26.3 C
Jakarta
Array

Membongkar Khilafah HTI Hingga ke Akarnya

Artikel Trending

Membongkar Khilafah HTI Hingga ke Akarnya
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Membongkar Khilafah HTI Hingga ke Akarnya
oleh: Lufaefi*

Jargon khilafah yang diusung Hizbut Tahrir (HT/HTI) di berbagai belahan dunia menjadi isu sentral yang sudah, sedang dan akan terus dihadapi dengan banyak memeras keringat. Kepemimpinan dengan maksud menerapkan aturan Islam untuk seluruh dunia menjadi pro-kontra di tengah-tengah masyarakat. Khusus di Indonesia – jargon khilafah ini – merebak ketika Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) semakin gencar mengkampanyekan ide khilafahnya di berbagai belahan daerah Indonesia pada dasawarsa 2004-2017.

Secara tersirat, latar belakang di ataslah yang menjadikan buku Khilafah HTI dalam Timbangan tersebut lahir. Buku yang merupakan hasil disertasi seorang doktor UIN Sunan Ampel ini dibuat dengan begitu kuat menggunakan referensi dari ulama klasik dan modern serta literatur HT/HTI langsung, sehingga karya ini patut dijadikan sebagai bahan bacaan bagi siapa saja yang ingin mengetahui seperti apa Hizbut Tahrir (HT/HTI) secara akurat dan mengetahui bagaimana implikasi atas ide khilafahnya. Dalam buku karangan Ainur Rofiq ini seluk-beluk dan gerakan kelompok yang mencita-citakan Negara Islam tersebut disorot sedemikian dalam sampai ke akar-akarnya. Dengan penulisanya sebagai mantan HTI, setiap kalimat yang dicatatkan dalam buku terbitan Pustaka Harakatuna tersebut tergambar jelas bagaimana Hizbut Tahrir yang sebenarnya, bagaimana tentang jargon khilafahnya, dan bagaimana kita harus menyikapi ideologi transnasional tersebut.

HT/HTI Lahir Sebab Kemunculan Israel

Sebagaimana masyhurnya bahwa HT lahir sebab berkeinginan mendirikan khilafah. Dan itulah yang ditemukan selama ini perihal HT di berbagai negara, seperti di Suria, Yordania, Palestin dan negara lainnya. Akan tetapi Ainur dalam bukunya mengkritik tegas bahwa awal mula kelahiran HT di Palestina bukan sebab khilafah yang telah tumbang, tetapi karena Israel telah berdiri yang diketahui akan menjajah Palestina pada tahun 1948. Alasannya bahwa hancurnya khilafah ialah pada tahun 1924, dan HT lahir pada tahun 1953. Dari tahun-tahun tersebut didapati bahwa HT lahir mendekati tahun Penjajahan Palestina, bukan tahun ketika khilafah tumbang. Padahal pada tahun 1932 Syaikh Taqi Al-Din An-Nabhani (pendiri HT) telah memperoleh gelar doktor dari Al-Azhar, yang semeskinya dengan kepiawaian dan keilmuannya – jika HT lahir sebab khilafah – HT lahir mendekati waktu tumbangnya khilafah, bukan penjajahan Palestina. Maksudnya bahwa Syaikh Taqi Al-Din An-Nabhani mendirikan HT untuk menentang penjajahan yang dilakukan oleh Palestina, dan berdirinya HT bukan sebagai jalur untuk kembali mendirikan khilafah.

Analisis-Kritis dan Bombastis

Buku ini sangat bagus untuk dikonsumsi. Dengan pengaragnya sebagai mantan HTI, seluk beluk HT dari mulai metode yang dilakukan oleh Hizbiyyin (sebutan anggota aktif HT) dalam usaha mengembalikan khilafah hingga struktur negara Islam versi HT, semua dikemas dengan sangat lengkap dan komprehensif. Bukan hanya itu, di setiap akhir pembahasan sub bab Ainur juga memberi analisa dan kritik yang sangat menohok terhadap gerakan HT/HTI tersebut. Seperti misalnya tentang khalifah dan ketaatan, Ainur menjelaskan dengan sangat rinci perihal hak dan kewajiban antar seorang khalifah dan umatnya. Di akhir pembahasan tentang sub bab tersebut Ainur memberi penjelasan bahwa seorang khalifah harus ditaati oleh umatnya, walau telah berbuat maksiat di depan publik. Segala apa saja perintah khalifah meski dituruti, tanpa terkecuali. Di sinilah sikap otoriter seorang pemimpin berkemungkinan besar akan selalu muncul. Kebal kritik yang dimiliki seorang khalifah dalam Negara Islam versi HT/HTI akan melemahnya kepercayaan dan bahkan ketaatan umat kepada khalifahnya sendiri.
Begitulah metode penulisan di dalam buku seorang Mantan HTI tersebut. Dengan pengalaman langsung dan merasakan langsung hidup dalam nanungan HTI, ia berhasil mengurai benang kusut khilafah HT/HTI dalam setiap bab dan sub bab buku tersebut. Kritik bombastis dengan bahasa yang santun juga menjadi ciri bagi model analisa Ainur dalam buku tentang khilafahnya.

Landasan Ideologis Khilafah

Dalam buku karangan Mantan HTI tersebut juga dipaparkan dengan gamblang landasan keyakinan HTI untuk menegakkan kembali khilafah di muka bumi ini. Ada tiga landasan yang diyakini HT dalam semangat berkhilafahnya. Pertama, landasan filosofis. Menurut HT, Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. Semua umat mengakui bahwa Islam adalah agama kamil dan shamil, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menjadikan Islam sebagai aturan hidup. Kesempurnaan aturan Islam akan bisa diterapkan – menurut keyakinan HT/HTI –  hanya dengan khilafah. Meskipun menurut Ainur pernyataan demikian terlalu gegabah, sebab Islam dengan khilafah tidaklah sama. Islam bisa menjadi kaffah tanpa harus dengan khilafah. Islam adalah agama luhur, sementara khilafah hanyalah satu model politik belaka. Kedua, landasan normatif. Landasan ini berdasarkan al-Quran, al-Hadits dan ijma’ sahabat. Menurut HT, ketiganya telah banyak melegalkan perintah menjadikan Islam sebagai aturan seluruh sendi kehidupan. Akan tetapi bagi Ainur, pernyataan tersebut terlalu jumping conlusion. Al-Quran dan al-Hadits serta ijma’ sahabat sudah pasti memerintahkan kita menjadikan Islam sebagai aturan hidup, akan tetapi tidak ada sedikitpun perintah mendirikan khilafah. Aturan Islam bisa terealisasikan tanpa harus berkhilafah. Dan ketiga, landasan historis. Menurut HT/HTI, sejak zaman Nabi sampai tumbangnya khalifah Utsmani, yang menjadi sistem pemerintahan dan kehidupan adalah khilafah islamiyah untuk seluruh dunia. Sehingga kejayaan dan kesempurnaan umat pun mampu untuk dijunjung dan inilah yang harus diteruskan pada saat ini. Dalam masalah ini Ainur juga membongkar keteledoran berfikir tersebut. Sebab menurut Ainur, dalam lintasan sejarah, sistem khilafah tidak selalu satu. Dari zaman Nabi hingga Khalifah Utsmani juga sering terputusnya model kepemimpinan; tidak langgeng, dan tidak semua kepemimpinan dari Nabi hingga Khalifah Utsmani menggunakan nama khilafah.

NKRI Harga Mati, Khilafah Mati Harga

Buku yang lahir dari rahim akademis ini pada akhirnya menuntun pembacanya untuk menengok kembali hakikat khilafah dengan NKRI. Apa yang diperjuangkan HT (khususnya HTI jika di Indonesia) menggantikan NKRI dengan khilafah adalah sebuah kelakuan yang sangat mengganggu kehidupan bernegara dan berbangsa. Kelakuan tersebut bahkan menghianati kesepakatan para pendiri negara. Ainur Rofiq dalam bab terakhir bukunya memaparkan, “Eksas HTI pada akhirnya sangat merugikan dan sekaligus mengingkari cita-cita founding-father negara Indonesia yang mendasari pada kebhinekaan dan kearifan budaya masyarakat”. Ideologi usang khilafah sungguh tidak pantas dan tidak ada tempatnya di NKRI ini. Apa yang harus dilaksanakan oleh anak bangsa sekarang adalah mengisi kemerdekaan NKRI dengan memperbaiki kekurang sempurnaan, bukan bermimpi berkhilafah, karena hal itu hanyalah fiktif yang tidak berlandaskan pada pemikiran yang matang.
Karya lulusan doktor UIN Sunan Ampel ini sungguh menarik untuk ditelaah dan dikaji di dunia akademisi atau masyarakat umum, meskipun dalam buku warna hijau-hitam ini tidak terlalu rinci dalam memaparkan tentang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), seperti jumlah anggota HTI di pengurus pusat, wilayah, dan daerah. Di dalamnya juga tidak nampak penjelasan apa yang meski dilakukan oleh pemerintah dan organisasi masyarakat Islam selain HT dalam merangkul kembali para anggota dan aktivis HTI (setelah HTI resmi dibubarkan di Indonesia) untuk tetap berdakwah tetapi dalam bingkai NKRI.

Buku ini cukup komprehensif untuk dijadikan rujukan dalam mengenal dan mengetahui seluk beluk gerakan HT/HTI. Yang paling penting adalah sebagai media bacaan bagi siapa pun yang masih mencintai bangsa dan negara Indonesia untuk sadar bahwa NKRI ialah sudah harga mati, sedangkan khilafah telah mati harga sebab tidak relevannya konsep tersebut dengan sosio-kultural bangsa ini. Dengan pengarangnya sebagai Mantan dan aktivis HTI, buku ini tidak diragukan lagi sebagai pedoman kehidupan di NKRI dalam menolak ideologi transnasional pengusung khilafah yang akan merugikan bangsa dan negara.

Judul Buku : Khilafah HTI dalam Timbangan
Pengarang : Ainur Rofiq Al-Amin
Penerbit   : Pustaka Harakatuna
Tahun Terbit : 2017
Halaman : 320 Halaman
Ganre : Pemikiran Islam
ISBN : 978-602-61885-1-9

*Penulis adalah peserta Gebyar Lomba Resensi Buku Nasional Khilafah Hizbut Tahrir Indonesia

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru