31.7 C
Jakarta

Meme Surah al-Nisa Ayat 34; Tafsir Tekstualis-Radikalis yang Misoginis dan Tidak Ramah Gender

Artikel Trending

KhazanahPerempuanMeme Surah al-Nisa Ayat 34; Tafsir Tekstualis-Radikalis yang Misoginis dan Tidak Ramah...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Dewasa ini, perkembangan media sosial telah berhasil merambah ke pelbagai lini kehidupan, termasuk di dalamnya aspek keagamaan. Salah satu di antaranya teks Al-Qur’an dan hadis, yang juga lumrah disebut dengan istilah mediatisasi teks-teks keagamaan. Mediatisasi ini dapat ditemukan dengan berbagai bentuk seperti halnya, video, gambar, narasi di website dan yang lainnya.

Di antara bentuk mediatiasi tersebut, yang paling simpel dan banyak mewarnai media sosial ialah dalam bentuk gambar yang juga lazim disebut dengan meme. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Richard Dawkins dalam karyanya The Selfish Gene berkenaan dengan imitasi dan transmisi budaya gen, suatu sudut pandang biologi yang kemudian dibawa ke dalam ranah budaya yang selanjutnya dikenal dengan meme culture.

Seiring perkembangan kecanggihan media sosial, meme yang awalnya hanya menjadi suatu bentuk ekspresi melalui gambar, baik dalam bentuk parodi, imitasi komentar atau yang lainya, ternyata saat ini digunakan dalam konteks yang beragam. Salah satunya, menjadi media ‘empuk’ untuk menyebar paham ideologi keberagamaan.

Sebagai salah satu contoh, penyebaran paham kelompok neo-dzahiriyah (tekstualis-radikalis) tentang konsep kepemimpinan dalam keluarga yang sangat mendiskreditkan peran perempuan ‘tidak ramah gender’. Konsepsi ini disebar di media sosial dalam bentuk meme yang berdasar pada QS. al-Nisa ayat 34.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)….(QS. al-Nisa/4:34)

Dari ayat Al-Qur’an di atas, munculah berbagai meme yang bertebaran di media sosial. Terdapat banyak meme seperti ini di dunia maya yang dapat dengan mudah diunduh dan di-repost di berbagai platform media sosial.  Misalnya meme I, @keluargahamzi merupakan produser meme, namun juga di-repost di beberapa website lain. Kemudian meme II, yang dibuat oleh @abufa.studio, namun juga di-repost di akun facebook inkscape for dakwah. Begitupun dengan yang lainnya, siklus tersebut terus berjalan hingga penyebarannya bisa sangat masif.

Secara sederhana, mungkin orang akan beranggapan narasi yang ada pada meme-meme tersebut tidak memuat problem yang serius. Namun, ketika kita coba melakukan pembacaan kritis maka anggapan itu tidak akan muncul melihat adanya morif dari kelompok neo-dzahiriyah (tekstualis-radikalis) yang ingin melakukan upaya revitalisasi sebagai respon atas langgengnya konsepsi gender era kontemporer.

Argumen penulis di atas, berdasar pada analisa ilustrasi yang ada pada meme beserta caption-captionya. Menguraikan itu, mari coba kita kembali ke meme I dan meme II.  Pada (meme I) produser meme membuat sebuah ilustrasi sosok laki-laki yang berada di depan perempuan dengan posisi melentangkan tangannya yang menunjukan agar sang istri/perempuan tidak mendahului suaminya/laki-laki. Terlihat sederhana namun memuat narasi-doktrinal yang sangat mendiskreditkan peran perempuan dalam keluarga.

Kemudian, pada (meme II) produser meme membuat ilustrasi sosok laki-laki dan perempuan sementara berlayar dan yang menjadi nahkoda kapalnya adalah laki-laki sedangkan perempuan hanya berdiam diri dan mengikut kepada laki-laki ke mana pun arah kapal akan dibawanya. Tidak jauh berbeda dari meme I, juga memuat narasi doktrinal, diskriminasi peran perempuan dalam keluarga. Berangkat dari narasi-narasi tersebutlah, penulis mengklaim jenis meme seperti di atas sebagai tafsir tekstualis-radikalis atas qs. al-Nisa ayat 34 yang tidak ramah gender.

BACA JUGA  Selain Perempuan, Anak Juga Harus Dicegah Jadi Kombatan Teror

Lantas pertanyaannya kemudian, bagaimana narasi-narasi seperti itu bisa muncul? untuk menjawab itu mari coba kita kembali melihat caption meme I, II dan III.  Pada meme I (lihat, lelaki-adalah-pemimpin-bagi-wanita.html) , caption yang dihadirkan ialah tafsir qs. al-Nisa ayat 34 oleh ulama klasik, seperti al-Tabari, Ibn Abi Hatim dan Ibnu Kasir. Kemudian, pada meme II (lihat, id. Pinterest.com; pin on quran, hadis & advices) dan III (lihat, Facebook Inkscape for dakwah) produser meme hanya menyertakan terjemah ayat qs. al-Nisa ayat 34.

Setidaknya ada dua poin yang bisa kita garis bawahi dari caption-caption tersebut. Pertama, tidak berlebihan jika penulis mengklaim bahwa, akibat dari motif kepentingan ideologis nilai objektifitas menjadi tertutupi, hal ini terlihat dari keengganan produser meme untuk melihat pandangan mufassir kontemporer seperti Quraish Shihab, Buya Hamka dan yang lainnya. Namun, bukan berarti penulis mengklaim tafsir klasik menjadi penyebab utama munculnya narasi tekstual-radikal ini (tidak sama sekali).

Hemat penulis, penyebab narasi seperti ini muncul akibat dari pembacaan yang tidak komprehensif oleh para produser meme terhadap tafsir kalsik, mulai dari pertimbangan masa hidup penafsir; realitas sosial, latar belakang penafsiran dan yang lainnya. Boleh jadi,  produser meme juga tidak dapat mengidentifikasi mana kutipan dan mana pandangan murni penafsir. Apa lagi pembacaan seputar tafsir kontemporer.

Kedua, selain diakibatkan oleh subjektifitas akibat dari kepentingan ideologis dan pembacaan yang sangat parsial. Munculnya meme tekstualis-radikalis ini juga disebabkan banyaknnya produser meme hanya berdasar pada makna terjemah ayat kemudian langsung membuat meme, hal ini terlihat dari  caption yang ada pada meme II dan III. Sehingga tidak heran jika narasi seperti ini bisa muncul.

Tiga meme yang penulis hadirkan dan uraikan di atas, hanya sebagai sampel untuk menyoroti fokus pembahasan ‘tafsir tekstualis-radikalis yang tidak ramah gender’. Agar orang-orang yang aktif bermedia sosial bisa lebih kritis dalam menyebar meme yang sejenis, sebab jangan sampai kita malah ikut andil melanggengkan konsepsi yang ingin dibangun oleh kelompok ini.

Sebagai tawaran dalam tulisan ini, setidaknya ada dua poin yang ingin penulis sampaikan. Pertama, sudah waktunya para akademisi yang paham agama ikut andil untuk membuat meme-meme sejenis sebagai counter naratif  terhadap upaya revitalisasi kelompok neo-dzahiriyah (tekstualis-radikalis) yang sudah mulai mendominasi di media sosial.

Kedua,  konsep meme surah al-Nisa ayat 34 yang tepat dalam pembacaan penulis ialah meme yang memuat nilai moderasi kepemimpinan dalam keluarga. Antara suami/laki-laki dan istri/perempuan masing-masing punya peran sentral dalam suatu keluarga, sederhananya relasi dalam sebuah keluarga itu merupakan relasi partisipatif bukan dominatif. Selengkapnya silahkan baca tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Muh. Rizaldi
Muh. Rizaldi
Mahasiswa Magister Ilmu al-Qur'an dan Tafsir - Konsentrasi Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru