34.2 C
Jakarta

Membela Pancasila untuk Meremukkan Indonesia

Artikel Trending

Milenial IslamMembela Pancasila untuk Meremukkan Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Pada bagian sebelumnya, sudah diulas panjang, bahwa di balik polemik RUU HIP yang direspons berbagai pihak, ada yang mengambil untung dengan memelintir keadaan: para aktivis khilafah. Mereka menjadikan Pancasila sebagai umpan menjelekkan pemerintah: bahwa Pancasila tak berdaya di hadapan kapitalis, bahwa falsafah tersebut ditafsirkan sekehendak rezim penguasa.

Meski dalam konteks asli RUU HIP murni adalah usul badan legislasi (Baleg) DPR Indonesia, utamanya fraksi PDI-P, namun kritik meluas hingga upaya memakzulkan Jokowi. Pada Rabu (24/6) kemarin, digelarlah aksi, di depan gedung DPR, Jakarta. Para demonstran berteriak seakan membela Pancasila, sembari berteriak takbir dan melambaikan bendera putih-hitam HTI.

Massa yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Komunis (ANAK) terdiri dari PA 212 dan FPI. Tidak disangkal juga keterlibatan para dedengkot eks-HTI di dalamnya. Mereka menuntut pemerintah tidak hanya menunda pembahasan RUU HIP, melainkan menghentikannya. Mereka juga mengatakan akan menumbangkan Jokowi jika bersekongkol melegalkan Trisila. Apakah mereka paham arti Trisila sebenarnya? Diragukan.

Dilansir Kompas, ribuan demonstran tersebut banyak yang tidak mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi. Tidak bermasker, juga berkerumun. Hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat disayangkan, sekaligus memalukan sebab polemik yang dituntut tidak benar-benar mereka pahami, kecuali kekhawatiran bangkitnya komunisme yang sebenarnya wacana belaka.

Mereka membela Pancasila, tetapi mengibarkan bendera ideologi transnasional. Mereka berorasi Pancasila, tetapi tidak hafal bunyi sila keempat, sebagaimana tersebar melalui video pendek di grup-grup WhatsApp. Tidak dipungkiri lagi, sebenarnya aksi mereka tidak benar-benar demi Pancasila. Mereka membela Pancasila, justru, untuk menegakkan khilafah, meremukkan Indonesia.

Sebagaimana aksi-aksi yang sudah berlalu, oleh demonstran yang sama, aksi di DPR kemarin hanya merupakan agenda para petinggi ormas. Sementara para peserta aksi hanya ikut-ikutan, nihil gagasan segar, dan bertaklid buta. Alhasil, yang harusnya serius dan menegangkan, aksi tersebut menjadi ajang lucu dan memalukan. Aksi yang lucu ini, lucunya lagi, tidak terjadi sekali saja.

Aksi Bela Pancasila yang Lucu

Bahwa kekompakan umat Islam merupakan kunci, adalah sesuatu yang benar secara mutlak. Tetapi, di sini perlu digarisbawahi, musyawarah adalah jalan yang diajarkan Al-Qur’an. Musyawarah hendaknya tidak dipahami sebagai langkah kompromi, dan terkesan lemah daripada demo, melainkan agar duduk persoalan benar-benar dipahami. Agar tidak memalukan, tentunya.

Umat Islam harus mengubah cara mereka berjuang untuk kebenaran. Tidak mengandalkan otot, massa, dan orasi yang tidak jarang keluar konteks masalah utama. Ada masalah sedikit, demo. Alangkah baik bila demonya sedikit, bukan sedikit sedikit demo. Bukannya memalukan jika sampai ada yang berkomentar, melihat kerumunan demonstran, “Pasti umat Islam lagi pelakunya, kan?”

Dalam tulisannya, Soekarno, Trisila, dan Pancasila, Syaiful Arif, Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila menegaskan, sosio-nasionalisme, poin pertama Trisila, tidaklah berarti nasionalisme sosialis-komunis sebagaimana dituduhkan, melainkan “nasionalisme welas asih (socius) yang membasiskan perjuangan nasional di atas kesadaran akan ketimpangan sosial.”

BACA JUGA  Beragamalah dengan Rasional di Tahun Politik

Kata ‘sosio’ dalam sosio-nasionalisme, kara Arif, adalah ‘masyarakat’, sehingga dasar sosio-nasionalisme adalah kesadaran akan ketertindasan masyarakat. Makna sosio sebagai masyarakat ini juga diidealkan terhadap poin kedua Trisila, yaitu sosio-demokrasi. Soekarno sebagai penggagas tidak mengizinkan demokrasi hanya memenuhi hak-hak politik, tetapi juga hak-hak ekonomi rakyat.

Poin terakhir Trisila adalah ketuhanan, yang kemudian menjadi polemik karena dianggap mengedepankan nasionalisme ketimbang agama. Karena urutannya paling bawah, ada tuduhan bahwa agama dikesampingkan, yang disebut sebagai ajaran komunisme. Padahal tidak demikian. Ketuhanan diletakkan paling bawah, justru karena ia menjadi inti, dasar, dari sila-sila di atasnya.

Yang dikemukakan Arif menyinyalir bahwa polemik Trisila terjadi sebab ketidakpahaman atas perasan Pancasila itu sendiri. Trisila dianggap mereduksi Pancasila, padahal tidak seceroboh itu. Kata Arif, “Sosio-nasionalisme merupakan kesatuan sila kebangsaan dengan kemanusiaan, sosio-demokrasi merupakan kesatuan sila kerakyatan dan keadilan sosial, ditambah dengan ketuhanan.”

Sekaligus menegaskan, dengan demikian, bahwa wacana komunisme yang bergulir pada RUU HIP, juga aksi demo DPR kemarin, sebenarnya polemik salah pemahaman saja. Lalu untuk apa berdemo tentang sesuatu yang tidak dipahami? Lucu.

Cita Remukkan Indonesia

Dengan argumentasi bahwa aksi demo RUU HIP kemarin tidak berbobot sama sekali, maka narasi kebangkitan komunisme patut dicurigai. Tidak hafal Pancasila, tidak paham Trisila juga Ekasila, dan berniat memakzulkan presiden karena dituduh komunis tanpa data akurat dan faktual, tidak mencerminkan kecintaan akan Pancasila, melainkan sebagai alasan berdemo belaka.

Tidak ada yang terima Pancasila diutak-atik adalah konsekuensi logis dari mencintai republik. Tetapi, respons yang agresif dan tidak proporsional bukanlah esensi membela, melainkan menghancurkan. Membela Pancasila untuk meremukkan Indonesia. Di balik aksi, terdapat agenda terselubung, paling tidak untuk mendelegitimasi pemerintah: wacana Jokowi sebagai anak PKI adalah tuduhan klasik.

Mengatakan HTI membela Pancasila adalah realitas yang bukan hanya sulit, melainkan mustahil dicerna akal. Ideologi khilafah ala HTI tidak akan pernah menerima Pancasila, apalagi membelanya. Bisa dimaklumi kemudian, mengapa peserta aksi, termasuk juga sang orator, tidak hafal Pancasila. Kentara sekali ada tipu muslihat untuk memorak-perandakan negeri.

Mereka menuduh RUU HIP, terutama pada poin Trisila, dan tiadanya Tap MPRS sebagai konsideran sebagai potensi kebangkitan komunisme. Tetapi mereka melupakan, sengaja mengabaikan satu hal, bahwa provokasi mereka itulah yang justru meruntuhkan isi Pancasila. Fitnah dan tuduhan sama sekali kontadiktif dengan sila apa pun: kemanusiaan maupun ketuhanan.

Karena itu semua, penting untuk menyadari, bahwa polemik RUU HIP sudah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mencitra-burukkan pemerintah. Satu-satunya jalan adalah menaruh ketidakpercayaan terhadap mereka, jika argumen yang disuguhkan tidak masuk akan dan, justru, memecah-belah persatuan. Mereka tidak sedang membela Pancasila. Mereka sedang meremukkan negeri tercinta, Indonesia.

Kalau-kalau, dan semoga tidak terjadi, persatuan pecah, Indonesia remuk, apa yang akan terjadi? Jelas, mereka akan menegakkan khilafah. Khilafah ala HTI, tentunya.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru