29 C
Jakarta

Membandingkan Gerakan-Gerakan Teror di Dunia Islam

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Pidato Rizieq Shihab pada acara Reuni Aksi Bela Islam 212 kemarin, terlihat daya juang Rizieq Shihab mulai melemah. Dari suaranya, seperti orang sedang sakit....

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Membandingkan Gerakan-Gerakan Teror di Dunia Islam

Oleh Ayik Heriansyah*

Yang membedakan gerakan teror transnasional dengan gerakan teror regional dan lokal adalah tujuan akhir dari gerakan mereka yang mempengaruhi ruang lingkup, medan aksi dan jaringan mereka. Semua gerakan teror transnasional mempunyai tujuan yang sama yaitu mendirikan khilafah global. Mereka adalah Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, al-Qaeda dan Islamic State on Iraq and Syria (ISIS). Oleh sebab itu skala gerakan mereka melintasi batas-batas negara, bangsa dan suku.

Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir masuk kategori gerakan teror karena kedua gerakan membenarkan dan pernah menggunakan kekerasan bersenjata dalam mendirikan khilafah. Teror yang dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir bersifat laten, artinya, Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir akan melakukan tindak kekerasan jika situasi dan kondisi memungkinkan dalam rangka mewujudkan tujuan politik mereka.

Ikhwanul Muslimin membentuk milisi-milisi di daerah-daerah konflik di Suriah, Yaman dan Libya. Demikian juga halnya dengan Hizbut Tahrir. Dengan bantuan intelijen Turki, Hizbut Tahrir membentuk milisi-milisi di Suriah yang terlibat upaya penggulingan Presiden Assad.

Sedangkan gerakan teror regional dan lokal mempunyai tujuan untuk mendirikan negara Islam atau keemiran di dalam batas-batas negara bangsa. Mereka tidak memiliki jaringan di luar teritorial daerah perjuangannya. Tujuan mereka bukan ingin mendirikan khilafah global. Mereka hanya mau merdeka dari penjajah negerinya. Terlepas dari apa motif mau membebaskan diri penjajah, penggunaan kekerasan fisik dalam upaya meraih tujuan politik, tetap disebut teror. Seperti gerakan Hamas, Negara Islam Indonesia (NII), Taliban, Moro Islamic Liberation Front (MILF), Milisi Rohingya, Milisi Patani dan sebagainya.

Gerakan-gerakan teror regional dan lokal  muncul akibat proses integrasi bangsa dan konsolidasi negara bangsa yang belum selesai. Bukan disebabkan oleh ajaran-ajaran agama tertentu. Gerakan-gerakan ini wujud dari ketidakpuasan politik dari ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa pusat. Sebab itu, gerakan teror mereka lebih bercorak gerakan separatisme ketimbang gerakan radikalisme agama.

Adapun gerakan-gerakan teror transnasional sebenarnya memiliki perbedaan pemahaman tentang konsep khilafah dan metode mendirikannya walaupun Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, al-Qaeda dan ISIS sama-sama membayangkan khilafah adalah kepemimpinan tunggal umat Islam di seluruh dunia yang dipimpin oleh seorang khalifah dengan slogan “satu umat satu negara.”

Hizbut Tahrir dan ISIS berpendapat bentuk negara khilafah adalah kesatuan (integrasi), sedangkan al-Qaeda dan Ikhwanul Muslimin berpendapat bentuk negara khilafah adalah negara federasi. Tapi mereka semua sepakat puncak pimpinan harus dipegang oleh satu orang berdasarkan hadits “jika dibai’at dua orang khalifah, bunuh yang terakhir.”

Al-Qaeda berpandangan, khilafah adalah suatu negara muslim yang memperoleh kedaulatan secara sempurna (tamkin taam) yang bebas dari segala potensi ancaman negara lain baik dari dalam maupun luar. Karena alasan itu mereka menolak khilafah ISIS. Khilafah ISIS belum berdaulat penuh secara sempurna karena wilayah-wilayah udara ISIS masih bisa dimasuki pesawat-pesawat asing. ISIS menjawab penolakan Al-Qaeda tersebut dengan mengatakan, yang penting secara faktual warga negara khilafah bisa dilindungi dan aktivitas kenegaraan bisa berlangsung meski dengan segala keterbatasan.

Amir Hizbut Tahrir satu setelah deklarasi khilafah ISIS pada Ahad (29/6/2014), mempublikasi pernyataan menolak khilafah ISIS dengan alasan khilafah tersebut buatan Amerika Serikat. Ternyata empat bulan kemudian Amerika Serikat beserta sekutunya membombardir khilafah ISIS. Amir Hizbut Tahrir juga menolak khilafah ISIS karena metode pendiriannya tidak yang syar’i. Cara yang syar’i maksudnya tidak melalui thalabun nushrah (kudeta) sebagaimana yang diyakini Hizbut Tahrir sebagai metode kenabian dalam mendirikan khilafah.  Bertolak belakang dengan pendapat ISIS bahwa metode syar’i dalam mendirikan khilafah dengan jihad (perang).

Ikhwanul Muslimin punya pandangan lebih umum. Mereka lebih suka menggunakan istilah ustadziyatul a’lam ketimbang khilafah. Maknanya hampir sama, namun Ikhwanul Muslimin lebih fleksibel, mereka tidak mensyaratkan satu daulah untuk satu secara ketat. Metode Ikhwanul Muslimin dalam mendirikan khilafah dimulai dari memperbaiki pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Baru selanjutnya khilafah berdiri. Bagi mereka adanya wadah asosiasi atau paguyuban negara-negara muslim sudah memenuhi syarat untuk disebut khilafah yang syar’i.

Sedangkan Hizbut Tahrir mendefinisikan khilafah yang mereka perjuangkan sebagai sebuah negara yang dipimpin oleh orang yang sebelumnya Amir Hizbut Tahrir yang menerapkan Undang-undang Dasar yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir, diawali dengan proses penyerahan kekuasaan dari penguasa de facto kepada Hizbut Tahrir.

DAFTAR PUSTAKA

Heriansyah, Ayik. (2020). Mengenal HTI Melalui Rasa Hati. Harakatuna: Jakarta.

Heriansyah, Ayik. (2020). Dosakah Menjadi Indonesia. Sang Khalifah: Jakarta.

Muhsin, Husein bin Ali Jabir. (1991). Membentuk Jama’atul Muslimin. Gema Insani: Jakarta.

Said, As’ad Ali. (2014). Al-Qaeda: Tinjauan Sosial Politik. LP3ES: Jakarta.

WAMY (2006). Gerakan Keagamaan dan  Pemikiran: (Akar Ideologis Dan Penyebarannya). Penerjemah A. Najiyulloh. Pustaka Al-I’tisham: Jakarta.

Ayik Heriansyah
Ayik Heriansyah
Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG UI, dan Direktur Eksekutif CNRCT

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ulama Harus Tunjukkan Sikap dan Perilaku yang Baik

Harakatuna.com. Jakarta - Dakwah hakikatnya adalah mengajak kepada kebaikan, maka mengajak kepada kebaikan harus dengan cara yang baik. Seperti itulah metode yang dilakukan para...

Tiga Amal Saleh Yang Menyelamatkan Anda

Dalam sebuah hadis yang yang riwayatkan oleh Bukhori dan Muslim terdapat sebuah kisah yang menakjubkan. Yaitu selamatnya tiga orang yang terjebak dalam gua lantaran...

Gabungan TNI dan Polri Tangkap Kelompok Teroris MIT di Kabupaten Sigi

Harakatuna.com. Sigi - Hingga sepekan pascaserangan terorisme di Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, aparat gabungan TNI dan Polri mengintensifkan pengejaran kelompok teroris MIT. Tak hanya...

Agar Tidak Bosan Saat Menulis

Writer’s block, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh psikoanalis Edmund untuk menggambarkan keadaan penulis yang tidak bisa menggambarkan apapun dalam tulisannya. Situasi seperti ini hampir...

Islam Otentik Menolak Separatisme

Usaha membendung arus separatisme dan radikalisme  tidak bisa dilakukan hanya dengan menolak paham separatisme radikal atau menangkap pelaku teror. Melainkan memerlukan sebuah aksi pemerintah...

Palestina Gugat Bahrain Tentang Kebijakan Impor dari Permukiman Israel

Harakatuna.com. Tel Aviv - Kebijakan impor Bahrain dari Israel tidak akan dibedakan antara produk yang dibuat di Israel dan produk dari permukiman di wilayah pendudukan. Menteri Perdagangan, Industri...