Memahami Hakikat Pancasila


0
5 shares

Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA menemukan fakta mengejutkan mengenai persepsi masyarakat terhadap Pancasila. Bahwa selama 13 tahun terakhir, publik yang pro Pancasila menurun hingga 10 persen. Pada 2005, publik pro Pancasila mencapai 85,2 persen, sementara tahun 2018 hanya 75,3 persen.

Buku yang ditulis di tengah intensitas Yudi Latif menjelajahi Tanah Air dari ufuk ke ufuk berjudul Wawasan Pancasila : Bintang Penuntun untuk Pembudayaan. Pengertiannya bisa dipahami sebagai “wawasan tentang Pancasila” bisa pula sebagai “ wawasan dari Pancasila”. Adapun “bintang penuntun” adalah istilah yang sering disematkan pada Pancasila sebagai panduan dinamis dalam pembudayaan menjadi Indonesia.

Yudi Latif dalam bukunya menyebut bahwa konsepsi tentang dasar (falsafah) negara dirumuskan dengan merangkum lima prinsip utama sebagai “titik temu” (yang mempersatukan keragaman bangsa), “titik tumpu” (yang mendasari ideologi, norma, dan kebijakan negara), serta “titik tuju” (yang memberi orientasi kenegaraan-kebangsaan) negara-bangsa Indonesia.

Bila kini masalah suku dan agama kembali menjadi persoalan, pertanda ada kuman yang melunturkan semangat kebangsaan kita. Ketegangan etno-religius ini harus dipandang sebagai gejala permukaan dari endapan penyakit epidemik yang menyerang sistem saraf Pancasila.

Rumah Pancasila adalah rumah keseimbangan dengan lima prinsip nilai kait-mengait, yang dapat berdiri kokoh manakala dijalankan dengan mengusahakan koherensi antar sila, konsistensi dengan produk-produk perundangan, dan korespondensi dengan realitas sosial. Bibit penyakit bisa timbul karena distorsi dalam pemenuhan nilai intrinsik setiap sila, maupun karena ketimpangan dalam pemenuhan nilai entrinsik yang berkaitan dengan relasi antar-sila.

Pancasila dengan sesanti Bhinneka Tunggal Ika-nya bisa dikatakan sebagai kode genetik bangsa Indonesia. Ia merupakan cetakan dasar yang membentuk karakter bersama sebagai bangsa. Seperti halnya gen pada semesta organisme, autentitasnya tidak selalu dapat dipertahankan. Tanpa penjagaan, perkembangannya bisa saja mengalami mutasi genetik, yang tidak niscaya berubah menjadi lebih unggul, malahan boleh jadi mengalami penurunan mutu (resesif).

Baca Juga:  Mewaspadai Gerakan Kelompok Pengusung Khilafah

Menurut penulis, jurang lebar antara idealitas dan realitas Pancasila itulah yang menjadi sumber krisis kebangsaan hari ini. Kehidupan kebangsaan hari ini diliputi cuaca kebatinan dengan megamendung kerisauan, pertikaian, dan penggelapan. Sulit menemukan bintang penuntun yang menerbitkan kesamaan titik temu, titik tumpu, dan titik tuju.

Visi kebangsaan ibarat cermin kebenaran yang jatuh berkeping-keping. Setiap pihak hanya memungut satu kepingan, lantas memandang kebenaran menurut bayangannya sendiri. Rasa saling percaya pudar; bineka warna sulit menyatu, rasa sulit bersambung, rezeki sulit berbagi.

Secara konsepsional, Pancasila merupakan ideologi tahan banting yang kian relevan dengan perkembangan kekinian. Namun, secara operasional, terdapat jurang yang kian lebar antara idealitas Pancasila dengan realitas pembumiannya. Keampuhan semangat gotong royong yang dikehendaki Pancasila itu hanya bisa diaktualisasikan jika ajaran Pancasila juga dikembangkan secara gotong-royong.

Dalam kemajemukan karakter masyarakat Indonesia, gotong royong adalah nilai fundamental bangsa. Menurut pandangan Bung Karno, gotong royong adalah intisari Pancasila sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem perilaku bersama.

Dengan cara seperti itulah, idealitas Pancasila bisa bergerak mendekati realitas. Tes terakhir dari keampuhan Pancasila teruji ketika setiap sila dan konsepsinya bisa dibumikan dalam kenyataan.

Judul Buku    : WAWASAN PANCASILA : Bintang Penuntun Untuk Pembudayaan
Penulis            : Yudi Latif
Penerbit          : Mizan, Bandung
Cetakan          : I, Oktober 2018
Tebal              : 315 halaman
ISBN               : 978-602-441-089-6
Peresensi       : Bahrur Rosi, Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya


Like it? Share with your friends!

0
5 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.