Membangun Hidup di Atas Kejujuran


0
2 shares
Int.

Dikisahkan dalam kitab Nuzhah al-Majalis wa Muntakhab al-Nafais karya al-Shafuri, seorang wali kenamaan kota Baghdad yang kemasyhurannya menembus lintas generasi dalam dunia tasawuf, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, pernah menyampaikan bahwa beliau membangun kehidupannya di atas kejujuran. Hal itu tidak lain karena jasa ibundanya yang meminta Syaikh Abdul Qadir al-Jailani untuk senantiasa jujur sepanjang hidupnya.

Berangkat dari janji kepada ibundanya, Syaikh Abdul Qadir menyatakan bahwa, “Aku membangun hidupku di atas kejujuran”. Inilah yang menjadi motto bagi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Kata mutiara yang berawal dari pemenuhan janji setianya kepada ibunda sekaligus sebagai ungkapan berbakti kepada orang tua.

Suatu ketika saat Abdul Qadir al-Jailani muda menuntut ilmu dari satu tempat ke tempat lainnya. Tibalah saatnya ia meninggalkan kota suci Mekah menuju kota peradaban Islam yaitu kota Baghdad. Dalam perjalanan itu Abdul Qadir al-Jailani muda hanya dibekali empat puluh dinar oleh ibundanya.

Di tengah perjalanan, tepatnya di kota Hamdan, Abdul Qadir al-Jailani muda dicegat oleh sekelompokan perampok (baca: saat ini dikenal dengan begal). Mau tak mau Abdul Qadir al-Jailani menghentikan laju perjalanannya. Dalam posisi satu melawan beberapa orang, Abdul Qadir al-Jailani muda diinterogasi oleh perampok itu.

“Anak muda, apa yang kau miliki? Apa yang kamu bawa saat ini?”, tanya salah satu anggota perampok.

“Aku membawa empat puluh dinar”, jawab Abdul Qadir al-Jailani secara tegas.

Namun jawaban Abdul Qadir al-Jailani muda dianggap sebuah lelucon oleh sekawanan perampok. Barangkali mereka berfikir mana mungkin ada orang yang mau mengaku membawa harta kepada perampok. Untuk mempertegas bahwa jawaban Abdul Qadir al-Jailani muda bukanlah omong kosong, anggota perampok lainnya kembali melontarkan pertanyaan, “Apa yang kau miliki?”, tanyanya sambil melirik tajam ke arah Abdul Qadir al-Jailani muda.

Baca Juga:  Yang Hilang Dari Kita ( 2-Habis)

Ternyata Abdul Qadir al-Jailani muda masih menyahut dengan jawaban yang sama dengan sebelumnya. Jawaban itu menunjukkan kejujuran Abdul Qadir al-Jailani muda tanpa rasa takut apa yang dia bawa direbut oleh para perampok.

Sekawanan perampok nampaknya masih meragukan jawaban Abdul Qadir al-Jailani muda. Sehingga mereka membawanya menghadap kepada pemimpin sekawanan perampok tersebut. Lagi-lagi pertanyaan dan jawaban kembali terulang.

Penasaran dengan kejujuran al-Jailani muda, pemimpin perampok bertanya, “Apa yang membuatmu jujur?”.

“Ibuku memintaku berjanji untuk selalu jujur dalam hal apapun, kapanpun, dan dimanapun. Aku takut mengkhianati janjiku pada ibundaku”, jawab Abdul Qadir al-Jailani muda.

Sontak jawaban dan pernyataan Abdul Qadir al-Jailani muda membuat terenyuh hati sang pemimpin rampok hingga membuatnya ingin bertaubat dan pensiun dari pekerjaan perampok. Air matanya pun tak bisa terbendung. Seketika ia bertaubat di hadapan Abdul Qadir al-Jailani muda dan di depan anak buahnya.

Secara spontan, pemimpin rampok memerintahkan untuk mengembalikan semua harta yang telah dirampok kepada yang punya. Sebagai bentuk kesungguhan taubatnya. Semua anggota kawanan perampok itu akhirnya ikut bertaubat juga. Sehingga mereka semua pensiun dari tindakan kriminal dan kejahatan yang telah diperbuat berkat kejujuran Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. []

 


Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.