25.4 C
Jakarta

Memaknai Nasionalisme Pada Momen HUT RI, Apa Hanya Sekadar Persoalan Pasang Bendera Merah Putih?

Artikel Trending

KhazanahTelaahMemaknai Nasionalisme Pada Momen HUT RI, Apa Hanya Sekadar Persoalan Pasang Bendera...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Ramai soal bendera Palestina, menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-76. Sebuah klinik di Perumahan Villa Tangerang Elok, Kelurahan Kuta Jaya, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten malah mengibarkan bendera Palestina (Okezone.com).

Fakta ini sebenarnya bukan barang baru. Sebab kalau kita lihat di beberapa jalan kota besar, seperti Yogyakarta, Surabaya, bahkan Jakarta, sering saya melihat bendera Palestina yang berkibar di beberapa tempat. Biasanya tempat itu menunjukkan pengumpulan donasi sosial untuk Palestina.

Fakta tersebut, barangkali kita perlu telaah lebih jauh tanpa terburu-buru komentar sebagai sikap positif yang harus dimiliki oleh umat Islam. Tidak hanya itu, tentu kita harus memberikan apresiasi begitu besar kepada orang-orang yang memiliki aksi kemanusiaan yang totalitas terhadap saudara kita di Palestina.

Dimomen kemerdekaan ini, fenomena semacam ini akan menjadi perbincangan yang cukup blunder, saling lempar dan klaim paling nasionalis, paling cinta NKRI menjadi sering kita jumpa pada momen Agustusan. Isu kenegaraan yang begitu sensitif sangat apik untuk digoreng oleh beberapa kelompok yang memanfaatkan momentum kemerdekaan.

Menghormati HUT NKRI, Salah Satunya Mengibarkan Bendera Merah Putih

Selama kita masih hidup sebagai warga negara Indonesia, menjadi wajib hukumnya  untuk tidak mencederai segala atribut yang melekat dan menjadi jati diri bangsa Indonesia, salah satunya menghargai bendera merah putih. Jika persoalan ini ditolak, sebaiknya cepat-cepat pindah dari Indonesia.

Persoalan yang lain kemudian, apakah mengibarkan bendera merah putih bukti bahwa kita nasionalis? Berarti kita hanya perlu mengibarkan bendera merah putih untuk menunjukkan diri nasionalis? Kalau begitu berarti boleh korupsi, boleh makan uang rakyat, asal mengibarkan bendera merah putih, lalu saya nasionalis, sahut kelompok lain. Perdebatan logika semacam ini tidak akan pernah selesai. Pemaknaan nasionalis ini sangat kompleks, setiap individu tentu memiliki pandangan dan impelementasi yang berbeda.

Pemaknaan yang menjadi masalah adalah orang-orang yang menolak untuk membela NKRI, tidak ada dalil untuk cinta Indonesia, seperti Khalid Basalamah, dan orang berjuang terus menerus untuk menegakkan khiafah, seperti ustaz Felix Shiauw, dkk. Ini yang harus kita lawan bersama. Kelompok ini membunuh NKRI, menghancurkan NKRI, dengan dalih agama.

BACA JUGA  Menimbang Sisi Toleransi Ustaz Sobri Lubis

Lagian, apa salahnya sih mengibarkan bendera merah putih. Kita sedang menghargai perjuangan para pahlawan, Ibu Fatmawati yang sudah menjahit bendera merah putih, para pahlawan nasional yang sudah berjuang susah payah. Ibarat punya pasangan, kalau kamu sudah komitmen dengan pasanganmu, kok bisa-bisanya masang foto perempuan lain di media sosialmu, misalnya.

Fenomena ini dinamakan ketidaksetiaan bukan? Barangkali pemaknaannya sama dengan orang-orang yang keukeuh tidak mau padang bendera merah putih pada momentum kemerdekaan, malah pasang bendera negara lain, contohnya.

Tantangan Bangsa Indonesia Semakin Besar Melawan Para Pendekar Khilafah

Mau tidak mau, konsekuensi logis yang harus diterima sebagai penulis adalah cacian, makian karena menolak ide besar Islam kaffah yang dibawa oleh para akhi-ukhti yang gagal dari kejayaan Islam di masa silam.

Bagi saya ini hanya masalah kecil, jika dibandingkan dengan konsekuensi yang harus diterima dengan membiarkan para milenial, penerus bangsa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia karena terlena dengan konsepsi kenegaraan yang sesuai dengan aturan Islam.

Ini adalah tantangan kita, momentum kemerdekaan menjadi salah satu refleksi bahwa PR kita sangat banyak. Tanggung jawab menjadi bagian dari bangsa Indonesia, sebagai anak muda harus terus besar, nyalinya juga besar, sebab bukan lagi soal pertarungan tentang narasi siapa paling benar lalu ikut pada kebenaran itu sendiri.

Persoalannya adalah mereka mencari afirmasi dengan banyaknya massa agar terus membenarkan khilafah sebagai sistem yang sangat ciamik bagi negara Indonesia yang katanya kapitalis, tidak bisa menangani wabah, dan narasi kebencian lainnya.

Fenomena ini juga pasti kita ingat sebuah pidato yang disampikan oleh Ir Soekarno saat Hari Pahlawan 10 November 1961:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Perjuangan kita berat, melawan para pengasong khilafah, para teroris, penghancur negeri, dan berbagai elemen yang mencoba merusak NKRI, dan mereka semua adalah bagian dari Indonesia. Wallahu a’lam

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru