sikapa menghargai sesama serta tidak ada yang merasa terdeskriminasi.

Intoleransi dikalangan umat beragama tentu  harus menjadi perhatian yang besar bagi pemerintah. Mengingat Negara-negara lain telah  dilanda konflik berkepanjangan  dikarenakan sikap intoleransi dari para  penduduknya. Selain itu, sikap intoleransi pun merupakan penyebab munculnya sikap radikalime.

Terkait tersebar luasnya berita diatas, maka perlu dihimbau bagi kalangan umat beragama terlebih umat muslim untuk tidak termakan segala bentuk  adu domba permusuhan dengan agama lain.

berkenaan dengan hal menciptakan persatuan Indonesia, maka antara umat pemeluk dari masing-masing agama, pendidik, mahasiswa, ulama,  serta  seluruh lapisan maasyarakat di Indonesia harus bekerja sama dalam mewujudkan persatuan sosial dengan cara mengembangkan sikap toleransi terhadap keanekaragaman yang ada. Seperti yang termuat dalam Q.S. Al Kafirun ayat 7 “lakum diinukum waliya diini” yang artinya: bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Dalam hal ini, Allah telah memerintahkan kepada kita agar senantiasa menghargai agama-agama selain  agama kita serta tidak ikut campur dalam urusan keagamaan mereka dan begitu pula sebaliknya.

Selain itu, upaya preventif dari pemerintah sangat diharapkan guna menjaga persatuan serta kesatuan bangsa agar tidak saling membenci hanya dikarenakan segelintir pemeluk agama yang bertindak intoleransi terhadap agama-agama lain. dalam hal ini pemerintah, ulama serta masyarakat  perlu secara kontinu untuk melakukan komunikasi agar tidak mudah dimanfaatkan oleh oknum yang memanfaatkan hal tersebut.


Like it? Share with your friends!

0
61 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Ahmad Khozin