27.3 C
Jakarta

Membasmi Salafi-Wahabi, Muslim Berwatak Zionis yang Menggerogoti NKRI

Artikel Trending

Milenial IslamMembasmi Salafi-Wahabi, Muslim Berwatak Zionis yang Menggerogoti NKRI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Pekan lalu, saya kedatangan seorang teman. Baru kenal, tetapi sifatnya yang gigih membuatnya mudah akrab semua orang. Bahkan di awal perkenalan, ia sudah mewanti-wanti saya agar hati-hati bertingkah dan harus berpegang teguh syariat, karena menurutnya hari ini banyak yang melenceng. Melihat penampilannya, saya sudah curiga bahwa ia ‘berbeda’—terutama dengan kultur saya yang Nahdliyin. Tetapi saya tidak pernah bertanya apakah ia seorang Salafi-Wahabi atau bukan.

Setiap saya memberikan sesuatu padanya dan bilang bahwa itu untuk selamatan almarhum bapak, ia selalu menjawab: “Lagi banyak uang ya,” “Lagi gajian ya,” sambil berekspresi bahwa ia tidak mempercayai apa yang saya lakukan. Saya dapat membaca bahasa tubuhnya, ia sebenarnya ingin bilang: “Kok percaya khurafat”. Saya paham betul bahwa ia ingin menjaga pertemanan, tetapi saya merasa tidak enak karena terkesan disalahkan. Padahal, apa salahnya sedekah?

Sampai akhirnya, saya memberanikan diri bertanya. Lalu, ia mengakuinya. Tetapi ia tidak bilang Wahabi, hanya mengklaim pengikut salaf. Ia menyamakan salaf dengan Salafi sebagai kelompok yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan hadis. Banyak cerita yang penting disampaikan, tetapi saya mengambil kesimpulan bahwa orang sepertinya memiliki kebiasaan yang tidak bisa absen: menghakimi salah orang lain, suka membid’ahkan, dan merasa paling saleh.

Salafi-Wahabi, secara umum, berwatak seperti zionis. Seperti Palestina yang terus diserang kegigihan Israel,  jika perjuangan lentur, maka habislah Palestina terjajah. Begitu pula, Ahlussunnah wal Jamaah selalu diserang oleh Salafi-Wahabi sebagai bid’ah, sesat, dan kafir. Kalau tidak kuat, niscaya pasti terpengaruh dan hancur—ikut jadi orang yang suka mengafirkan sesama. Israel berdalih perjuangkan nasionalisme, Salafi-Wahabi berdalih perjuangkan kemurnian Islam.

Kenapa saya bilang bahwa mereka tengah menggerogoti NKRI? Kasusnya sangat banyak. Semua artis yang baru hijrah ada di genggaman Salafi. Para pelajar di daerah-daerah urban, terutama yang tidak terafiliasi ormas, pasti Salafi. Mereka memusuhi siapa pun yang dianggap menyimpang, dan mengajak siapa pun yang dirasa ada peluang. Salafi-Wahabi tidak ada bedanya dengan penjajah. Mereka Muslim, tetapi sikapnya kepada sesama Muslim seburuk dan sebrutal zionis.

Zionisme Salafi-Wahabi

Wandi Ladupu, warga Sulawesi Tengah, berkomentar sangat buruk saat wafatnya Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri. “Alhamdulillah sudah mati dedengkot sufi Sulteng,” ujarnya. Ladupu, seperti umumnya seluruh orang Salafi-Wahabi, sangat membenci tasawuf dan tokoh sufi. Saya sempat bertanya kepada teman yang tadi mengapa mereka benci tasawuf, dan begini jawabannya: “Mengapa kita harus beribadah aneh-aneh yang tidak diajarkan oleh syariat?

“Aneh” yang dimaksud adalah, menurutnya, tidak pernah dilakukan Nabi—bukan sunnah. Dengan mengabaikan secara total aspek esoteris, mereka menghukumi para sufi sebagai orang sesat lagi menyesatkan. Bahkan jika seorang sufi mencapai ekstase dalam beribadah sampai lupa diri, bagi Salafi-Wahabi yang demikian bahkan masuk kategori kafir. Intinya kalau tidak persis apa yang dicontoh Nabi, bagi mereka itu bid’ah dan sesat. NKRI bagaimana bagi mereka? Jelas: thaghut, setan.

BACA JUGA  Jalan Licik HTI Harus Segera Dilenyapkan di Bumi Indonesia

Lalu apakah memang benar Salafi-Wahabi ikut sunah Nabi? Sama sekali tidak. Mereka hanya mengklaim paling sunnah, bahkan lebih sunnah daripada Nabi itu sendiri. Saat Nabi masih hidup, manusia sejenis Salafi itu bahkan menegur Nabi karena menganggapnya tidak adil. Jika dengan Nabi saja mereka merasa lebih baik, apalagi hanya dengan ulama sufi, apalagi orang biasa seperti saya, atau kita semua. Jika demikian, apa maksud jargon sunnah yang zionis Muslim tersebut eksploitasi?

Bullshit. Omong kosong. Orang-orang Salafi-Wahabi tidak mengikuti sunnah, mereka mengikuti nafsunya sendiri, bertaklid kepada junjungannya: Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka juga mengaku sebagai kalangan ahlussunnah wal jamaah, tetapi mengafir-sesatkan seluruh tokoh Sunni. Hidup berdampingan dengan mereka tidak akan tenang, mereka tidak ada toleransi selama tidak mengikuti ideologinya. Zionis Salafi-Wahabi seperti itu sudah berapa banyak menggerogoti NKRI?

Karenanya, kehati-hatian sangat perlu. Semua doktrin mereka palsu: mengaku ikut sunnah dan golongan ahlussunnah wal jamaah, dusta. Salafi sendiri berbeda dengan salafiah. Syekh Ramadhan al-Buthi (w. 2013) mengulas lengkap dalam karyanya, Al-Salafiyah: Marhalah Zamaniyah Mubarakah, La Mazhab Islamiy dan Al-Lamazhabiyyah: Akhtharu Bid’ah Tuhadid al-Syari’ah al-Islamiyyah. Mereka kaum Salafi-Wahabi adalah musuh agama dan negara. Mengapa demikian?

Pentingnya Wasathiyah

Kaum Salafi-Wahabi berbahaya bagi agama karena mereka mencemari sakralitasnya, menegasikan aspek-aspek esoteris sehingga syariat tidak lebih dari ritual fisik belaka. Sementara bagi negara, ia mengundang mudarat besar, yaitu pecahnya persatuan karena tradisi saling kafir-mengafirkan dan intoleran. Karenanya, di tengah maraknya arus Salafi-Wahabi, bangsa ini perlu segera berbenah. Jangan sampai Islam wasathi kalah sama Islam Salafi.

Wasathiyah, moderasi, yang dimaksud bukanlah soal pengamalan “religiusitas vertikal” semata, melainkan juga penerapan humanisme. Artinya, bukan soal halus apa tidaknya cara bertutur dan berteman, karena karakter Salafi-Wahabi yang khas adalah mereka sangat suka berteman dan kemudian mengajak secara pelan-pelan. Bumbunya adalah pesan-pesan religius sehingga kalau seseorang tidak paham propagandanya, mereka jelas akan terjerumus.

Baru-baru ini, KPI mendapat keluhan dari salah satu warga karena menayangkan Olimpiade Tokyo. Ia menjamin seluruh atlet masuk neraka karena pakaiannya tidak sopan. Siapa yang mengajarinya merasa paling saleh dan paling berhak mengkaveling surga? Tidak lain, ia sudah terpapar virus Salafi-Wahabi. Wasathiyah akan kalah jauh pada Salafi dalam satu hal; narasi kemurnian Islam. Edukasi Islam moderat semakin susah, ditambah lagi gerakannya yang tidak masif seperti Salafi.

Padahal, wasathiyah sangat penting karena ia ibarat vaksin yang menyelamatkan seseorang dari virus Salafi-Wahabi. Membasminya tidak bisa dengan cara membunuh karena sudah menyebar kemana-mana, maka cara penanganannya adalah memperkuat imun keberagamaan, yaitu moderasi Islam. NKRI sudah digerogoti Salafi-Wahabi di segala lini, mulai dari lembaga/kementerian, ASN, pelajar, hingga masyarakat umum. Sementara Muslim moderat belum berbenah apa-apa? Siap-siap dikalahkan oleh Muslim zionis tersebut.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru