Membaca Salafi Dari Dulu, Sekarang dan (Mungkin) Nanti


Istimewa

Al-Quran diyakinini oleh semua umat Islam sebagai satu-satunya sumber otoritatif dari Allah melalui Muhammad SAW sebagai pedoman hidup—bahkan tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi seluruh alam sekaligus. Hal tersebut mengindikasikan adanya kebanggaan tersendiri bagi umat Islam dalam menjalani hidup dengan segala aspeknya.

Namun demikian, konsep islam rahmatan lil alamin yang tertera dalam al-Quran tidak setiap orang dan golongan pada tubuh Islam memahaminya dengan baik. Sebab perbedaan dalam Islam sendiri dianggap sebagai berkah dalam memperkaya khazanah Islam, dengan mendasarkan pada sabda Muhammad SAW yang menyatakan perbedaan diantara umatku adalah rahmat (meskipun kebenaran hadis tersebut diperselisihkan).

Oleh sebab itu Islam hadir ke dalam realitas manusia dengan beragam dinamika baik kelompok maupun pemikirannya. Meskipun berbeda pandangan tetapi tetap saja Tuhan mereka satu, Allah. Kitab mereka satu, al-Quran. Dan Muhammad sebagai nabi terakhir juga menjadi simbol dari Islam. Dari itu semua kemudian muncul Islam Ramah sebagai antithesis dari Islam Marah. Ada Islam Kanan, ada Islam Kiri. Juga ada Islam Tekstual dan Islam Kontekstual.

Pada bagian terakhir tersebut lah maka hadir buku Teologi Muslim Puritan: Geneologi dan Ajaran Salafi yang merupakan disertasi doktor dari Arrazy Hasyim di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017 serta berhasil memperoleh yudisium cum laude.

Buku ini ditulis atas keresahan batinnya terhadap kelompok dalam Islam, yaitu Salafi, yang dalam sejarah perjalanannya selama ini mendapat stereotipe negatif. Namun dalam menulis buku ini, Arrazy yang kesehariannya lebih dikenal sebagai dai mencoba menuliskannya dengan seobjektif mungkin.

Dalam permulaan bukunya ia menulis jejak kebangkitan Salafi untuk pertama kalinya dimulai pada masa Ahmad bin Hanbal (w. 856 M) melalui dukungan penguasa Dinasti Abbasiyah saat itu, yaitu Khalifah al-Mutawakkil. Namun sebelum itu, Ahmad bin Hanbal tumbuh dalam lingkungan kemajuan intelektual Baghdad pada abad kedua Hijriah ditandai dengan sikap Khalifah Abu Ja’far al-Mansur (754-775 M) yang memulai gerakan penerjemahan filsafat Yunani. Kemajuan memuncak kemudian dengan hadirnya Bayt al-Hikmah pada masa Khalifah al-Ma’mun (814-833 M).

Baca Juga:  Membongkar Khilafah HTI Hingga ke Akarnya

Lumrah diketahui, Bayt al-Hikmah adalah simbol keemasan Islam dalam kemajuan bidang ilmu pengetahuan, bahkan saat itu Islam menjadi kiblat bagi dunia. Hal itu karena Bayt al-Hikmah marupakan pintu masuk bagi ilmu dari luar Islam, khususnya filsafat Yunani, India dan lainnya. Sedangkan status Ahmad bin Hanbal saat itu sebagai seorang pencari dan penghafal hadis, karena hal tersebut ia menolak kegiatan rasionalisasi yang dilakukan oleh Mu’tazilah saat itu.

Kemudian pada perkembangan selanjutnya, Salafi mengalami kebangkitan kedua pada masa Ibn Taimiyah (1263-1328 M) tetapi tidak mendapat restu dari penguasa dan ulama yang berhaluan Ash’ariyah. Hingga akhirnya kebangkitan Salafi mencapai puncak melalui pergerakan Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703-1791 M) karena berhasil menguasai “istana” maka kelompok lain tersingkirkan yang pengaruruh ajarannya tersebar ke belahan dunia Islam bahkan sampai ke Nusantara.

Ajaran Salafi telah memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk mengakses hal-hal yang bersifat religius. Namun di sisi lain karena teologi Salafi bersifat ekslusif (pada aspek lain cenderung tekstualis—mengabaikan konteks) daripada lainnya, maka rentan menimbulkan konflik keagamaan antar individu, kelompok bahkan antar negara. Itulah sebabnya aliran Ash’ariyah dan Maturidiyah tidak menganggap Salafi sebagai bagian dari Ahl al-Sunnah wa-al-Jama’ah.

Secara garis besar, buku ini mengajak pembaca (baik bagi pengikut Salafi maupun di luarnya) untuk memahami sejarah perkembangan aliran teologi Salafi dan ajarannya hingga saat ini, sebagaimana harapan besar dari penulis buku. Sedangkan harapan lain dalam konteks Indonesia, agar kelompok mainstream seperti Muhammadiyah dan NU membuat pergerakan yang mampu mengimbangi keagresifan persebaran Salafi.

Terlepas dari itu semua, penelusuran terhadap sumber awal munculnya golongan Salafi menjadi ciri khas dari buku ini dengan rujukan yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Meskipun dalam membacanya bagi mereka yang tidak akrab dengan sejarah Islam, khususnya dalam perkembangan teologi, akan kesulitan dengan munculnya nama-nama baru mengingat juga rentang waktu dari masa sekarang ke masa itu.

Baca Juga:  Mendobrak Kejumudan dalam Beragama

Meskipun demikian, untuk masa sekarang rasanya buku ini masih menjadi rujukan segar untuk memahami dan menelusuri gerakan dan ajaran Salafi, ditambah dengan pembahasan tipologi Salafi kontemporer pastinya memberikan nuansa sendiri bagi pembaca dalam pikiran dan kenyataan guna menyempurnakan pemahaman. Oleh karenanya, selamat membaca!

Judul: Teologi Muslim Puritan: Geneologi dan Ajaran Salafi

Penulis: Dr. Arrazy Hasyim, MA.

Penerbit: Yayasan Wakaf Darus-Sunnah

Tahun Terbit: April 2018, cetakan ke-2 (cetakan pertama September 2017)

Tebal: xviii + 322 halaman

ISBN: 978-602-74547-4-3

Peresensi: Mohammad Haris (mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
2
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.