31.3 C
Jakarta

Membaca Nasionalisme-Religius Soekarno

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Indonesia dan Soekarno tidak bisa dipisahkan satu sama lainya. Sebab, jasa Soekarno sesungguhnya telah diakui oleh lebih banyak pihak. Bahkan lawan-lawan politiknya pun mengakui bahwa Soekarno memiliki banyak jasa amat besar bagi negara-bangsa Indonesia. Kekurangan-kekurangan Soekarno sebagai manusia biasa hanya ibarat sekuku hitam saja dibanding jasa-jasa besarnya.

Soekarno memang telah dikenal luas. Namun, masih lebih banyak yang belum memahami dengan baik dan tepat gagasan-gagasannya. Salah satu gagasan fundamental Soekarno yang banyak disalahpahami adalah konsepsi nasionalisme. Kesalahpahaman ini disebabkan oleh sudut pandang yang menempatkan nasionalisme Indonesia sebagai sebuah konsep yang sama persis dengan yang ada di Eropa.

Padahal Soekarno telah memodifikasinya sedemikian rupa, sehingga nasionalisme Indonesia sesungguhnya sangat berbeda dengan nasionalisme Eropa di awal kelahirannya. Kesalahpahaman itu menyebabkan Soekarno lebih dikenal sebagai sosok yang berparadigma sekuler. Bahkan Soekarno sering dianggap identik dengan abangan, bukan santri.

Nasionalisme di Eropa memang berkarakter sekuler. Ini tidak bisa dilepaskan dari konteks nasionalisme sebagai sebuah konsepsi tentang konstruksi negara berdasarkan bangsa (nation) sebagai pengganti konstruksi negara berdasarkan agama (Katolik). Penggantian dasar negara tersebut disebabkan kejadian-kejadian yang dianggap sebagai bentuk penyimpangan yang disebabkan oleh konsepsi integralistik dalam konteks relasi antaraagama dengan negara. Dalam konsepsi ini, antara agama dengan negara disatukan.

Dalam konteks Eropa saat itu, konsepsinya disebut dengan religio-integralisme Katolik. Karena konsepsi ini, negara menjadi alat untuk menghukum orang-orang yang tidak sependapat dengan interpretasi agama yang dikembangkan oleh gereja. Sebaliknya, agama dijadikan sebagai alat untuk menghukum orang-orang yang sesungguhnya merupakan lawan politik dengan alasan telah menyimpang dari doktrin agama.

Karena penyelewengan kekuasaan tersebut, maka muncul kalangan reformis yang menginginkan agar negara tidak didasarkan kepada agama, melainkan kepada bangsa. Masyarakat Eropa mendasarkan kebangsaan kepada kesamaan etnis dan bahasa. Mereka adalah masyarakat yang homogen, yakni masyarakat kulit putih dengan agama yang hampir semuanya Kristen.

Sedangkan nasionalisme di Indonesia sama sekali berbeda dengan nasionalisme di Eropa. Bennedict Anderson menyebut bahwa nasionalisme di Indonesia dibangun berdasarkan “imajinasi” sebagai satu bangsa, karena faktanya banyak sekali entitas yang berbeda di Indonesia. Masyarakat Indonesia jelas-jelas adalah masyarakat dengan tingkat keberagaman SARA yang sangat tinggi.

Namun, mereka kemudian merasa sebagai satu bangsa, karena perasaan senasib sebagai sama-sama entitas masyarakat yang dijajah oleh Belanda. Itulah yang menyebabkan daerah jajahan Belanda menjadi wilayah administratif Indonesia dan yang dijajah oleh Inggris menjadi Malaysia dengan mengecualikan Bengkulu. Sebab, Bengkulu adalah daerah jajahan Inggris, tetapi kemudian ditukar guling dengan wilayah Singapura yang sebelumnya adalah bagian dari Malaysia.

Karena realitas tersebut, Soekarno menganggap bahwa konstruksi negara yang cocok bagi Indonesia adalah nation-state (negara nasional), bukan Islamic state (negara-Islam) sebagaimana diperdebatkan dengan sangat tajam pada sidang-sidang dalam BPUPKI. Letak persoalannya di sini.

Soekarno menjadi terlihat atau dipandang anti-Islam, karena ia–dan sesungguhnya juga Hatta–menjadi pelopor gagasan atau konsepsi nasionalisme dalam konsteks konstruksi Indonesia merdeka sebagai negara-nasional dengan dasar Pancasila. Sementara kalangan oposisi, gagasannya adalah kalangan Islam yang memperjuangkan konsepsi “negara-Islam” yang kemudian menurunkannya menjadi “Islam sebagai dasar negara”, lalu menurunkannya lagi menjadi “Piagam Jakarta”.

Soekarno juga yang melakukan lobi kepada kalangan Islam, terutama Ki Bagus Hadikusumo, yang saat itu pemimpin puncak Muhammadiyah agar menerima dulu Pancasila sebagai dasar negara. Soekarno meyakinkan kepada Ki Bagus agar untuk sementara kalangan Islam menerima Pancasila sebagai dasar negara. Yang penting Indonesia merdeka terlebih dahulu.

Soekarno menjanjikan, setelah Indonesia merdeka dan keadaan telah kondusif, masalah dasar negara bisa dibicarakan kembali. Janji tersebut dipenuhi dalam Dewan Konstituante. Perdebatan-perdebatan pada sidang-sidang di Dewan Konstituante tampak sangat dinamis dengan dominasi argumentasi dari kalangan Islamis yang menginginkan Indonesia dikonstruksi sebagai negara-Islam dan kalangan nasionalis yang menginginkan Indonesia dikonstruksi sebagai negara nasional sebagaimana terjadi dalam sidang-sidang di BPUPKI. Namun, sidang-sidang Dewan Konstituante kemudian berujung deadlock.

Meski Soekarno mengajukan gagasan negara-nasional, tetapi Soekarno tidak hendak memisahkan antara agama dengan negara. Inilah perbedaan konsepsi nasionalisme Soekarno dengan konsepsi nasiolisme di Eropa. Itu tampak dari salah satu sila dalam Pancasila yang diajukannya memasukkan hal ketuhanan. Artinya, hal fundamental dalam agama telah dimasukkan sebagai salah satu prinsip dalam dasar negara.

Hanya saja, agama yang dimaksudkan di sini bukanlah satu agama saja, melainkan seluruh agama yang diakui oleh negara. Dari sini, sangat jelas, bahwa nasionalisme Soekarno bukanlah nasionalisme sekuler, melainkan nasionalisme-religius. Dan disebabkan di Indonesia terdapat banyak agama, maka religiusitas pada nasionalisme untuk Indonesia tidak diambil dari satu agama saja, melainkan dari semua agama dalam arti prinsip-prinsip moralnya. Gagasan ini sangat realistis mengingat semua agama mengajarkan kebaikan. Menurut Soekarno, dalam konteks bernegara, kebaikan substansial itulah yang harus dikedepankan, bukan formalitas agama.

Avatar
Nanang Nanang Islamhttps://www.harakatuna.com
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Jangan Bandingkan Habib Rizieq dengan Benny Wenda!

Tagar #JokowiTurun bergema di jagat Twitter, berisi tentang cuitan netizen yang mengolok-olok Presiden Jokowi sebagai presiden gagal yang, karenanya, harus turun. Gara-garanya begini: Organisasi...

900 Pejuang Suriah Pulang dari Nagorno Karabakh

Harakatuna.com. Damaskus - Lebih dari 900 pejuang Suriah pro-Turki telah kembali ke negara itu setelah berakhirnya pertempuran di daerah sengketa Nagorno-Karabakh. Hal itu diungkapkan pengawas perang Suriah yang...

Permohonan Maaf Habib Rizieq Bukti Revolusi Akhlak?

Kelihatannya memang benar, meski tak sepenuhnya setuju, bahwa kedatangan Habib Rizieq, sosok yang disebut sebagai Imam Besar ini, tidak lain sebagai salah satu faktor...

Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Pidato Rizieq Shihab pada acara Reuni Aksi Bela Islam 212 kemarin, terlihat daya juang Rizieq Shihab mulai melemah. Dari suaranya, seperti orang sedang sakit....

Tidak Ada Toleransi Bagi Teroris

Harakatuna.com. Jakarta - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan tidak ada toleransi bagi teroris di Poso, Sulawesi Tengah, yang dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur...

Hukum Mengakses Wifi Tanpa Izin, Haramkah?

Di zaman serba canggih ini, kebutuhan akan akses internet sangat meningkat. Akses internet telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi layaknya kebutuhan sandang, papan...

Kampus Harus Berani Suarakan Kewaspadaan Penyebaran Paham Radikal

Harakatuna.com. Medan – Perguruan tinggi dengan para akademisinya aktif menyuarakan kewaspadaan penyebaran paham radikal intoleran serta memberikan pembelajaran literasi digital kepada mahasiswa dan generasi...

Melihat Poros Radikalisme di Tubuh Pendidikan dan Tafsir Remoderasinya

Bukan barang aneh dan baru di tubuh pendidikan tercemari paham radikalisme. Keterlibatan dan bersemayam paham radikal sudah lama dan nampaknya seolah menjadi model di...