30.9 C
Jakarta
Array

Membayangkan Indonesia

Artikel Trending

Membayangkan Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Membayangkan Indonesia

Oleh: Anwar Noeris*

Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983), mengajak saya untuk membayangkan sebuah bangsa yang rukun, makmur, dan mengenal satu sama lain. Proses membayangkan dengan indah dan tenang ditemani sebungkus kretek dan kopi hangat buatan sendiri, di suatu tengah malam tanpa halusinasi  perempuan berbodi seksi, atau kersik bayangan kekasih yang terlebih dulu disunting orang.

Sebenarnya ini suatu tawaran dari kawan Ben untuk semakin memperkokoh niat nasionalisme saya. Dengan pemahaman menarik mengenai nation bukan hanya sebagai political community akan tetapi sebagai an imagined political community, pengertian bangsa yang dapat dilalui dengan terbayang, dan juga ditegaskan bukan hanya dalam ruang imajiner. Tapi pengertian nation di sini adalah sesuatu yang terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekalipun, tidak bakal tau dan takkan kenal sebagian besar anggota lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka itu, bahkan mungkin pula tidak pernah mendengar kabar tentang mereka.

Maka dalam hubungan saya sebagai manusia yang lahir di tanah Indonesia dengan masyarakat lain yang juga lahir di tanah Indonesia, saya membayangkan diri saya terlibat dalam suatu tatanan negara yang memiliki impian besar akan kesatuan, kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini. Membayangkan saya tidak hanya Papua, tidak hanya Jawa, tidak pula hanya Kalimantan, tapi saya adalah Sabang sampai Merauke. Sebagaimana dahulu yang dibayangkan Bung Karno.

***

Tentu cita-cita besar sebuah bangsa adalah memiliki kekayaan alam yang melimpah, masyarakat yang sejahtera, hidup rukun satu sama lain, dan memiliki kebudayaan sendiri yang tetap awet dan lenggeng sepanjang zaman. Memiliki nasib baik sendiri tidak begitu tergantung pada negara lain, memiliki lahan sendiri untuk dikembangkan sendiri lalu tertawa tanpa kemunafikan. Saya membayangkan bangsa ini tetap percaya diri dengan kebudayaannya sendiri dan hasil jerih payah sendiri, menghapus kekhawatiran Chairil Anwar dalam puisinya yang berjudul “AKU” yang dari kumpulannya terbuang. Atau menggulingkan statemen Muchtar Lubis yang disampaikan di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 6 April 1977 mengenai ciri Manusia Indonesia yang berwatak lemah, bahwa Manusia Indonesia mudah goyah terhadapan sesuatu—tawaran magical dan wah, yang membuat mata dan nafsu goyah hingga meninggalkan apa yang memang milik sendiri.

Meskipun pergaulannya kita dengan orang-orang barat tapi sikapnya tidak harus ikut ke-barat-barat-an. Meskipun juga pergaulannya dengan budaya pop Asia, tetapi tidak mudah mengambil sampel budaya pop yang ke-kore-kore-an, baik stile, mindsite, maupun tindak lakunya.

Sebagai cerminan memandang bangsa ini. Di wilayah Asia misalnya, Cina kandidat negara super power dengan kekuatan sector industrialnya, atau Jepang dengan kecanggihan teknologinya yang luar biasa, atau Korea dengan budaya pop-nya yang disinyalir lewat music dan film. Adalah mereka yang bangga dan merasa memiliki akan budayanya masing-masing, sehingga budaya-budaya luar yang masuk tidak serta merta diterima apalagi sampai mengubah mindsite dan tingkah sosialnya. Akan tetapi budaya dan pengetahuan impor dijadikan suatu pertimbangan akan kebudayaan meraka yang asli demi tercapainya kekohohan identitas bangsa dan negara.

Negara ini telah cukup memiliki kiblat memandang masadepan dengan baik, dengan berasaskan pancasila yang orientasinya pada  kebhinnikaan. Dalam hal ini Indonesia saya kira telah menemukan bentuk idealnya sebagai suatu negara, di mana pancasila sebagai panduan utama yang sangat komplek dan egaliter, tidak kentara dan mengikat, serta memiliki nilai-nilai kebebasan yang memang disesuaikan dengan keberagaman negara Indonesia itu sendiri. Kompleksitas pancasila juga meramu nilai etis-politis, kerja sosial-keagamaan di mana seluruh masyarat masuk dalam suatu komunitas yang bernama imagined communities lalu membayangkan indonesia satu. Tanpa diskriminasi!

***

Darpito Pudyastungkoro (2010) pancasila adalah common platfrom sekaligus rasionalitas publik di mana keragaman poros agama, adat, dan norma sosial bertemu. Di sana sari pati agama yang paling dalam berdialog dan sepakat mendirikan negara bangsa. Di sana identitas Jawa, Sumatera, Bali, Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan lain sebagainya merasa terwakili. Di sana juga Muslim, non-Muslim, lelaki, perempuan, desa, kota, minoritas dan mayoritas semuanya merasa tertampung. Maka dari keberagaman itu kita kenal negara ini bukanlah negara  demokrasi mayoritas, melainkan demokrasi pancasila.

Akan tetapi prakter linernya mengenai ruh pancasila masih semu. Bangsa ini masih takut membayangkan dirinya sendiri padahal seperti kata Romo Magnes Suseno untuk merapikan tatanan bangsa Indonesia dalam mengaktualisasikan pancasila hanya butuh modal “kesediaan”. Sebab nilai-nilai dasar pancasila yang perlu diaktualisasikan tak bukan dan tak lain kesediaan untuk saling menerima dalam kekhasan masing-masing. Maka kesediaan untuk menghormati dan mendukung kemajmukan bangsa tak lain adalah kesediaan seluruh komponen masyarakat-masayarakat sendiri dari Sabang sampai Merauke. Maka cita-cita kesatuan adalah inti dan dasar dari kesediaan masyarakat untuk hidup bersama.

*Penulis adalah Budayawan dan sekaligus Coordinator Lembaga Kajian Editorial Kutub Yogyakarta (LKEKY).

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru