31.7 C
Jakarta

Membumikan Islam Cinta Damai dan Kontra Radikal

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMembumikan Islam Cinta Damai dan Kontra Radikal
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Beberapa waktu lalu, sempat tersiar pernyataan yang kontroversi dari mantan menag Fachrul Razi. Mulai dari pernyataannya tentang pelarangan cadar dan celana cingkrang, juga bahwa paham radikalisme, kebalikan Islam yang cinta damai, akan muncul dari sosok good looking, seperti seorang anak yang menguasai bahasa Arab dan hafal al-Qur’an.

Pernyataan yang sangat kontroversi ialah pesantren sebagai wadah bibit radikalisme. Pernyataan lantas mendapat kritikan keras dari komisi VIII DPR RI dalam rapat yang bertajuk: “agen radikalisme good looking”. Salah satu dari mereka meragukan keislaman mantan menag tersebut, wajar mantan menag secara babis keilmuan agama tidaklah memadai.

Terbukti dengan beberapa pernyataannya yang selalu menuai kontroversi. Akhirnya menag tersebut di-reshuffle, digantikan oleh sosok yang kompeten dan notabennya memiliki basis keilmuan pesantren, yaitu Gus Yaqut.

Kehadiran pesantren bersamaan dengan lahirnya bangsa Indonesia yang mana dikala itu penduduk pesantren; kiai beserta para santri memiliki peran dan kontribusi besar terhadap arah bangsa. Keunikan dan kedewasaan pesantren mampu melewati satu masa ke masa lainnya.

Pesantren memiliki peran ganda yakni sebagai display wajah Islam yang santun, damai dan mendamaikan. Termasuk ciri khas pesantren adalah sebagai tempat pendidikan keagaamaan. Pengajaran agama Islam di pondok pesantren merupakan tradisi luhur di Indonesia. Bahkan tradisi-tradisi keagamaan yang dimiliki pesantren sebenarnya ciri khusus yang harus dipertahankan.

Hal ini juga tercermin dari tujuan utama pesantren untuk mencetak kader ulama yang mumpuni dalam bidang agama serta mengembangkannya. Teringat dawuh salah satu ulama kenamaan di jawa timur – termasuk santri kinasih Mbah Khalil Bangkalan – yaitu Hadratus Syeikh K.H. Zaini Mun’im beliau merupakan pendiri sekaligus pengasuh pertama PP. Nurul Jadid.

Beliau menyatakan dalam mendirikan pesantren tidak hanya untuk mencetak kiai, namun beliau berkeinginan para santri mampu berkiprah di segala lini aparatur masyarakat. Hemat penulis tujuan beliau tidak lain hanyalah untuk mensyiarkan nilai-nilai Islam cinta damai yang sering di-framing negatif khalayak umum.

Diakui atau tidak, dewasa ini, terma Islam Rahmatan Lil Alamin sangat relevan dengan kondisi global yang anti-damai, penuh kekerasan dan bahkan mendukung radikalisme. Ironisnya, kondisi global ini seolah diamini oleh dogma agama pro-kekerasan dan anti-damai tersebut.

Agama diangankan sebagai penebar kekerasan, radikalisme, penyokong perang dan seterusnya. Stigma negatif agama terlanjur merebak ke mana-mana, bahkan beberapa pihak menyebut Islam sebagai agama pedang dan agama perang. Mindset tersebut tumbuh dari pemahaman yang keliru yang hanya memandang bagian kecil dari Islam seperti ISIS.

Padahal paham ISIS bukanlah Islam yang sebenarnya melainkan Islam bajakan, karena Islam yang sesungguhnya ialah Islam yang cinta damai dan penuh kasih sayang, yang lebih akrab dikenal dengan Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

Merupakan tugas utama kita lebih-lebih para generasi muda yang notabennya memadai dalam keilmuan agama Islam -bisa dibilang santri, karena merekalah para generasi penerus yang dibekali ilmu keagamaan yang cukup komprehensif, karena menjadi santri tidak melulu dituntut memahami ilmu agama, namun harus mempunyai bekal keterampilan yang komprehensif sehingganya dapat membangun muslim yang kuat serta cinta damai.

BACA JUGA  Radikalisme: Genealogi dan Ancaman Nalar Berpikir yang Harus Diperangi Bersama

Untuk itu diharapkan bisa menyebarkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin ke seantero penjuru dunia. Islam harus mampu menebarkan rahmat (kasih sayang) pada seluruh makhluk pribumi. Islam harus menorehkan harapan damai dan keselamatan pada semua manusia di muka bumi ini, tanpa melihat jenis kelamin, tempat tinggal, suku, agama, aliran dan yang lainnya. Islam harus hadir dengan membawa misi keselamatan, ketenteraman dan kedamaian hidup.

Ajaran Islam Rahmatan lil ‘Alamin bukan hal baru dalam konsep pemikiran Islam dan memiliki basis yang dalam pada teologi Islam. Konsep Islam Rahmatan Lil Alamin telah dikampanyekan beberapa tahun silam tepatnya pada tahun 2006 oleh KH. Hasyim Muzadi ke seluruh belahan dunia, sejak kepemimpinannya di NU, baik bersama Gerakan Moral Nasional atau Internasional Conference of Islam Scholars (ICIS).

Dalam rangka membangun gagasan Islam Rahmatan lil ‘Alamin, yang erat kaitannya dengan isu-isu kemanusiaan, Kiai Hasyim Muzadi menggunakan dua model pendekatan, yaitu: Pertama, pendekatan normatif-idealis, yang dimaksudkan ialah bahwa gagasan Islam Rahmatan lil ‘Alamin mengacu kepada norma-norma atau ajaran yang bersumber dari ajaran Islam yang ideal, yaitu: al-Qur’an dan hadis.

Kedua sumber ini adalah sumber utama yang dijadikan rujukan oleh masyarakat Islam dalam memecahkan pelbagai persoalan. Kedua, pendekatan historis-empiris. Pendekatan ini digunakan setelah melihat dengan cermat dan seksama bagaimana sebenarnya ajaran ideal-normatif Islam. Kemudian selanjutnya bagaimana realitas yang terjadi dalam gugusan empiris.

Ternyata pada data empiris masih membuktikan bahwa pemahaman pada ajaran atau nilai-nilai dalam Islam masih terdapat disparitas yang sangat lebar antara tataran idealitas dengan realitas, sehingga bermunculan paham-paham radikalisme yang Pro-Radikal dan Kontra-Perdamaian, yang mana paham tersebut muncul karena pemahaman yang keliru dalam memahami ajaran Islam.

Hal ini biasanya didasari dengan pemahaman Islam dalam bingkai pemahaman yang ekslusif. Paham tersebut membentuk sebuah sikap keagamaan yang menganggap bahwa satu-satunya agama yang benar hanya keyakinan yang dipeluknya sehingga menimbulkan sikap tidak toleran (intolerance) terhadap keberadaan agama lain.

Kendatipun Islam cinta damai dan kontra-radikal sudah beberapa tahun silam dikampanyekan, para generasi penerus secara umum, khususnya para santri  sangat diharapkan untuk menjadi agent of peace (agen perdamaian) di tengah-tengah pergulatan paham radikalisme pada zaman ini guna membumikan Islam Cinta Damai dan Kontra-Radikal.

Kontribusi yang bisa mereka sumbangsihkan untuk saat ini ialah mempelajari paham Islam Rahmatan lil ‘Alamin secara utuh dengan literatur-literatur turats yang berhaluan paham Ahlussunnah Wal Jamaah. Sehingga tidak akan timbul pemahaman eksklusivisme akan agama Islam dan juga para generasi penerus serta santri harus memiliki wawasan pendidikan multikultural, yang menekankan wawasan budaya, toleransi, musyawarah, anti kekerasan, keadilan, egaliter, inklusif, tidak gampang menjustifikasi.

Perang pemahaman keagamaan tidak hanya terjadi pada kehidupan nyata. Di dunia maya pun pergulatan tersebut sangat keras sekali, bisa disebut dengan SosMed Wars (Perang Media Sosial), seperti Tweet Wars (Perang Tweeter) dan semacamnya. Tentunya dakwah yang disampaikan harus dengan santun yang berbudaya agar paham Islam yang sebenarnya dapat tersampaikan secara utuh dengan tetap bersikap: tawassuth (moderat), i’tidal (tegak), tasammuh (toleran) dan tawazun (seimbang).

Mustain Barca
Mustain Barca
Freelancer

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru