31.7 C
Jakarta

Memupuk Persatuan Bangsa Melalui Dialog Antarumat Beragama

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMemupuk Persatuan Bangsa Melalui Dialog Antarumat Beragama
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Ada sebuah narasi yang ditulis oleh Retno Sukmaningrum dalam portal Muslimah News, yang mengatakan bahwa dialog antarumat beragama dapat merusak Islam itu sendiri (10/02/20). Narasi tersebut sebagai respons terhadap statement Prof. KH. Nasaruddin Umar yang mengatakan bahwa ajaran Islam menekankan silaturahmi tidak dipilah dan dibedakan oleh atribut-atribut primordial manusia seperti agama, ras, etnik, suku-bangsa, negara, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, dan sebagainya.

Apa yang disampaikan oleh Mustasyar PBNU di atas, sebenarnya tidak ada yang salah, karena memang begitulah ajaran Islam, apalagi dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan. Yang perlu dipahami adalah bahwa Indonesia tidak hanya dihuni oleh satu penganut agama, tapi banyak agama, sehingga wajar jika kita memupuk persatuan antaranak bangsa melalui dialog antarumat beragama yang ada di Negeri ini.

Dialog antaragama dimaksud, tentu bukan bertujuan membincang masalah-masalah teologis masing-masing ajaran agama apalagi menyamakannya, melainkan sebagai wadah silaturahmi antaranak bangsa untuk menyatukan dan menyamakan persepsi terkait keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara, sehingga kita bisa hidup rukun dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu, menurut hemat saya logika yang dibangun oleh penulis artikel tersebut ialah dalam kerangka berpikir yang sempit dan sangat tendensius. Sehingga menganggap dialog antaragama bisa merusak Islam. Padahal Islam sendiri merupakan agama universal yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian. Sehingga dialog antarumat beragama bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam, tapi justru menunjukkan keluhuran ajaran Islam.

Konsep Persaudaraan dalam Islam

Dialog antarumat beragama sejatinya adalah manifestasi dari ajaran Islam itu sendiri. Jika kita mengkaji Islam secara mendalam, maka kita akan menemukan beberapa konsep persaudaraan yang dikenal ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insaniyah (persaudaraan umat manusia). Ketiga konsep persaudaraan inilah yang selalu dijadikan role model oleh warga Nahdlatul Ulama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ukhuwah Islamiyah, merupakan penanda bahwa seluruh umat Islam adalah bersaudara satu sama lain. Persaudaraan ini dibangun atas dasar persamaan keyakinan dan akidah. Tentu ikatan persaudaraan umat Islam ini, tidak terbatas pada kelompok tertentu tapi untuk umat Islam di seluruh dunia.

Sedangkan untuk ukhuwah wathaniyah, hal ini dibangun atas kesamaan tanah air dan kebangsaan. Artinya, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain, melalui dialog antarumat, karena menjadi bagian dari bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Sehingga konsep persaudaraan ini, tidak dibatasi oleh sekat-sekat seperti agama, suku, jenis kelamin, dan sebagainya.

Sedangkan untuk konsep ukhuwah basyariyah, dibangun atas dasar persamaan sebagai makhluk Tuhan. Artinya, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain atas nama sesama umat manusia. Sehingga persaudaraan ini, tidak terbatas pada bangsa tertentu tapi menyangkut semua manusia yang ada di muka bumi ini. Di antara ketiga konsep persaudaraan di atas, sudah pasti tidak dibatasi oleh baju luar dan sekat-sekat primordial.

BACA JUGA  Melawan Islamofobia, Taktik Kaum Radikal Mempermainkan Psikologi Umat Islam

Dari situ, kita bisa tahu bahwa seluruh umat manusia di muka bumi memiliki keterikatan satu sama lain. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 213 yang artinya; Manusia pada hakikatnya adalah umat yang satu. Kemudian Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.  Secara eksplisit ayat ini menjelaskan bahwa tujuan diutusnya para nabi, ialah untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan pada semua umat.

Kabar gembira dimaksud ialah diperuntukkan bagi orang-orang yang mau tunduk dan taat pada perintah larangan-Nya, sehingga mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan peringatan dimaksudkan untuk mereka yang ingkar dan tidak mau patuh akan perintah Allah dan gemar melakukan kerusakan di muka bumi, maka mereka akan disiksa kelak di akhirat.

Berkaitan dengan ayat di atas, Al-Qurthubi dalam kitabnya yang berjudul al-Jami’ li al-Ahkam al-Qur’an, menjelaskan bahwa kandungan ayat di atas, merupakan peringatan agar mengingat kembali asal-usul kita sebagai manusia. Terutama jika menghadapi problem sosial yang berupa konflik horizontal, hendaklah kita membuka nurani dengan mengingat kembali pada asal mula kita.  Sebagai manusia kita sama-sama diciptakan Allah dari tanah, dan kelak jika meninggal kita akan dikubur ke dalam tanah (juga). Selain itu, manusia sebenarnya adalah umat yang satu, yakni sama-sama sebagai keturunan Adam.

Asal usul manusia itu, juga ditegaskan oleh Rasulullah dalam piagam Madinah, bahwa Manusia pada hakikatnya adalah umat yang satu. Dengan demikian, jika kita mengaku sebagai manusia, berarti juga memiliki hubungan saudara dengan manusia lain, dan menganggap orang lain menjadi bagian dari diri kita. Karena semua bersaudara, dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan, maka tidak perlu lagi ada sekat-sekat primordial, dan semua belas kasih perlu kita curahkan untuk semua umat manusia dan anak bangsa.

Sarana Membangun Persatuan

Berdasarkan paparan di atas, dapat dipahami bahwa dialog antarumat beragama sebenarnya pengejewantahan dari konsep persaudaraan Islam yaitu ukhuwah wathaniyah dan basyariyah. Sebagai sesama anak bangsa dan umat manusia yang hidup dalam satu Negara, maka dialog antarumat beragama menjadi penting dilakukan sebagai upaya dan ikhtiar untuk menghindari hal-hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya konflik interes antaranak bangsa.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa dialog antarumat beragama ini sejatinya bertujuan agar para pemeluk agama yang ada di Indonesia bisa hidup berdampingan dengan damai, rukun, aman, saling menghargai dan saling menghormati. Sehingga akan lahir kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai, tenteram dan sejahtera. Hal ini bisa terwujud jika bangsa ini bersatu dan rukun.

Untuk itulah bangsa ini perlu dipupuk nilai-nilai persaudaraan itu agar semakin kuat. Salah satu pupuknya adalah dialog antarumat beragama. Karena bagaimanapun, nilai-nilai persaudaraan secara tidak langsung akan melahirkan semangat dan motivasi positif, yang bisa menciptakan kehidupan yang harmonis, rukun dan damai. Wallahu A’lam

Mushafi Miftah
Mushafi Miftah
Kader Muda NU Jawa Timur dan Dosen Universitas Nurul Jadid serta Kandidat Doktor di Universitas Jember

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru