Membincang Keafdalan Puasa Muharam


0
2 shares

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia (asyhur al-hurum). Kemulian itu juga menjalar pada ibadah-ibadah tertentu pada bulan itu. Salah satunya adalah ibadah puasa. Sebagaimana hadis berikut:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل)) رواه مسلم

Puasa terbaik setelah Ramadan adalah puasa bulan Muharam (HR. Muslim)

Senada dengan di atas hadis yang diriwayatkan oleh al-Nasa’i berikut:

عن جندب بن سفيان رضي الله عنه قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول (( إن أفضل الصلاة بعد الفريضة الصلاة في جوف الليل وأفضل الصيام بعد رمضان الذي تدعونه المحرم)) رواه النسائي

Shalat terafdal setelah shalat fardhu adalah shalat malam. Sedangkan puasa terafdal setelah Ramadan adalah bulan yang kalian sebut dengan Muharam. 

Hadis ini kemungkinan maksudnya adalah berpuasa sunah sebulan penuh di bulan Muharam sebagaimana halnya puasa Ramadan. Oleh karenanya berpuasa beberapa hari saja di bulan Muharam tidak lebih afdal dari puasa pada hari tertentu yang sudah masyhur dan sahih untuk dipuasai seperti hari Arafah, enam hari bulan Syawal dsb.

Maksud hadis tersebut dikuatkan oleh riwayat Ahmad dan al-Tirmidzi dari Ali bahwa suatu ketika ada seseorang sowan kepada Nabi Muhammad saw ingin menanyakan bulan yang afdal untuk ia berpuasa selain bulan Ramadan. Rasulullah saw pun menjawab, Jika kamu ingin puasa sebulan penuh setelah Ramadan maka berpuasalah pada bulan Muharam. Sebab Muharam itu bulan Allah. Pada bulan itu Allah menerima taubat banyak kaum. (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi).

Akan tetapi maksud pendapat di atas bisa dibantah dengan fakta sejarah bahwa yang Nabi Muhammad saw dipuasai penuh selain bulan Ramadan adalah bulan Sya’ban. Tidak ada riwayat yang menyatakan Nabi saw pernah berpuasa Muharam sebulan penuh. Nabi saw berpuasa Muharam hanya pada hari Asyura saja (hari kesepuluh). Ini bisa dimengerti dari sabda beliau saw, jika aku masih hidup hingga tahun depan aku akan berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharam).

Bantahan di atas bisa dijawab dengan puasa sunah mutlak memang paling afdalnya bulan Muharam. Sebagaimana shalat sunah mutlak yang paling afdal adalah qiyâm al-lail (shalat malam). Lalu puasa sunah di bulan Syawal dan Sya’ban bukanlah puasa sunah mutlak. Melainkan puasa yang ikut dalam satu ‘paket’ dengan puasa Ramadan. Sya’ban sebelum Ramadan. Sedangkan Syawal selepas Ramadan. Sehingga semuanya mempunyai keafdalan dari sisi masing-masing. Muharam dengan keafdalan puasa sunah mutlak. Adapun Sya’ban menjadi istimewa karena melatih diri untuk menyongsong puasa Ramadan.     

Keafdalan puasa Muharam karena Muharam sendiri merupakan bagian dari asyhur al-hurum (bulan-bulan mulia). Bahkan Muharam diduga kuat sebagai bulan asyhur al-hurum terafdal dibanding tiga bulan syhur al-hurum lainnya.

Baca Juga:  Menyegarkan Esensi Islam dan Rutinitas Shalat

Dalam riwayat yang lainnya disebutkan bahwa berpuasa sehari saja pada bulan Muharam senilai dengan pahala puasa 30 hari.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((من صام يوما من المحرم فله بكل يوم ثلاثون يوما)) أخرجه الطبراني بإسناد لا بأس به

Orang yang berpuasa sehari di bulan Muharam akan mendapat pahala puasa 30 hari (HR. al-Thabrani).

Wallahu Aʻlam


Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.