29.6 C
Jakarta

Memahami Motif Dibalik Konflik Antara Arab Saudi dan Iran di Suriah

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahUlasan Timur TengahMemahami Motif Dibalik Konflik Antara Arab Saudi dan Iran di Suriah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Timur Tengah tidak berhenti dari pertikaian. Pihak Arab Saudi dan Iran seringkali menjadi dalang dibalik panggung pertikaian. Keterlibatan kedua negara tersebut  karena kepentingan national, seperti yang terjadi di Suriah. Konflik Suriah berawal dari gejolak Arab Spring dan menjadi arena Proxy War antara kubu Arab Saudi dan kubu Iran. Arab Saudi mendukung perlawanan Oposisi terhadap rezim, sedangkan Iran totalitas mendukung Presiden Bashar al-Assad. Keinginan Arab Saudi dan Iran untuk memberi pengaruh besar, keamanan wilayahnya serta mendapat keuntungan dari kawasan Timur Tengah khususnya di Suriah. Kontestasi politik menjadikan kedua kubu ini harus mengorbankan dari sektor finansial, politik, dan militer. Hal Ini sekaligus menegaskan bahwa Suriah merupakan wilayah yang cukup strategis.

Kepentingan Ekonomi dan Politik

Kebijakan politik luar negeri Iran untuk mendukung Bashar al-Assad merupakan balasan atas bantuan Suriah kepada Iran sejak meletusnya perang Irak-Iran tahun 1980-1988. Sikap politik mendiang Ayah Bashar al-Assad, yaitu Hafes al-Assad menjadi pertimbangan kuat Iran tidak bisa lepas dari Suriah.

Suriah adalah negara yang pertama kali menyatakan dukungan kepada Iran sejak jatuhnya rezim Shah Pahlevi 1979. Hafes al-Assad mengirim surat telegram kepada Khomeini, dalam pesannya Hafes memuji kemenangan rakyat Iran. Hafes mengirim Rif’at sebagai komandan pertahanan Suriah untuk membahas kerjasama.

Sedangkan negara tetangga seperti Irak, Arab Saudi, Yordania dan Mesir merasa khawatir atas kemenangan Khomeini. Sikap Khomeini terhadap negara-negara Arab cukup keras, termasuk kepada Mesir yang melakukan perjanjian kerjasama dengan Israel dan hubungan dekat antara Mesir-Amerika. Khomeini memutuskan hubungan diplomatik dengan Mesir. Kebijakan yang dilakukan Khoemini ini mendapat simpatik dari Hafes al-Assad, Suriah menemukan sekutu untuk melawan Israel.

Pascarevolusi Iran 1979, hubungan Iran dan Barat mulai retak. Munculnya Imam Khomeini sebagai tokoh revolusioner mengubah wajah Iran secara total dari awalnya mendukung Amerika hingga berbalik membenci, ketidaksukaan itu ditunjukkan dengan mengambil alih sejumlah Kedutaan Besar. Termasuk keduataan Israel direbut dan diserahkan kepada Palestina. Semua aset negara yaitu perusahaan minyak yang dikusai Amerika dinasionalisasikan oleh penguasa baru Iran.

Pada masa kepemimpinan Ahmadinejad sebagai Presiden Iran tahun 2005 semakin merenggang. Iran mengembangkan program nukilirnya serta kepentingan Amerika sebagai negara paling berpengaruh di Timur Tengah.

Ketidaksukaan Amerika kepada Iran juga diikuti oleh negara-negara sekutunya termasuk Saudi, Mesir. Hingga pada tahun 2007, Iran mendapat sanksi dari Dewan Keamanan PBB terkait nuklirnya yang dianggap oleh Amerika sebagai ancaman kestabilan sistem.

Sanksi ekonomi dan embargo perdagangan yang terus dialami Iran tidak menghalangi Iran memperbaiki sektor ekonomi dan infrasturkurnya. Iran berhasil memacu pertumbuhan dan perkembangan ekonomi hingga ke 17 dunia pada tahun 2011 sebagaimana dilaporkan statistik IMF. Iran berhasil mengimpor bahan pangan dan bahkan sejak 2011 Iran mengekspor gandumnya ke berbagai negara. Pendapatan negara tidak hanya dari sektor migas namun sektor non migas terus meningkat tajam menjadi USD 105 miliar pada tahun 2012.

Kebijakan pemerintah Iran membantu Presiden Bashar dalam mempertahankan posisinya sebagai penguasa Suriah merupakan langkah tepat, sebagai salah satu jalan memperkuat sekutu di kawasan Timur Tengah. Iran melihat Arab Saudi terus membangun koalisi negara-negara teluk dalam rangka melemahkan Iran dari berbagai sektor. Ajakan Saudi terhadap anggota GCC yaitu Qatar, Kwait, Bahrain, Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menghentikan hubungan dengan Iran. Nilai perdagangan Iran dengan GCC mencapai 22 miliar dollar AS.

Untuk tetap menstabilkan perekonomian, Iran terus berusaha menjalin kerjasama negara lain, pilihanya adalah Suriah. Mengingat kondisi geografis Suriah merupakan negara terdekat dan wilayahnya sangat strategis yaitu menembus transaksi perdagangan dengan negara-negara Eropa dan Afrika. Maka pada tahun 2011 Iran dan Suriah menandatangi kesepakatan gas alam senilai 10 miliar dollar AS. Termasuk melibatkan Irak dalam kesepakatan ini. Pembangunan pipa gas alam dari Iran melewati Irak hingga Suriah sampai ke Mediterania serta Lebanon. Keuntungan yang didapat akan dibagi sebagaimana Irak mendapat 20 juta meter kubik gas alam perhari, Suriah 20-25 juta meter kubik perhari. Sebenarnya proyek besar Iran sudah berjalan sejak tahun 2008 dengan nilai proyek sebesar 1,3 miliar dollar AS.

Arab Saudi gagal menjinakkan Suriah sebagai mitra ekonomi meskipun Suriah tergabung dalam Liga Arab. Harapan terbesar Saudi menjadikan Suriah sebagai akses utama perdagangan minyak melalui pipanisasi menjadi terhalangi akibat kokohnya Bashar al-Assad di Suriah. Tujuan Arab Saudi menjatuhkan Bashar sejalan dengan tuntutan pihak Oposisi. Kepentingan utama Saudi yang didukung oleh Amerika acces to oil. Amerika berusaha keras mendapat pasokan minyak yang lebih banyak dikarenakan kebutuhan domestik sekitar 19,150 juta barrel perhari. Salah satu pemasok terbesarnya adalah Arab Saudi.

Stabilitas ekonomi Saudi tergantung dari sektor minyak. Kondisi ekonomi Saudi terganggu pasca-anjloknya harga minyak dunia. Pada tahun 2014 US$ 100 per barel menjadi sekitar US$ 50 per barel. Akibatnya pendapatan Saudi menurun hingga 70%. Saudi mengatur strategi yaitu menjual sebagian saham sekitar 5% Saudi Aramco, Badan Usaha Milik Negara dengan taksiran harga US$ 2,5 triliun atau sekitar 32.500 triliun. Ketidakstabilan ekonomi Saudi mengharuskan melakukan pemutusan hubungan kerja/PHK sekitar 50.000 pegawai, salah satunya perusahaan konstruksi, Saudi Binladin Group.

BACA JUGA  Pertemuan Suriah dan Uni Emirat Arab di Tengah Perubahan Geopolitik Timur Tengah

Arab Saudi juga mengeluarkan banyak anggaran negara untuk kepentingan perang di Yaman dan Suriah. Di Yaman pemerintah Saudi berjuang melawan pemberontak Houthi yang mengancam keamanan wilayah Saudi bagian selatan. Sedangkan di Suriah ikut serta membantu serangan udara melawan ISIS. Dana moneter International (IMF) memperkirakan Saudi akan mengalami defisit hingga tahun 2020.

Kepentingan Ideologi

Arab Saudi dan juga Iran adalah dua negara yang mempunyai pengaruh besar di kawasan Timur Tengah. Hal ini karena kedua negara tersebut mempunyai perbedaan ideologi, yaitu antara sunni dan Syi’ah. Ketidakakuran kedua belah pihak negara mencapai titik puncaknya ketika wacana Iran tentang Revolusi Islam pada tahun 1979 yang dinilai berhasil.

Terlepas dari itu, Iran yang merupakan hampir mayoritas penduduknya adalah Syi’ah sedangkan Arab Saudi mayoritas penduduknya adalah Sunni menjadikan perbedaan aliran ini sebagai salah satu indikator timbulnya ‘perang dingin’. Meski sama-sama terlahir dari rahim Islam, pergolakan yang terjadi di Timur Tengah murni berawal dari sebuah evidensi sektarianisme, bukan unsur keagamaan. Hal ini terlihat nuansa politik sektarianisme yang sangat kental ketimbang nuansa spiritualitasnya.

Semenjak munculnya gerakan-gerakan Islam fundamentalis, radikalis, militan dan ekstrem, mengakibatkan negara-negara di kawasan Timur Tengah mengalami ketidakamanan. Pemimpin Revolusi Islam Iran, yakni Imam Khomeini yang terkenal sangat kental akan ke-syi’ah-annya sehingga memunculkan rasa khawatir bagi negara di kawasan Timur Tengah.

Pergerakan yang dilakukan oleh oknum-oknum revolusi ini menjadi inisiatif bagi negara di kawasan Timur Tengah yang mayoritas penduduknya adalah Sunni dengan memunculkan semangat pergolakan untuk menjadikan Iran sebagai simbol perlawanan Islam, disisi lain Iran memiliki budayanya sendiri sebagai Islam yang bermazhab Syi’ah.

Iran yang berupaya menebar pengaruh revolusi Islam tahun 1979 di kawasan Timur Tengah memperlihatkan eksistensinya di Suriah. Berbagai dukungan dari militan Syi’ah juga sangat membantu Bassar Al-Assad dalam menghadang pihak oposisi yang ingin menjatuhkan kekuasaannya.

Semenjak terjadi revolusi Khomeini di Iran, aliansi Suriah-Iran di bawah kepemimpinan Hafes al-Assad terfokus pada persamaan persepsi dalam hal politik dan ideologi, serta membuang jauh-jauh segala macam bentuk perselisihan. Meski keduanya sama-sama berbeda dalam mazhab Syiah, yang mana Iran berada digolongan Syi’ah mazhab itsna asyari dan Suriah ada digolongan Syi’ah mazhab Alawith Nashiri.

Disamping itu, Musa Shadr yang merupakan pemimpin Syiah di Lebanon, memperkuat perbedaan ini yang dibungkus dengan rasa solidaritas. Ia menyatakan bahwa Mazhab Alawith Nashiri adalah bagian dari Mazhab Syiah. Inilah salah satu cara bagaimana kedua negara ini menjadi aliansi yang solid di kawasan Timur Tengah.

Dalam analisis Scott Lucas, Iran termasuk bagian vital bagi rezim Bashar yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Disamping itu, Iran yang notabene-nya mempunyai kedekatan dalam hal ideologi meskipun Bashar Al-Assad mengklaim adanya penyimpangan dalam aliran Syi’ah yang berasal dari golongan Alawi. Tercatat sejak tahun 1980 Iran menjadikan Suriah sebagai jalur bantuan terhadap pasukan Hizbullah di Lebanon. Hal ini karena posisi Suriah secara geografis adalah jalur utama Iran untuk mengokohkan kekuatan militer pasukan Hizbullah dalam menolak pendudukan Israel.

Isu lain yang mengindikasikan kedekatan erat antara Iran dan Suriah adalah dengan mencanangkan kerjasama dalam bentuk diplomasi budaya, wisata religi, promosi bahasa, dan lembaga resmi. Mulai tahun 1980 an secara resmi kedua negara ini melakukan kesepakatan pertukaran budaya, hubungan mereka dinaungi oleh keduataan besar masing-masing negara. Bagi Iran hal menarik di Suriah adalah wisata religi atau ziarah kubur ke makam Sayyida Zaynab dan Sayyida Rugayya yang merupakan Ahlul Bait. Terbukti bahwa wisatawan yang berasal dari Iran peminatnya sangat tinggi sejak tahun 1950-an.

Tudingan isu Saudi terkait rezim Bashar yang menindas rakyat Suriah, berhasil mengundang simpatisan dari kalangan pengusaha untuk menggalang donasi yang dimotori perusahaan National Fundraising Campaign For Syirian dan donatur lainnya seperti Putra Mahkota Salman, Deputi Pertahanan Saudi sebesar 10 juta SR, Al-Rajhi Bank sebesar 5 juta SR, Mobily perusahaan operator seluler Saudi sebesar 3,4 juta SR.

Sokongan dana tersebut digunakan untuk menyuplai pihak oposisi Suriah. Saudi beralasan bahwa masyarakat Suriah yang mayoritas Sunni membutuhkan keselamatan dari pembantaian pemerintah Bashar. Strategi yang coba dibangun oleh Saudi terbilang sukses dalam memengaruhi oposisi Suriah untuk membangkitkan semangat perlawanannya terhadap rezim Bashar.  Mendengar isu tersebut, kaum minoritas dari Syiah-Alawith juga sukses membangun konsolidasi dalam memepertahankan kekuasaan Bashar. Hal ini dikarenakan Bashar membangun kekuatan militer dengan memposisikan para pejabat militernya dari sekte yang sama dan dari keluarga dekat penguasa.

Tri Febriandi Amrulloh

 

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru