27.2 C
Jakarta

Membunuh Hantu-Hantu Khilafah di Balik Narasi Ajakan Menuju Surga

Artikel Trending

KhazanahTelaahMembunuh Hantu-Hantu Khilafah di Balik Narasi Ajakan Menuju Surga
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Apa konsekuensi logis ketika ketika kita melakukan kebaikan, menjalankan perintah Allah? Atas izin Allah, selepas kita hidup di dunia, imbalan yang kita dapatkan adalah surga. Adanya surga dan neraka semacam menjadi konsekuensi logis bagi manusia ketika diajak untuk melakukan kebaikan. Mengajak kebaikan, misalnya. Narasi yang paling kuat agar bisa mengajak seseorang melakukan kebaikan bersama adalah surga. Mengapa? Karena setiap orang, berlomba-lomba melakukan kebaikan di dunia, salah satu harapan terbesarnya adalah mendapatkan surga atas kasih sayang dan rahmat Allah.

Argumen di atas nyatanya tidak sejalan dengan yang dirasakan oleh Rabiatul Adawiyah, seorang sufi perempuan yang dikenal dengan perilaku dan sikap kecintaan luar biasa kepada Allah Swt.

“Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka. Bukan pula karena mengharap masuk surga. Tetapi aku mengabdi karena cintaku pada-Nya. Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, tutuplah pintu surga itu.”

Kecintaan kepada Allah, bagi Rabiatul Adawiyah tidak berbanding lurus dengan keinginan mendapatkan surga ataupun dijauhkan dari neraka. Substansi dari kecintaan yang dimiliki oleh seorang sufi perempuan ini, benar-benar cinta yang berharap pada rahmat dan kasih sayang Allah Swt. Mampukah kita menjadi sosok Rabiatul Adawiyah masa kini? sebuah refleksi kritis dan sangat mendalam untuk kita renungi.

Mengajak Kebaikan Kepada Sesama Manusia

Fastabiqul khairat (Berlomba-lombalah dalam kebajikan) merupakan sebuah kalimat yang ada di dalam Al-Qur’an. Artinya, penggalan isi yang tercantum ini merupakan sebuah warning kepada manusia untuk terus berupaya melakukan kebaikan. Maka menjadi sebuah kewajaran ketika kita mendengar, hari ini harus lebih baik dari kemarin, jika tidak baik dari kemarin, setidaknya tidak boleh lebih buruk dari kemarin. Begitulah kalimat yang sering kita dengar ketika mendapatkan petuah tentang upaya-upaya yang bisa kita lakukan untuk memaknai kehidupan dengan melakukan kebaikan secara maksimal.

Narasi tentang kebaikan ini, seperti misalnya menuju ramadan, tips dan trik keluarga salihah untuk memaksimalkan puasa supaya mendapat berkah dari Allah Swt, dilakukan sangat licik oleh para aktivis khilafah dengan melakukan propaganda yang sesuai dengan visi besarnya. Mendekati ramadan ini, narasi yang digencarkan oleh aktivis khilafah adalah upaya kebaikan yang bisa dilakukan oleh keluarga untuk menuju surga.

Narasi tersebut tidak berhenti pada upaya untuk menuju surga saja. Akan tetapi juga bersambung pada ajakan untuk melakukan kebaikan secara kaffah, mulai dari keluarga, hingga negara. Narasi kebaikan yang dimaksud adalah bagaimana memperoleh surga juga bisa dilakukan dengan ikut serta meyakini bahwa kesejahteraan sebuah negara bisa dilakukan dengan menerapkan syariat Islam. Bukankah ini upaya cuci otak yang sangat nyata?

BACA JUGA  Nasib Anak Teroris, Hidup di Antara Harapan dan Trauma

Belum lagi dengan upaya-upaya lain yang dilakukan oleh para aktivis khilafah ketika ramadan. Mengadakan tadarus khilafah yang memuat pesan-pesan diplomatis, sejarah yang dipelintirkan sesuai dengan kepentingan para aktivis khilafah. Fenomena ini benar-benar terjadi di sekitar kita. Jika kita tidak jeli membaca dan mencermati setiap narasi ajakan kebaikan menuju surga, yang dikoar-koarkan oleh para aktivis khilafah, kita akan jatuh untuk memahami makna yang sama, seperti yang disampaikan.

Aktivis khilafah ini selalu memanfaatkan setiap momentum, diantaranya:

Pertama, peringatan bulan-bulan yang ada kaitannya dengan khilafah, menjadi momentum ciamik untuk menyebarkan refleksi keberadaan khilafah. Bulan Maret, misalnya. Diperingati bulan keruntuhan khilafah. Narasi yang disebarkan oleh aktivis khilafah adalah refleksi ketiadaan khilafah di dunia, dengan contoh-contoh kehancuran, kesengsaraan yang dirasakan oleh masyarakat, serta ajakan untuk membangkitkan khilafah demi kejayaan Islam.

Kedua, dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan, narasi yang dilakukan oleh aktivis khilafah adalah propaganda. Terjadinya korupsi, bencana alam di suatu daerah, serta berbagai sisi negatif dari pemerintahan, selalu disebut kehancurannya dengan alasan tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Narasi tersebut pasti sering kita baca di berbagai kanal media sosial.

Ketiga, update soal isu terkini. Tidak bisa dipungkiri bahwa kepopuleran aktivis khilafah dalam gerakannya, didasari oleh narasi yang tersebar karena mengupas isu-isu terkini. Bahkan, isu yang kadang jauh kaitannya dengan khilafah, selalu menemukan titik temu untuk mendongkrak popularitas isu khilafah. Isu Fajar sad boy, misalnya. Para aktivis khilafah mengambil sudut pandang bahwa, tidak perlu menjadi sad boy karena cinta, sebab anak muda hanya perlu berlomba-lomba cinta kepada Allah. Selain narasi tersebut, ada pula narasi bahwa, hadirnya Fajar sad boy adalah konsekuensi logis dari sistem sekuler sehingga menyebabkan anak muda jauh dari Islam. Brilliant bukan? Begitulah aktivis khilafah melakukan propaganda.

Ada satu kalimat yang masih saya ingat dari para aktivis khilafah. Katanya, khilafah memaksa kita untuk masuk surga. Artinya, dengan tegaknya khilafah kita akan akan masuk surga. Padahal, ada banyak cara untuk masuk surga tanpa menegakkan khilafah di Indonesia. Wallahu a’lam.

Muallifah
Muallifah
Aktivis perempuan. Bisa disapa melalui Instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru