30 C
Jakarta
Array

Membaca Kaedah Fiqih Lewat Karya Ulama Nusantara

Artikel Trending

Membaca Kaedah Fiqih Lewat Karya Ulama Nusantara
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Membaca Kaedah Fiqih Lewat Karya Ulama Nusantara

Oleh: Mohammad Khoiron*

Dua buah kitab di bawah ini bukanlah karya ulama Timur Tengah, tapi ini murni karya salah satu ulama Madura. Namanya adalah “al-Durrah al-Zahiyyah fi Halli al-Faadzi Idhaahi al-Qawaid al-Fiqhiyah” yang tak lain merupakan syarah (dalam kajian filologi, istilah syarah merupakan ulasan panjang lebar atas karya sebelumnya) dari “Iedah al-Qawaid al-Fiqhiyah” yg ditulis oleh Syekh Abdullah al-Lahji salah seorang pakar Ushul Fiqih di Madrasah Shalatiyah Mekkah.

Beliau (Syekh Abdullah al-Lahji) adalah guru dari KH. Ahmad Barizi Muhammad dan KH. Ahmad Ghazali Muhammad Fathillah yang tak lain Shahibul Mu’allif.

KH. Ahmad Barizi Muhammad Fathillah merupakan salah seorang ulama nusantara yang mungkin keberadaan beliau tidak banyak diketahui oleh orang. Karena memang dari sisi muamalah, beliau banyak berkhidmah di dalam pesantren, yakni Pondok Pesantren al-Mubarak Lanbulan yang terletak di Desa Batorasang, Sampang, Madura.

Walaupun begitu beliau sudah banyak melahirkan karya-karya tulis di bidang nahwu, sharraf, balaghah, mantiq, dan fiqih. Tak kurang 71 kitab yang kesemuanya berbahasa Arab telah beliau lahirkan.

Baca: Istilah Yang Wajib Diketahui Dalam Ilmu Hadis

Begitupun dengan adik beliau, yakni KH. Ahmad Ghazali Muhammad Fathillah, penulis kitab al-Durrah al-Zahiyyah ini, banyak karya yang telah dilahirkan baik yang sudah terpublish, atau yang belum.

Hanya saja pada spesifikasi keilmuan, beliau lebih banyak menulis kitab tentang atau yang berkenaan dengan ilmu falak. Bahkan, gelar ahli falak dari Madura telah disematkan kepada beliau.

Namun menariknya, meskipun KH. Ahmad Ghazali MF, concern di bidang astronomi (falak), hal itu tak membuatnya untuk tidak menekuni bidang yang lain. Contoh kongkretnya adalah karya “al-Dhurrah al-Zahiyah” yang penulis kemukakan. Kitab setebal dua jilid ini mengindentifikasi bahwa beliau tidak hanya pakar di bidang astronomi, namun juga pakar di bidang fiqih dan ushulnya. Mengingat canggihnya penjabaran beliau terhadap kitab sebelumnya (Iedah al-Qawaid al-Fiqhiyah) yang ditulis oleh Syekh Abdullah al-Lahji yang tak lain adalah guru beliau.

Meski karya ini lahir jauh setelah gurunya wafat, namun jika dilihat dari aspek penjabaran yang sangat holistik dan integral, menandakan seolah beliau berada pada satu pemahaman dengan apa yang diinginkan oleh gurunya.

Hal ini menurut penulis pribadi persis sama dengan apa yang dialami oleh al-Suyuthi tatkala menulis lanjutan dari tafsir al-Qur’an yang sebelumnya pernah dimulai oleh al-Mahalli. Namun sebelum al-Mahalli menyelesaikan tafsir tersebut, ia keburu dipanggil keharibaan Allah.

Tafsir ini mengambang tanpa ada kelanjutannya selama beberapa dekade, namun kemudian al-Suyuthi menyempurnakannya dengan tidak keluar dari jalur pemahaman yang ditulis oleh al-Mahalli pendahulunya itu.

Ihwal dari penulisan kitab yang menjadi syarah dari karya Syekh Abdullah al-Lahji ini sebenarnya merupakan harapan dari beliau yang dahulu pernah berkata: “Semoga suatu saat ini salah seorang santriku akan memberikan komentar dan ulasan panjang lebar terhadap karyaku ini (baca: Iedah al-Qawaid al-Fiqhiyah)”. Pernyataan beliau ini terekam di benak KH. Ahmad Barizi dan KH. Ahmad Ghazali yang kala itu masih belajar di Mekkah.

Dari harapan itulah kemudian KH. Ahmad Ghazali mencoba memberikan ulasan yang begitu komprehensif. Bahkan dalam taqridz (kata pengantar) yang ditulis oleh KH. Ahmad Barizi, atas karya adiknya itu, beliau memberikan testimoni: “Jika seandainya Syekh Abdullah al-Lahji masih hidup, tentu ia akan sangat senang karna harapan dan cita-citanya itu kini telah menjadi nyata”.

Ini pelajaran penting bagi kita, terutama kaum santri, untuk terus berkarya. Karena karya itulah yang kemudian menjadikan kita abadi. Jika merujuk pada apa yang diungkap oleh Pramoedya Ananta Toer, menulis atau melahirkan karya adalah bekerja untuk keabadian. Badan boleh hancur berkalang tanah, namun pemikiran masih tetap di baca oleh generasi ke generasi berikutnya. Wallahu A’lam Bis Shawab []

*Akademisi di Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama dan Sekretaris Aswaja Center NU DKI Jakarta

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru