29.4 C
Jakarta

Membaca Gerakan Kelompok Muslim Urban Menengah Atas: Jualan Lembaga Hingga Kaderisasi Khilafah

Artikel Trending

KhazanahTelaahMembaca Gerakan Kelompok Muslim Urban Menengah Atas: Jualan Lembaga Hingga Kaderisasi Khilafah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Sebuah pengalaman menarik ketika saya diberikan tanggung jawab untuk menjadi guru les private yang mengajar anak-anak kecil, dari rumah ke rumah. Bertemu dengan keluarga yang berbeda dari satu ke yang lain. Kenyataan itu membuat saya semakin memiliki ruang belajar bagaimana pola relasi yang diterapkan orang tua kepada anak mereka.

Tentu, semua keluarga yang menghadirkan tutor ke rumah adalah keluarga menengah kelas atas. Mereka kurang memiliki kepuasan jika hanya mengandalkan pembelajaran sekolah yang dilaksanakan secara online. Secara finansial, dapat kita pahami sebenarnya mereka tidak terlalu butuh tutor. Mereka hanya membutuhkan teman belajar untuk anaknya yang selama ini sibuk dengan kegiatan-kegiatan online.

Namun, Ada hal yang menarik dari berbagai pengalaman yang saya peroleh selama menemani belajar. Tentu, saya belajar banyak bagaimana kehidupan, perilaku yang ditampilkan oleh beberapa keluarga tersebut. Lambat laun, saya menikmati keakraban yang cukup asik dalam menikmati kebersamaan yang terjalin.

Nyatanya, kelompok muslim urban menengah ke atas ini, hartanya bukan main. Mereka memiliki lembaga pendidikan Islam, lembaga swadaya masyarakat yang menyalurkan berbagai bantuan kepada masyarakat. Dan secara nyata mereka adalah bagian dari HTI garis keras. Dalam setiap sudut rumah, bendera yang dipakai oleh ormas terlarang tersebut berkibar di setiap sudut rumah secara jelas, ditambah dengan atribut-atribut seperti topi, sorban bahkan baju yang dipampang secara jelas. Apakah berhenti pada simbol tersebut? Mari kita lihat gerakan ciamiknya!

Islamofobia menjadi alibi untuk serang menyerang

Melawan gerakan kelompok-kelompok mereka semacam sedang makan angin. Bukan malah mengenyangkan akan tetapi semakin membuat lapar. Sebab gerakan mereka sudah mengakar, sistematis, melalui label-label Islam, syar’i laku dipasaran.

Kelompok muslim perkotaan haus untuk memiliki circle keberagamaan dan ekspresi keislamaan yang praktis. Akhirnya, terciptalah mereka demikian dengan bergabung para ustaz-ustaz dengan geliat hijrah yang cukup tinggi. Melalui kondisi sebagai orang sibuk, kelompok-kelompok urban tidak memiliki waktu untuk belajar Islam di pondok pesantren, mau tidak mau mereka terjerembab dengan kelompok-kelompok islamis yang memiliki pasar kelas menengah. Bergabunglah bersama dan menciptakan kekuatan luar biasa mengakar.

BACA JUGA  Cap Radikal dan Simbol Prematur yang Disematkan Pada Relasi Sosial Keberagamaan Kita

Maka tidak heran ketika menggemakan dan menolak kelompok-kelompok yang membawa label syar’i, label Islam pada setiap langkah yang dilakukan, kita justru diklaim fobia terhadap Islam. Ini yang saya maksud bahwa pemaknaan Islamofobia justru dijadikan sebagai alibi untuk menyerang kelompok-kelompok yang berusaha menkounter narasi pemahaman Islam yang selama ini anti pancasila, dan tidak mendukung Indonesia untuk terus eksis di masa yang akan datang.  Mereka sudah memiliki ruang ekspresi yang sangat ciamik dan sulit dipecahkan oleh kita.

Seperti apa masa depan Indonesia?

Melalui tulisan “Unfinished Indonesia” yang pernah saya tulisan. Kita bisa memastikan bahwa pada abad mendatang, perkembangan kelompok Islamis di Indonesia terus berkembang pesat.

Menurut Peter Berger, dalam dunia yang bersifat materialistis ini, agama, atau pandangan dunia keagamaan, adalah ‘kanopi suci’ (Berger 1967). Kelompok-kelompok urban akan menyuburkan kesalehan bersama dengan sekelompoknya dan menyebarkan ideologinya melalui kegiatan-kegiatan yang memberiken kesejahteraan kepada masyarakat secara khalayak.

Maka kita yang sekarang tidak memiliki power untuk melakukan demikian, narasi-narasi semacam ini dianggap membual, tidak memberikan dampak kepada masyarakat yang bisa mengenyangkan, ataupun efek kenyang kepada masyarakat. Tanpa berhenti untuk memproduksi konter-narasi yang bisa dibaca oleh khalayak. Strategi yang pas untuk dilakukan adalah membuat organisasi serupa, lembaga serupa sebagai upaya perlawanan, tentu tujuannya adalah merangkul masyarakat untuk tidak jatuh dalam pelukan para khilafah garis keras.

Kelompok-kelompok muslim perkotaan akan terus bergerilya dan menampilkan space yang cukup renggang dengan muslim pedesaan, lebih lagi terhadap pondok pesantren yang tetap berkiprah dengan semangat juang serta sikap nasionalisme yang tinggi mempertahankan NKRI.

Meski demikian, semangat dan keyakinan bahwa Indonesia tidak akan jatuh kepada kelompok-kelompok muslim perkotaan semacam itu harus terus kita pupuk dengan berbagai gerakan yang bisa dilakukan. Segala daya dan upaya untuk mempertahankan kedaulatan NKRI merupakan harga mati yang tidak bisa dibayar dengan sepeser uang. Wallahu a’lam

 

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru