27.7 C
Jakarta
Array

Membaca Buku Masih Relevankah?

Artikel Trending

Membaca Buku Masih Relevankah?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Dari sekian banyak survei memang menunjukkan budaya baca buku di Indonesia masih sangat memprihatinkan, termasuk faktor rendahnya budaya membaca buku antara lain disebabkan buku belum menjadi kebutuhan. Pasar buku bacaan kurang merata ditambah mahalnya harga buku. Di samping itu, game on-line, media sosial ataupun segala hal terhubung internet semata-mata dianggap menjadi faktor terkikisnya budaya baca.

Apalagi saat ini banjir informasi di internet. Orang-orang makin mudah cari informasi lewat smartphone, sehingga buku apapun yang kini ada terasingkan. Mereka lebih gampang baca lewat gawai yang tinggal klik. Kondisi ini membuat satu pertanyaan menggelitik, yakni masih relevankah membaca buku di antara menjamurnya informasi yang mudah diperoleh melalui perangkat teknologi?

 

Buku bacaan memberikan kontribusi keilmuan terhadap pembacanya. Buku merupakan kekayaan intelektual berisi ilmu pengetahuan ditulis para ahli di bidangnya, sehingga kita dapat mengaplikasikan pengetahuan itu melalui tulisan. Oleh karena itu, membaca merupakan salah satu hal yang paling signifikan mendorong kita untuk lebih banyak lagi mengumpulkan ide dan kekayaan bahasa melalui oretan.

Lebih dari itu, membaca tak sekadar menambah pengetahuan dan menguak informasi yang tersebar di seluruh dunia, membaca buku ternyata memberikan keuntungan tersendiri bagi kesehatan dalam berpikir lebih kompleks tentang persoalan apapun untuk kita pecahkan. Di antaranya, meringankan stress, mencegah datangnya penyakit Alzheimer (kehilangan memori) pada usia dini. Mereka yang hobi membaca buku, biasanya memiliki otak yang lebih baik dalam fokus dan konsentrasi. Dan membaca buku sebelum tidur membantu kita mendapatkan tidur yang berkualitas.

Masih Digemari

Berbagai keuntungan dari membaca buku yang tak didapat ketika membaca e-book lewat smartphone membuat kita masih menggemari kebiasaan membaca buku. Apalagi saat ini buku makin mudah dijangkau. Langkah-langkah positif telah diupayakan agar buku jadi kebutuhan masyarakat. Seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah memprogramkan gerakan berskala nasional seperti Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Nasional, Gerakan Nasional Membaca Buku, Gerakan Orang Tua Membacakan Buku. Dan Perpustakaan Nasional rutin menggelar Safari Nasional Gerakan Membaca melibatkan perpustakaan, pegiat literasi, serta masyarakat di daerah.

 

Para pegiat literasi dalam wadah taman bacaan masyarakat (TBM) sebenarnya juga tak tinggal diam. Mereka mandiri bergerak bermodalkan kemampuan serta sarana seadanya turut mendukung apa yang jadi tujuan negara yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak heran apabila beberapa waktu lalu pemerintah menindaklanjuti gagasan Komunitas Pustaka Bergerak Indonesia di bawah koordinasi Nirwan Ahmad Arsuka. Melalui Pos Indonesia, pemerintah menggratiskan biaya pengiriman buku tiap tanggal 17 setiap bulannya ke perpustakaan atau TBM yang sudah terdaftar.

 

Selain rutin menggelar kegiatan berbasis literasi, para relawan tak segan-segan mendekatkan buku secara langsung pada masyarakat berbekal armada milik mereka. Jamak kita dengar, baik dari media cetak maupun online kabar pustaka bergerak di Indonesia dengan sepeda onthel keliling, gerobak pustaka, kuda pustaka, becak keliling, bemo pustaka, angkot pustaka hingga menggelar lapak baca.

 

Lebih menakjubkan lagi ada pegiat literasi rela berjalan kaki menenteng buku mendatangi masyarakat demi mendapatkan akses bahan bacaan. Terlihat potensi respons masyarakat cukup bagus dalam hal ini. Bahkan pameran buku di sejumlah kota pun cukup ramai dipadati pengunjung. Setidaknya kita tahu kaum penggemar buku tetaplah ada di tengah kegelisahan rendahnya literasi baca masyarakat kita.  

Membudayakan Budaya Baca

Dalam membudayakan budaya, tentu langkah strategisnya adalah memfasilitasi buku bacaan bukan hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Lembaga-lembaga swasta harusnya bisa menindaklanjuti gerakan nasional membaca karena didukung anggaran memadai. Terbuka menyelenggarakan akses bahan bacaan bagi masyarakat seperti pojok literasi di bank, mall, rumah sakit, stasiun, hotel, bandara, sampai angkutan udara sekalipun.

Jadi, siapa pun punya kesempatan berkontribusi membentuk kebiasaan membaca tidak lain tujuannya adalah guna mewujudkan karakter bangsa Indonesia gemar membaca, sebab mengubah bangsa yang gemar membaca membutuhkan langkah-langkah konkret yang dipastikan mengubah pola kehidupan supaya lebih kreatif, dan produktif.

Karena salah satu domain produk budaya baca itu berangkat dari kebiasaan dalam beraktivitas, khususnya dalam membudayakan budaya baca ini. Di sisi lain, buku sebagai bentuk sarana bagi generasi intelektual untuk mengasah kemampuan dalam mengembangkan suatu gagasan di bidang keilmuan apapun.

Pada akhirnya, suatu bangsa berbudaya baca tinggi tak akan terwujud tanpa diimbangi meratanya sebaran bahan bacaan. Bila kehadiran buku sudah di tengah-tengah masyarakat tentu mudah menggenjot minat baca. Apalagi budaya baca tidak hanya didorong dari aspek sarana, tetapi juga komitmen untuk mengisi aktivitas yang produktif tujuannya untuk melambungkan kebudayaan dalam membaca di negeri ini.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru