25.4 C
Jakarta

Membela MUI dari Susupan Teroris

Artikel Trending

Milenial IslamMembela MUI dari Susupan Teroris
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Ramai aksi membela MUI di Indonesia. Pada Jumat 26 November 2021 pukul 13:00 – Asyar, di sekitar Patung Soekarno Manahan Solo, ada sejumlah orang untuk aksi membela MUI. Pada saat yang sama, pukul 11.30 – 12.45 WIB, JAS Mudiriyah Jember melakukan Aksi Bela MUI di sekitar Masjid Jami Al-Baitul Amin, Kp. Using, Kel. Jember Lor, Kec. Patrang, Kab. Jember, Jatim.

Aksi tersebut dilakukan oleh 4 orang diantaranya Budi Eko (Katib JAS Mudiriyah Jember) selaku pimpinan aksi dengan membentangkan banner bertuliskan “Tolak Pembubaran MUI – Waspadai Penistaan Agama – Kami Bersama Ulama” serta membagi-bagikan pamflet kepada jamaah salat Jumat dan masyarakat yang melintas di sekitar lokasi aksi.

Bukan tidak alasan aksi tersebut digelar. Melalui narasi yang disampaikan merujuk ke hal yang terdalam tentang fenomena yang terjadi di tubuh MUI. MUI tersusupi oleh terorisme dan pelakunya adalah seorang ustaz, mubaligh, dan tokoh umat bahkan sangat ditokohkan di MUI. Dari situ kita bisa menjejaki pesan “waspadai Penistaan Agama dan Kami Bersama Ulama”.

Pesan-pesan itu bisa kita artikan untuk menjunjung dan membela MUI untuk terus hidup. Tapi di balik itu semua, ada pembelaan yang lain, yaitu mereka membela ustaz yang tertangkap pidana teroris. Menurut mereka, Densus 88 menangkapnya berdasarkan kebencian terhadap ulama.

Membela MUI apa Membela Teroris?

Jika kita lihat secara fenomenologis, orang-orang yang menggelar aksi tersebut adalah orang yang biasa menggelar aksi untuk FPI, HTI, dan ormas kanan lainnya. Jadi terlalu lemah jika orang-orang menganggap bahwa aksi bela MUI oleh Pok JAS di Jember, Jatim, dan di Solo murni untuk MUI.

Apalagi di lapangan, mereka bergerak atas dasar jihad dan gema takbir. Menurut mereka, jihad sesungguhnya adalah berperang dan menegakkan khilafah. Wujud nyata jihad adalah menegakkan khilafah. Dan itu menurutnya bagian dari Islam yang patut dikobarkan.

Sebenarnya, kita melihat adak kasak-kusuk di dalam memproyeksikan aksi membela MUI. Ada udang di balik batu. Ada kepentingan besar di balik menjunjung persona MUI. Apalag kini, tampak MUI selain kebobolan anggota teroris, telah juga dimanfaatkan narasinya oleh tokoh-tokoh ormas kanan, seperti Ismail Yusanto. Silakan cek channelYoutube UIY Officel.

Membela MUI dari Terorisme

Membela MUI, senyatanya harus dilandasi dengan niat baik dan tulus. Membela MUI kini adalah bagaimana MUI bergerak lurus atas kepentingan umat. Kita kawal fatwa-fatwanya untuk tidak masuk dalam narasi politik praktis. Sebagaimana terjadi pada kasus Ahok 2017 dan di era Soeharto. Sungguh melakukan sebenarnya jika di dalam MUI banyak tokoh agamanya. Tapi mainannya politik kotor.

BACA JUGA  Sarjana Kekhalifahan Islam, Itu Sarjana Cap Apa?

Yang paling urgen hari ini adalah bagaiamana cara MUI tidak tersusupi kelompok radikal dan teroris.

Meski di MUI banyak kader yang menyuarakan kontra narasi radikalisme dan terorisme. Tapi suara itu terkesan lumpuh, tidak kuat, bahkan kurang terdengar. Paling-paling suara-suara itu nyaring di media sosial masing-masing anggota, namun tidak berwujud pada bukti kebijakan.

Dari situ saja MUI harus dibela. Taring MUI harus bisa melampaui politik dan kepentingan. Karena di dalam tubuh MUI ada agama dan nama umat. Sungguh malu jika MUI tidak lepas dari jerat ekstrem agama dan jerat politik partisan.

Sejak masa Orba, MUI punya kecacatan. MUI terlihat kental dengan agenda politik dan fatwa-fatwanya kerap intoleran. Dulunya MUI pernah mengaharamkan pluralisme dan penyedap rasa produk Ajinomoto. MUI terkesan bak “polisi keagamaan”. Kini kesan itu bertambah lagi karena di tubuh MUI ada anggota teroris besar yang baru nongol kepermukaan.

Maka itu, untuk menghapus kesan “buruk itu,” MUI harus bertaji dalam gerak kemaslahatan umat. Jangan sampai MUI menjadi lokomotif untuk mengontrol umat Islam. Buang jauh-jauh politik buruk Soeharto itu untuk MUI. Kasian masyarakat khususnya umat Islam diperburuk wajahnya gara-gara permainan MUI.

Majelis yang di dalamnya ada nama ulamanya, harus kokoh dalam mempertahankan nilai-nilai agama. Nilai-nilai agama harus melampaui urusan politik, perut dan nama. Maka demikian, MUI harus bersih-bersih tubuhnya yang kotor: dari anggota teroris dan dari kepentingan politik.

Dengan cara apa? Dengan cara MUI sendiri. Praksisnya dapat melalui dari perekrutan, tes wawasan kebangsaan, dan melihat latar belakang dari anggota pendaftar. Jangan sampai MUI masih berjalan seperti masa kepemimpinan Soeharto. Di mana, saat itu, MUI bergerak hadir untuk menakut-nakuti umat, mengontrol suara umat Islam, dan menjadi polisi agama.

Tapi tidak bebas dari ancaman teroris di tubuhnya sendiri. Mari membela MUI dari susupan teroris!

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru