Meluruskan Pemahaman Tentang Ayat Perang


0
19 shares

 

Aksi terorisme dan radikalisme seiring berjalannya waktu terlihat tumbuh subur di berbagai belahan dunia. Dan lagi, Islam dicemooh sebagai lahan tumbuh suburnya gerakan teror dan radikal tersebut. Cemoohan ini tentu berdasarkan data dan fakta yang jelas, karena memang ada sebagian kelompok ummat Islam yang dengan lantang menyuarakan gerakan tersebut. Dengan motif apa tentunya masih dalam banyak perdebatan, apakah mereka benar-benar ingin melaksanakan perintah al-Qur’an? Ataukah itu faktor ekonomi, politik, maupun sejenis lainnya, yang digaungkan kelompok tertentu untuk menyukseskan kepentingannya?

Sejarah telah mencatat, Islam semakin dihujat sebagai agama yang menggaungkan terorisme dan radikalisme, sejak kasus yang terjadi di Amerika Serikat tahun 2001 lalu. Ya, gedung pencakar langit di sana, menara kembar World Trade Center (WTC) runtuh karena pengeboman bernuansa kecelakaan pesawat yang menabrak gedung tersebut. Dan pengeboman tersebut, disinyalir kelompok Islam radikal sebagai biang keladinya. Tidak cukup pada kasus tersebut, kelompok Islam radikal lain muncul dengan mengatasnamakan ISIS (islamic State of Iraq and Syria) pada tahun 2013, yang selalu menebar kebencian dan permusuhan dengan bungkus jihad.

Fenomena ini tentu menjadi tugas rumah utama bagi seluruh ummat muslim di seluruh penjuru dunia, terutama ummat muslim Indonesia. Karena diakui maupun tidak, di negeri yang ramah ini, disinyalir banyak kelompok yang memiliki pemahaman radikal, yang tentunya dapat mengancam keutuhan kerukunan kehidupan bebangsa dan bernegara. Karena pentingnya hal ini, maka seluruh elemen bangsa terutama ummat muslim harus lebih waspada akan munculnya kelompok-kelompok yang berjiwa radikal tersebut, dengan berbagai cara termasuk berperan aktif untuk menyuarakan perdamaian.

Al-Qur’an; Berjiwa Ramah

Al-Qur’an, pada awal surat Al-Baqarah dijelaskan bahwa ia tidak ada keraguan di dalamnya. Sebagai satu-satunya kitab yang dengan yakin dan percaya diri mengatakan bahwa ia tidak ada keraguan dalam isi kandungannya, tidak mungkin ada satu ayat pun yang termasuk kategori tidak benar, baik yang berupa berita maupun tuntunan dalam menjalankan roda kehidupan. Begitu juga ayat-ayat perang yang dijelaskan di dalamnya. Jika ummat memahaminya secara salah dan serampangan, tentu akan melahirkan pemahaman yang salah, termasuk ummat yang kemudian memiliki pemahaman radikal akibat memahami secara salah terhadap ayat-ayat perang yang ada di dalam al-Qur’an tersebut.

Baca Juga:  Menanamkan Nilai Piagam Madinah dan Pancasila di Generasi Melineal

Dalam sejarah pergerakan Rasulullah menegakkan agama Islam, beliau selalu mengedepankan perdamaian daripada peperangan. Sebelum perang diperintahkan Allah, bahkan dalam banyak ayat Allah menyeru ummat untuk membangun kedamaian dan berbuat kebaikan; menolak perbuatan jahat dengan yang lebih baik (QS. Al-Mu’minun : 96), berpaling dari mereka yang berbuat jahat dengan mengatakan perpisahan (QS. Az-Zukhruf : 89), memaafkan dan membiarkan mereka yang berbuat jahat (QS. Al-Maidah : 13), serta bersabar terhadap mereka dan menjauhinya dengan cara yang baik (QS. Al-Muzammil : 10). Inilah akhlak dan perangai yang dicontohkan Rasulullah untuk menghindari permusuhan dan konflik.

Ketika perintah untuk perang dan anjuran peperangan datang pun, yang harus didahulukan adalah negosiasi secara damai terlebih dahulu. Di dalam surat Al-Baqarah ayat 190 dijelaskan bahwa “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. Seperti ayat di atas, memang Allah memerintahkan untuk perang, namun perlu digarisbawahi pula, yakni perang yang beraturan dan beretika. Di samping itu, yang perlu diingat dengan baik, perang adalah jalan terakhir yang terpaksa jika mendapatkan serangan dari musuh.

Kata “Islam” sendiri pun mengandung makna damai, dari kata “salām”, yang secara konseptual mengandung makna pasrah dan tanpa paksaan. Bahkan, al-Qur’an menganjurkan manusia untuk selalu saling mendukung dan tidak diperkenankan saling bermusuhan dan mengedepankan pertikaian. Jikalau hal buruk itu terjadi pun, yang harus dilakukan—sebagaimana dianjurkan al-Qur’an—adalah “ishlah” atau jalan damai terdahulu.

Muhammad Shahrur juga mengungkapkan, perdamaian tidak hanya sekadar ucapan, melainkan aktualisasi dari pesan yang terkandung dalam al-Qur’an. Ia mencontohkan, banyak ayat al-Qur’an—seperti QS. Al-Baqarah ayat 208, QS. An-Nisa ayat 90, 94, dan QS. Al-Anfal ayat 61—mengungkapkan tentang bagaimana pentingnya mengedepankan perdamaian. Selanjutnya juga menghindari peperangan dengan cara menerapkan jalan damai (ishlah).

Baca Juga:  Teologi Pancasila

Pesan-pesan al-Qur’an sebagaimana dinyatakan di atas, menyuratkan bahwa Islam adalah agama yang damai, serta al-Qur’an merupakan kitab, panduan, dan petunjuk yang ramah. Namun sangat disayangkan, banyak kelompok yang menafsirkan panduan tersebut secara semena-mena, serampangan, dan kaku. Alhasil, al-Qur’an yang memiliki spirit ramah terkesan menjadi marah. Hal ini bermuara pada sering terjadinya aksi teror dan tindakan radikal lain, yang mengancam seluruh masyarakat yang berada di sekitarnya, bahkan menyesatkan bagi penganutnya. Karena itu, seluruh elemen bangsa harus memiliki dasar yang kuat tentang keislaman dan keindonesiaan, serta memiliki pengetahuan yang benar tentang makna jihad sebagaimana dituturkan al-Qur’an.

Sekalipun al-Qur’an memiliki spirit yang ramah, namun jika ummat tetap memahami al-Qur’an dengan jiwa yang marah, akan menghasilkan kesan bahwa al-Qur’an mengajarkan terorisme dan radikalisme. Padahal sejatinya al-Qur’an, dalam banyak ayatnya mengajarkan tentang perdamaian, bahkan al-Qur’an mengajarkan ummatnya untuk masuk ke dalam perdamaian secara total (QS. Al-Baqarah : 208). Akhirya, sebagai ummat yang baik, terutama ummat muslim harus mampu memberi rasa kedamaian kepada sesamanya, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebagaimana diungkapkan Rasulullah dalam haditsnya. Wallahu a’lam.

Oleh: Muhammad Ali FuadiMahasiswa Program Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang.


Like it? Share with your friends!

0
19 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.