Membangun Spirit Keluarga Pancasila


0
56 shares

Ditengah kondisi ketidaktentuan kehidupan sekarang memunculkan segala kebaruan dalam laku hidup manusia. Ditengah gejolak kemajuan yang ditandai dengan semakin pesatnya teknologi dan informasi bergerak, hal ini selain menuntut sebuah penguasaan dalam bersanding dengan kemajuan yang ada, juga menjadikan diri manusia itu sendiri harus bergerak untuk memenuhi segala hal agar tidak terlindas dengan peran teknologi.

Kegiatan bersosial mengalami kondisi dimana kekeringan bersosial, salah satunya kehangatan keluarga seiring. Berjalanya waktu berbagai pernik kemajuan teknologi juga merambah dalam tengah-tengah kehangatan yang dulu menjadi alasan setiap keluarga betah dalam rumah. Semakin kesini, hal itu semkain berkurang dengan adanya teknologi “gawai” yang menggantikan kehangatan tersebut. Mulai keringnya perbicangan dalam tatap muka dimeja makan, diskusi atau tukar pikiran kegiatan hingga kehangatan bercerita kisah sebelum tidur. Semua sudah digantikan dengan produk teknologi yang mengubah kebiasaan tersebut ditengah hangatnya keluarga saat ini.

Sehingga acapkali anak kehilangan esensi keluarga yakni kasih sayang dan bertukar informasi. Kehadiran “gawai” membuat orangtua seolah sudah lepas tangan untuk kedua urusan tersebut, wajar apabila anak mencari segala hal yang mungkin mereka belum tahu melalui dunia gawai yang cerdas menjawab segala keluh kesah sang anak. Keteledoran terkadang membuat diri kita tak bisa memahami dampak yang akan terjadi, anak belajar dari hal yang belum mereka harus dapatkan diusianya. Dari informasi kehidupan harian hingga pemhaman keagamaan yang semakin liar dalam ranah dunia maya.

Bisa saja hal itu akan mencuci otak sang anak untuk melakukan segala hal yang berada diluar nalar, hanya karena mereka mendapatkan informasi yang didapatkan dari gawai mereka. Apabila hal ini bisa setiap orangtua pahami sejak awal, proses arus informasi yang anak serap akan dibatasi oleh pemahaman orangtua.

Baca Juga:  Tragedi Mako Brimob dan Pendekatan Lunak Deradikalisasi

Spirit Nasionalisme dan Rohani

Matinya percakapan hangat antar keluarga tergilas oleh keberadaan gawai sebagai manifestasi dari reaktif era global. Hal ini senantiasa merubah segala aktivitas dari kebiasaan manusia Indonesia terkhusus dalam berkeluarga. Harmonisme antar keluarga mengalami perubahan dari segi cara dan metode. Kehadiran gawai menjadi ruang baru dalam kehidupan berkeluarga sekarang, segala kebutuhan yang dahulu memperkaitkan hubungan tatap muka yang sejatinya bisa membangkitkan hubungan emosional, tergantikan dengan hadirnya pesan personal (Chatting) atau Video Call dari grup keluarga.

Kehadiran saluran informasi dan segala sumbernya, menghadirkan semua konten dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Bukan hanya informasi berkaitan dengan kegiatan umum lainya, informasi keagamaan juga semakin mudah hadir ditengah kondisi derasnya arus informasi. Kecepatan dan hidup ringkas menuntut manusia modern untuk memenuhi segala hasrat keinginan untuk sebuah informasi, namun dalam halnya isi atau mutu dari konten tersebut. Masih banyak ditemukan berbagai permasalahan, yang berkaitan dengan keseuaian isi dari apa yang harus dinikmati oleh kalangan anak atau remaja. Mereka mendapatkan kebebasan menggunakan gawai, menjadikan segala informasi dari keagamaan didapatkan dari sumber konten internet.

Masih banyaknya konten atau materi dakwah yang tidak mengedepankan moderasi keislaman dalam berbangsa, harus menjadi langkah preventif dari orangtua agar anak tidak terjerumus pada hal-hal pemahaman yang melenceng dari kemoderatan orang Indonesia yang hadir selama ini.

Kebebasan yang didapatkan selain juga dapat mengakibatkan hal fatal, juga berbahaya karena isi dari setiap konten yang ada berbentuk paham atau ideologi, yang itu tidak bisa dilepas dalam proses sekelebat untuk mencairkan, butuh waktu dan proses panjang agar suatu paham yang terindikasi pada radikalisme atau kedangkalan pemahaman agama bisa luntur.

Baca Juga:  Revitalisasi Faham Kebangsaan: Sebuah Kontemplasi HUT RI ke 72

M. Dawam Rahardjo (2012) mencatat bahwa kebangkitan rohani menjadi hal esensial di tengah keterpurukan agama. Kebangkitan rohani itu ditandai dengan peningkatan iman dan takwa yang termanifestasi dalam ibadah dan akhlak.

Kehadiran teknologi ditengah keluarga menjadi sebuah wajah baru, yang itu harus dimanfaatkan secara positif. Peran orangtua sebagai pihak yang berpengalaman, mempunyai kewajiban untuk mengarahkan keluarga mereka dari nilai konten internet yang berafiliasi dengan kekerasan. Apalagi dalam hal pemahaman keagamaan, proses dari nasionalisme harus berbanding lurus dengan spirit penguatan rohani. Hal itu sebagai manifestasi sila pertama, baik dalam berkeluarga maupun bernegara.


Like it? Share with your friends!

0
56 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka