25.5 C
Jakarta

Menanggulangi Terorisme dengan Menyejahterakan Eks-Teroris, Memangnya Berhasil?

Artikel Trending

Milenial IslamMenanggulangi Terorisme dengan Menyejahterakan Eks-Teroris, Memangnya Berhasil?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Banyak cara ditempuh, sebagai pendekatan, untuk memberantas terorisme. Ada pendekatan militeristik, yang terkenal. Densus 88 aktornya. Ada juga cara persuasif-cum-humanis. Cara ini banyak langkah. Mulai dari menggunakan perantara keluarga, tokoh agama, atau otoritas terkait secara langsung. Kedua cara tersebut telah menuai banyak hasil. Sejak peristiwa Bom Bali, banyak teroris yang berhasil dijinakkan. Mereka pun diberi sebutan: eks-teroris.

Baru-baru ini, ada kabar yang mungkin membuat orang bertanya-tanya. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggagas konsep menanggulangi terorisme berbasis pembangunan kesejahteraan dan reintegrasi sosial eks-teroris. Salah satunya dengan memberikan lapangan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan di bidang UMKM untuk kemandirian mereka, eks-teroris, yang notabene sudah tidak punya apa-apa.

Konsep tersebut akan diwujudkan dengan membentuk Kawasan Khusus Terpadu Nusantara (KKTN) di lima provinsi, yaitu Jawa Barat, Jateng, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tengah. “Ada beberapa titik pusat deradikalisasi yang sudah berjalan. Jadi akan ada assessment awal per individu. Lalu dikelompokkan dalam minat yang sama untuk diberi pembekalan keterampilan. Setiap kelompok bisa sekitar 30-an eks-napiter,” terang Kepala BNPT Boy Rafli Amar, dilansir Kompas.

Seberapa efektif memberantas terorisme dengan menyejahterakan teroris itu sendiri? Ketika eks-teroris sudah sejahtera dan selesai dari monitoring, mungkinkah mereka tidak membelot lalu menjadikan kekayaannya untuk mengulangi masa lalu? Bagaimana dengan teroris yang berasal dari kelas menengah atas dengan kecukupan finansial? Apa jaminan dari finalitas keinsafan eks-teroris dari ideologi yang pernah mengakar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut lahir dari kekhawatiran akan kemungkinan terburuk di masa yang akan datang. Terorisme, sebagai ideologi, tetaplah momok menakutkan. Deradikalisasi, sebagai kontra-ideologi, adalah agenda jangka panjang. Sementara eks-teroris, dalam konteks sekarang dan kemudian, berada di titik persimpangan jalan.

Eks-Teroris di Persimpangan Jalan

Deradikalisasi merupakan program pemerintah khusus napiter. Mereka, eks-teroris, dibina wawasan kebangsaan sehingga terbebas dari paham radikal—kembali ke NKRI. Cara ini disebut sebagai pendekatan humanis penanggulangan terorisme. Banyak eks-teroris yang sudah berhasil dideradikalkan. Ali Imron, Umar Patek, dan puluhan lainnya, semuanya sudah cinta NKRI. Mereka para eks-teroris benar-benar diberi kesempatan kedua.

Namun demikian, pendekatan humanis-persuasif tidaklah murah. Butuh ongkos tinggi untuk membina para eks-teroris. Pendampingan untuk menyejahterakan kehidupan mereka butuh biaya yang tidak sedikit, meskipun tingkat keberhasilannya relatif tinggi. Hari ini bisa dilihat, banyak eks-teroris yang hidupnya sejahtera setelah mereka bebas dari penjara. Mereka, yang konon sudah “moderat”, benar-benar menjadi bukti bahwa pendekatan tadi sukses.

Namun sesederhana itukah?

Fakta mengatakan tidak. Tepatnya, tidak ada jaminan kesuksesan. Bukan rahasia lagi bahwa para eks-teroris yang sudah sejahtera melalui pendampingan, misalnya dengan diamanahi proyek tertentu, justru mengidentifikasi diri tetap sebagai entitas yang berbeda. Ali Imron, sebagai contoh, yang kerap kali mengisi seminar deradikalisasi, masih merasa bangga pernah jadi ahli bom. Artinya, ia tidak pernah benar-benar menyesal pernah jadi teroris.

BACA JUGA  Ustaz Basalamah: Umat Islam Dilarang Bersahabat dengan Nonmuslim?

Perasaan berbangga diri menyiratkan dua hal penting. Pertama, ia belum moderat, hanya mengurangi takaran radikalnya. Ia sudah kembali ke NKRI, tetapi ihwal seberapa loyal terhadap demokrasi, sistem yang dahulunya ia anggap thaghut, belum ada yang tahu. Kedua, ia belum melupakan keahliannya di masa lalu. Jadi seandainya suatu hari keadaan memaksa untuk kembali ke kegelapan masa lalu, bukan mustahil mereka akan mengulanginya.

Eks-teroris benar-benar ada di persimpangan jalan karena ia pernah terjerat ideologi ekstrem. Deradikalisasi berbasis kesejahteraan memang sudah berhasil memberi mereka kesempatan kedua untuk berbenah dari masa lalu. Namun, ia tidak hidup di ruang kosong. Sosial-budaya dan politik-keagamaan yang dinamis tidak menutup kemungkinan yang tidak diinginkan terjadi. Meskipun mereka telah sembuh, tetapi penyakit ideologi bisa kambuh.

Lagi-lagi Soal Ideologi

Apresiasi yang besar atas upaya pemerintah menanggulangi terorisme dengan pendekatan humanis. Pendekatan yang berusaha memutus rantai teror sebagai ideologi, bukan sebagai aksi kekerasan, ini memang sangat efektif. Melalui program yang bagus-bagus, eks-teroris berhasil dibuat tidak ekstrem lagi. Mereka yang sudah insaf kemudian mengajak napiter lain untuk insaf juga. Siklus ini terjadi terus-menerus, sampai mungkin akhirnya semua naipiter berhasil dinetralisasi.

Namun karena akar masalahnya adalah ideologi, dan ideologi susah untuk hilang secara total dari seseorang, keberhasilan deradikalisasi bukan sesuatu yang mutlak. Artinya, para eks-teroris harus selalu on control pemerintah, bahkan sekalipun mereka sudah selesai masa pendampingan kesejahteraan hidup. Kesejahteraan bukan faktor abadi yang menjamin seseorang seratus persen selamat dari jeratan ideologi, karenanya hati-hati tetaplah niscaya.

Eks-teroris yang berhasil dideradikalisasi dengan penyejahteraan dari pemerintah sebenarnya juga memiliki faktor lain yang lebih kompleks. Faktor primer keberhasilan tersebut adalah kesadaran diri para napiter, sementara pembinaan penyejahteraan merupakan faktor sekunder. Para eks-teroris tidak akan kembali jadi teroris jika terpenuhi satu syarat: aksesnya ditutup sedemikian rupa. Peluang-peluang untuk balik harus dibenahi, sehingga deradikalisasi benar-benar berhasil.

Apakah dengan demikian eks-teroris selamanya harus berada di bawah binaan? Tentu saja tidak. Karenanya, kesadaran diri tadi menjadi kunci. Terorisme terjadi karena banyak faktor seperti ketimpangan ekonomi, sosial, dan politik. Membina, mendampingi, menyejahterakan eks-napiter adalah upaya meletakkan mereka di garis yang tidak teralienasi dari masyarakat, sehingga mereka kembali bisa hidup normal dan selamat dari jeratan terorisme selama-lamanya. Semoga.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru