27.6 C
Jakarta

Memerangi Terorisme, Mengaplikasikan Prinsip Maqasid Syariah

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMemerangi Terorisme, Mengaplikasikan Prinsip Maqasid Syariah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Harakatuna.com – Kewaspadaan terhadap berbagai gerakan radikal yang menjurus pada tindakan terorisme mesti selalu dilakukan. Alarm untuk memantau problem ini wajib selalu aktif. Sehingga, negara tidak kebobolan dan masyarakat tetap merasakan ketenteraman.
Upaya pencegahan, penanggulangan maupun deradikalisasi harus berjalan beriringan. Dikerjakan oleh semua pihak, baik pemerintah maupun eksponen masyarakat.
Aktivitas memerangi terorisme, mulai di tahap pencegahan, penanggulangan, deradikalisasi dan tahap-tahap lainnya, merupakan bentuk ibadah yang dapat dicatat sebagai amal baik. Pasalnya, ada tujuan-tujuan luhur dalam semua kegiatan itu.

Implementasi perlawanan terhadap ide-ide radikal dan teror memiliki kesesuaian dengan prinsip-prinsip maqasid syariah. Jamak dipahami, maqasid syariah adalah tujuan pelaksanaan suatu kebijakan, peraturan, atau hukum, dalam perspektif Islam, yang orientasinya kemaslahatan umat (Al-Zuhaili. 1986. Ushûl al-Fiqh al-Islâmi. Damaskus: Dar al-Fikri).

Sudah barang tentu, perang terhadap terorisme dijalankan demi menjaga keselamatan masyarakat. Maqasid syari’ah sendiri memiliki lima prinsip umum, yaitu melindungi agama, melindungi jiwa, melindungi akal/pikiran, melindungi harta, dan melindungi keturunan (Al-Syathibi. 2003. Al-Muawâfaqat Fi Ushul al-Syari’ah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah).

Perang terhadap terorisme tentu saja masuk kategori melindungi agama. Di satu sisi, doktrin-doktrin agama yang melenceng dari rel dan membahayakan, tengah diluruskan dan dipahamkan pada siapa saja.

Kehancuran ajaran agama karena keteledoran teroris yang mengklaim sebagai pemeluk agama tersebut, bisa pula dihindari sedini mungkin. Perlindungan pada agama semacam ini juga upaya untuk melindungi akal maupun pikiran para pemeluknya.

Seperti yang diketahui, gembong atau agen radikal selalu punya banyak strategi cuci otak. Sehingga akal dan pikiran orang yang lurus bisa menjadi berkelok-kelok bahkan patah selepas berdiskusi intensif dengan mereka.

Perlindungan terhadap nyawa dan harta juga diterapkan. Betapa tidak, serangan teror terbukti bisa membunuh manusia dan merugikan secara material. Kehancuran yang disebabkan hilangnya nyawa dan harta juga dapat mengganggu keberlangsungan hidup keturunan atau generasi emas manusia.

Intinya, apapun yang dilakukan pemerintah maupun eksponen masyarakat dalam hal perang terhadap terorisme, punya korelasi yang kuat pada tujuan melindungi agama, nyawa, harta, akal, dan keturunan atau generasi penerus.

BACA JUGA  Memberantas Radikalisme dengan Moderasi Beragama, Efektifkah?

Maqasid Syariah al-Ammah

Pemerintah Indonesia memiliki banyak langkah maupun program penanganan terorisme. Ada banyak kebijakan publik yang diimplementasikan.

Kebijakan publik melalui regulasi dan program-program konkret bisa ditelaah melalui konsep teoritik maqasid syariah yang dipopulerkan Muhammad Thahir Ibnu Asyur. Dia membagi maqasid syariah menjadi dua, maqâsid syari’ah al-‘ammah dan maqâsid syari’ah al-khāṣṣah (Al-Ghali. 1996. Syaikh al-Jamī‘ al-A‘ẓam Muḥammad al-Ṭāhir ibn ‘Asyūr; Ḥayātuh wa Āṡāruh. Beirut: Dar Ibn Hazm).

Maqâsid syari’ah al-‘āmmah didefinisikan sebagai tujuan syariah, hukum, peraturan, yang mencakup kemaslahatan umum. Sementara maqâsid syari’ah al-khāṣṣah merupakan tujuan khusus Syariah di lingkup kecil kehidupan seseorang. Sebagai contoh, sehubungan dengan hukum keluarga, ibadah individual, dan penggunaan harta individu, serta isu-isu lain pada konteks  domestic (Ibnu Asyur. 1985. Usul Al-Nizam Al-Islamy Fi Al-Mujtama’. Tunisia: Syirkah Al-Tunisiyah Li Al-Tauzi).

Masing-masing kebijakan publik seharusnya diarahkan pada tujuan kemaslahatan umat. Maqâsid syari’ah memiliki tujuan utama mencegah kerugian bagi manusia dan mendatangkan kemaslahatan.

Sasaran kebijakan mesti segenap warga negara. Penanganan terorisme juga demikian. Semua anggota masyarakat dari hulu ke hilir harus tersentuh. Termasuk, rehabilitasi pemikiran bagi para mantan narapidana teroris. Sehingga, mereka tidak malah balik ke jalan yang meresahkan tersebut.

Maslahat bukan sekadar perkara pokok al-kulliyat al-khomsa atau kemaslahatan pada lima unsur (agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan). Namun juga soal pergerakan ekonomi dan faktor-faktor lain pendukungan kesejahteraan manusia.

Kesejahteraan juga berkenaan dengan keadilan. Sehingga, segala bentuk tindakan hukum melawan terorisme juga tak boleh sembarangan sehingga merugikan pihak-pihak yang tidak selayaknya mendapat imbas negatif.

Kecermatan pelaksana tugas dari pihak pemangku kebijakan mutlak diperlukan. Terpenting, semua program yang bersinggungan dengan kepentingan publik harus berlangsung transparan, terpantau, dan dapat dipertanggungjawabkan (Ibnu Asyur. 1925. Naqd Al-‘Ilmi Li Kitab Al- Islam Wa Usul Al-Hukmi. Cairo: Al-Salafiyah). Di negeri demokrasi seperti Indonesia, pemerintah juga mesti terbuka terhadap saran maupun kritikan masyarakat. []

Rio F. Rachman
Dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang, Awardee Beasiswa 5000 Doktor Kemenag di FISIP Universitas Airlangga.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

37 KOMENTAR

  1. Yaitu dengan berkomunikasi dengan menggunakan metode dan teori yang tepat dalam berkomunikasi dengan mantan nara pidana. Dan jika kita menggunakan metode dan pendekatan yang baik, maka proses mis komunikasi akan semaksimal mungkin.
    Nama : Andri Fahruzi
    Kelas : BKI 3A

  2. Yaitu dengan cara melakukan komunikasi dengan baik yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman yang benar, pengamalan dan pengembangan nilai keagamaan yang benar serta penguatan pendidikan karakter kebangsaan di sekolah/satuan pendidikan, Pola-pola penguatan pendekatan terhadap keluarga.

  3. Ida nur sifa huyana
    Bimbingan konseling Islam 3A
    Nim :2019100320165

    Dengan cara berkomunikasi untuk mengetahui metode” dan pendekatan yang baik , sehingga mantan narapidana tidak kembali kejalan yang meresahkan lagi.

  4. Kita harus memperdalam apa itu terorisme jika kita sudah menemukan itu secara keseluruhan kita harus bisa berfikir apa langkah pertama yang harus saya lakukan dan dengan siapa mengenai hal² yang berhubungan dengan itu setelah itu kita memahami maqasyid Islam dan mengamalkan dengan tujuan tercipta nya kemaslahatan bersama.

  5. Nur Aziza Fazriyah BKI_3B

    Dengan cara melakukan pendekatan karakter melalui nilai-nilai Pancasila dan agama, yang sifatnya menunjukkan hal-hal baik. Sehingga muncul jiwa nasionalisme dalam dirinya

  6. Yulia Citra BKI 3A
    yaitu dengan cara berkomunikasi dengan baik, kita hurus mengingatkan amal ma’ruf nahi munkar karena mantan narapidana sesungguhnya memiliki hak untuk dapat kembali ke lingkungan tempat tinggal mereka dan memulai hidup baru yang lebih baik

    • Berkomunikasi menggunakan bahasa yang baik, dan lebih baiknya menggunakan metode dalam berkomunikasi. Selain itu kita juga harus memberikan arahan yang benar kepada mantan narapidana tersebut

  7. Dengan cara melakukan pendekatan, berkomunikasi yang sopan dan memberikan pencerahan tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila dan agama, sehingga mantan narapidana tidak kembali kejalan yang salah dan muncul jiwa nasionalisme dalam dirinya.

  8. Cara berkomunikasi dengan mantan narapidana dalam rangka melakukan deradikalisasi adalah dengan melakukan komunikasi dengan baik yang bertujuan untuk memberi rehabilitasi pemikiran bagi para mantan narapidana teroris sehingga mereka tidak kembali pada jalan yang meresahkan tersebut. Serta menggunakan metode pendekatan yang baik sehingga komunikasi berjalan dengan lancar

  9. Dengan menggunakan teori komunikasi yang baik dan benar. Apabila kita menggunakan teori komunikasi yang benar dan baik, maka prosesnya akan menghasilkan sesuatu yang baik pula

  10. Dengan menggunakan cara berkomunikasi yang baik dan lembut yang tidak akan membuat mantan narapidana tersebut tersinggung. Dan di iringi memberikan arahan dan motivasi bagi mantan narapidana . Agar mereka bisa menjaga kemaslahatan bersama untuk kedepannya.

  11. Pertama kita bisa melakukan diskusi dan dialog dengan mantan narapidana agar ia bisa membuka diri untuk menerima pendapat orang lain. Setelah dia mulai membuka diri kemudian ajak dia untuk berfikir terbuka dengan argumen-argumen yang berdasarkan logika. Jika fikiran nya sudah mulai terbuka barulah kita meluruskan pemahamannya agar tidak Radikal lagi.

  12. Dengan cara tujuan-tujuan luhur dalam semua kegiatan yang orientasinya kemaslahatan umat seperti Maqâsid syari’ah al-‘āmmah didefinisikan sebagai tujuan syariah, hukum, peraturan, yang mencakup kemaslahatan umum. Sementara maqâsid syari’ah al-khāṣṣah merupakan tujuan khusus Syariah di lingkup kecil kehidupan seseorang. Sebagai contoh, sehubungan dengan hukum keluarga, ibadah individual, dan penggunaan harta individu, serta isu-isu lain pada konteks domestic.Masing-masing kebijakan publik seharusnya diarahkan pada tujuan kemaslahatan umat. Maqâsid syari’ah memiliki tujuan utama mencegah kerugian bagi manusia dan mendatangkan kemaslahatan.

  13. Melakukan komunikasi yang baik dan berupaya menetralisasikan secara mendasar bagi mereka yang terlibat terorisme hingga meninggalkan aksi kekerasan tersebut.

  14. Berkomunikasi dengan mantan narapidana teroris dan dengan mantan narapidana kasus biasa tentu berbeda , mantan narapidna kasus terorisme , mereka lebih terfokus pada pemikiran2 yang harus diluruskan sehingga untuk berkomunikasi dengan mereka dibutuhkan metode serta pengetahuan mengenai ilmu komunikasi dengan baik , serta cara yang dilakukan pun jangan terkesan menyalahkan tetapi lebih kepada mengarahkan dan membimbing ke jalan yang benar

  15. Melakukan komunikasi secara baik , lalu selain mengarahkan mantan narapidana tersebut kepada hal yang baik , disarankan juga untuk memberikan jalan-jalan ekonomi yang bisa mendukung narapidana tersebut untuk tidak kembali kepada kasus masalalunya.

  16. Dengan cara berkomunikasi dengan baik dengan bertujuan untuk memberi rehabilitasi pemikiran bagi para mantan narapidana teroris sehingga mereka tidak kembali pada jalan yang meresahkan tersebut. Serta menggunakan metode pendekatan yang baik sehingga komunikasi berjalan dengan lancar

  17. Berkomunikasi dengan menggunakan metode dan pendekatan yang baik agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam menangkap maksud dari pembicaraan

  18. Yaitu dengan melakukan komunikasi komunikasi atau pendekatan persuasif dan juga pendekatan dari hati ke hati agar dapat menyentuh sampai kehati nurani. Taktik berkomunikasi dengan mantan narapidana yaitu menekan rasa atau pemahaman agar tidak muncul kembali, Sehingga dapat menghentikan radikalisasi dari teroris tersebut.

  19. Cara kita berkomunikasi dengan dengan narapidana yaitu menggunakan pendekatan karakter. Dan juga mengarahkan narapidana tersebut kepada hal yang baik.

  20. Cara kita berkomunikasi dengan mantan narapidana yaitu menggunakan pendekatan karakter. Dan juga mengarahkan narapidana tersebut kepada hal yang baik.

  21. Dengan cara melakukan pendekatan karakter melalui nilai-nilai Pancasila dan agama, yang sifatnya menunjukkan hal-hal baik. Sehingga muncul jiwa nasionalisme dalam dirinya.
    Kemudian bisa juga berkomunikasi dengan mantan narapidana teroris dan dengan mantan narapidana kasus biasa tentu berbeda , mantan narapidna kasus terorisme , mereka lebih terfokus pada pemikiran2 yang harus diluruskan sehingga untuk berkomunikasi dengan mereka dibutuhkan metode serta pengetahuan mengenai ilmu komunikasi dengan baik , serta cara yang dilakukan pun jangan terkesan menyalahkan tetapi lebih kepada mengarahkan dan membimbing ke jalan yang benar

  22. Dengan cara melakukan komunikasi yang baik dengan bertujuan untuk memberi rehabilitas pemikiran bagi para matan narapidana teroris sehingga mereka tidak kembali pada jalan yang meresahkan tersebut. Serta menggunakan metode pendekatan yang baik.

  23. dalam komunikasi secara langsung, tentu dengan bahasa, gerak tubuh, yang baik dan hati-hati agar tidak menyinggung, bagaimana memanusiakan manusia maksudnya dengan cara yang tidak melanggar HAM, dalam komunikasi proses konseling misalnya, dapat dilakukan menggunakan pendekatan kognitif behavior.

  24. Dengan cara melaksanakan suatu metode pendekatan. Yang berawal dari kita mencari data tentang mantan napi, kemudian kita masuk dalam mereka namun dengan cara mencari titik temu tanpa menganut / ikut dalam kasus terorisme tersebut.

  25. Cara berkomunikasi dengan para narapidana teroris dalam rangka melakukan deradikalisasi adalah tentunya dengan berkomunikasi dengan baik baik dan benar serta penggunaan kata² yang baik, baik yang dimaksud disini adalah agar tidak dapat menyinggung perasaan mantan narapidana tersebut dan menggunakan metode pendekatan ideologi serta memberi arahan dan pembinaan tentang kesadaran beragama, kesadaran bernegara, kesadaran hukum, dan konseling psikologi.

  26. Yaitu berkomunikasi dengan menggunakan metode yang tepat dalam berkomunikasi dengan mantan narapidana.dengan cara seperti itu komunikasi akan maksimal .

  27. Yaitu berkomunikasi dengan menggunakan metode yang tepat dalam berkomunikasi dengan mantan narapidana.dengan cara seperti itu komunikasi akan maksimal

  28. Cara berkomunikasi dengan narapidana menggunakan metode yang tepat dalam berkomunikasi dengan mantan narapidana.dengan cara seperti itu komunikasi akan maksimal

    • Nama : Firrizqi Eka Febriyanti
      Prodi : BKI 3 B

      Menggunakan metode komunikasi yg baik. agar komunikasi dengan mantan narapidana terorisme menjalin komunikasi yg maksimal.
      Intinya, apapun yang dilakukan pemerintah maupun eksponen masyarakat dalam hal perang terhadap terorisme, punya korelasi yang kuat pada tujuan melindungi agama, nyawa, harta, akal, dan keturunan atau generasi penerus.

  29. dengan menggunakan pendekatan pendekatan yang sesuai dengan agama dan juga dasar hukum negara indonesiaterhadap mantan narapidana tanpa ada dinding pembatas. juga dengan meyakinkan bahwasanya masyarakat akan menerimanya.

    • Yaitu dengan cara melakukan komunikasi dengan baik yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman yang benar, pengamalan dan pengembangan nilai keagamaan dan memberi rehabilitas pemikiran bagi para matan narapidana teroris sehingga mereka tidak kembali pada jalan yang meresahkan masyarakat.

  30. Yaitu dengan cara melakukan komunikasi dengan baik yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman yang benar, pengamalan dan pengembangan nilai keagamaan dan memberi rehabilitas pemikiran bagi para matan narapidana teroris sehingga mereka tidak kembali pada jalan yang meresahkan masyarakat.

  31. Yaitu dengan cara melakukan komunikasi dengan baik yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman yang benar, pengamalan dan pengembangan nilai keagamaan dan memberi rehabilitas pemikiran bagi para matan narapidana teroris sehingga mereka tidak kembali pada jalan yang meresahkan masyarakat.

  32. dengan menggunakan pendekatan – pendekatan yang sekiranya bisa mudah di terima oleh mantan narapidana tersebut dan sesuai dengan peraturan penanganan mantan narapidana yang ada di indonesia tanpa melanggar hukum yang ada.

  33. dengan menggunakan cara yang sekiranya bisa mudah di terima oleh mantan narapidana tersebut dan sesuai dengan peraturan penanganan mantan narapidana yang ada di indonesia tanpa melanggar hukum yang ada.

  34. berkomunikasi dengan cara yang baik, yang mana bisa saling menerima, dan dan tidak bertujuan untuk saling menjatuhkan harga diri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru