32.1 C
Jakarta

Memaknai Istilah Islamophobia

Artikel Trending

KhazanahTelaahMemaknai Istilah Islamophobia
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com –kenapa ya buzzer-2 itu islamophobia padahal dirinya juga Islam ,film animasi berprestasi utk anak-2 bernuansa islam dengan nilai-2 positif aja jd masalah utk mereka. Hidupnya penuh kecurigaan tak beralasan. sangat negatif. Indonesia bangkit yuk! jauhkan diri dari racun2 buzzers” sebuah cuitan yang ditulis oleh Anissa Pohan pada 22 Juni pukul 10.31.

Cuitan ini menuai banyak respon oleh para netizen. Termasuk para influencer yang konsen menyuarakan ajaran-ajaranIslam juga membaur dalam komentar atas cuitas tersebut. tanpa disebutkan namanya, sederhananya kita akan melihat berbagai respon yang cukup banyak dengan ragam perspektif yang berbeda akibat cuitan yang kontroversial itu.

Maklum saja, karena Indonesia adalah negara dengan jumlah umat muslim terbesar. Hal-hal yang berhubungan dengannya, menjadi perbincangan yang cukup deras dengan ragam argument yang dilontarkan.

Cuitan Anissa Pohan tidak lain sebagai respon atas Film Nussa-Rara yang sempat menjadi trending lantaran ada yang berkomentar perihal Taliban. Ini menuai banyak respon, termasuk Anisssa Pohan yang menyebutnya Islamophobia.

“Islamhopobia” katanya

Istilah Islamophobia bisa ditemukan dalam buku karya Karen Amstrong dengan judul “Islamofobia”. Jika dimaknai secara literlik, istilah Islamphobia dimaknai  sebagai perasaan ketakutan terhadap Islam sebagai agama doktrin dan peradaban. Gejala Islamophobia di Indonesia berkembang subur karena berbagai alasan.

Akan tetapi dalam buku Karen Amstrong, istilah ini mencuat pasca kejadian 9/11 di Amerika Serikat yang memunculkan banyak  pembicaraan soal Islam. Pada masa itu, Islam yang dikenal sebagai agama kekerasan, teroris dan sebagainya perlahan banyak orang yang mencari tahu tentang ajaran Islam yang sebenarnya. Pada kenyataanya, Islam adalah agama humanis yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Fakta ini membuat populasi muslim di Amerika saat ini sebanyak 0.9 %. Dengan fakta ini, apakah Islamophobia hilang? Tentu tidak. Stigma negatif terhadap Islam yang mengajarkan kekerasan tersebut masih banyak, tentu masih ada tuduhan-tuduhan Islam teroris, Islam keras, Islam menghalalkan darah manusia seiring dengan eksistensi teroris yang menggaungkan nama Islam dalam aksi-aksi terorisme yang digencarkan.

Islamisphobia dan Islamophobia

IAN Almond dalam bukunya yang berjudul “Nietzche Berdamai dengan Islam” menyebut istilah Islamisphobia. Istilah ini sama dengan pemaknaanya terhadap Islamhopobia. Akan tetapi, Almond nampaknya begitu kritis dengan berbagai alasan menggunakan istilah Islamisphobia. Ajaran Islam adalah ajaran humanis, istilah Islamophobia nampaknya kurang tepat.

BACA JUGA  Memaknai Nasionalisme Pada Momen HUT RI, Apa Hanya Sekadar Persoalan Pasang Bendera Merah Putih?

Istilah tersebut dipakai untuk merepresentasikan ketakutan terhadap representasi ajaran Islam yang ditampilkan oleh berbagai penganut Islam yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Jika dilihat dari konteks keislaman di Indonesia, eksistensi Islam di Indonesia dari simbol yang digunakan oleh penganut Islam secara tidak langsung melekat sebagai ajaran Islam itu sendiri.

BACA JUGA  Referendum Khilafah: Tawaran atau Keharusan?

Dalam hal pakaian, misalnya. Orang-orang yang memakai celana cingkrang, jenggot tebal, secara tidak langsung alam bawah sadar kita menyimpulkan bahwa orang tersebut adalah pengikuti HTI. Kelompok ini kerap kali mempromosikan negara Islam, menyusupi berbagai kebencian pada negara dan perilaku anti negara lainnya. Dalam konteks yang masih sama, persoalan jilbab juga turut menjadi perbincangan yang amat serius. Jilbab ada pengelompokan, ada jilbab syar’i dengan ciri-ciri panjang, menutup dada, bahkan ada juga yang memakai niqab, cadar serta model jilbab lainnya.

Jilbab kemudian direpresentasikan sebagai simbol kesalehan seseorang. Parahnya lagi, model jilbab turut menjadi representasi ajaran Islam yang dianut. Orang yang bercadar secara tidak langsung dituduh teroris, eksklusif, dan berbagai stigma negatif lainnya. Sebenarnya pemikiran semacam ini tidak boleh dimiliki oleh kita selaku umat muslim. Akan tetapi, pada kenyatannya kebanyakan dari beberapa tampilan muslim diatas adalah teroris, dan tampilan Islam keras lainnya.

Inilah oleh Almond yang dibahas. Islamisphobia lebih ditekankan pada ketakutan-ketakutan yang ditampilkan kepada orang-orang yang merepresentasikan Islam yang tidak sejalan dengan humanisme, penentangan terhadap sistem negara atau aksi lainnya yang mengatasnamakan Islam.

Kembali pada cuitan Anissa Pohan. Menjadi sangat wajar ketika kita merespon penyakit Islamophobia, sebab pendudukan muslim di Indonesia sangat besar. Pada film Nussa-Rarapun, yang turut dikomentari oleh Anissa menjadi sangat wajib untuk terus kita kritisi dengan orang yang dibelakang layarnya seperti Felix Shiauw. Tanpa menegasikan apresiasi dan prestasi terhadap film tersebut, terus gencarkan membuang orang-orang yang anti NKRI. Wallahu a’lam

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru