Meluruskan Paradigma Terhadap Agama dan Persoalan Negara

Resensi


0
44 shares

Judul Buku      : Nalar Inshofi

Penulis             : Abdullah Saad Ahmadi

Cetakan           : I, Maret 2019

Tebal               : xviii + 239 halaman

Penerbit          : Inshofi Publisher

Beragama saja belum cukup untuk menjamin manusia terbebas dari nafsu serta kesalahan yang membuatnya berdosa. Tak jarang pula sebab menuruti nafsunya seseorang justru menggadaikan agama setaraf dengan kepentingan pribadi yang menyalahi kodrat kemanusiaan dan kemashlahatan pada umumnya.

Beberapa diantaranya bahkan dilakukan oleh kaum yang merasa mengerti agama. Mereka menafsirkan dalil-dalil sesuai keinginan dan ego tanpa mempertimbangkan sanad dan akurasi makna serta konteks penerapannya pada dunia nyata. Dalam istilah buku ini, perilaku yang demikian itu berarti tidak mau Nggugu dawuhe Gusti Allah lan Kanjeng Nabi. Juga tidak berlandaskan tresno marang poro habaib lan kiai. 

Secara eksplisit, H. Abdullah Saad Ahmadi menguraikan pengalamannya menyelami laku hidupnya sebagai pendakwah dalam melihat fenomena tersebut. Mulai dari hal-hal yang menginspirasi hingga menimbulkan ironi, semua ia ungkapkan dengan lugas dengan kesaksian nyata. Seperti yang sedang menjadi keresahan bersama, tentang kerusakan dunia yang terjadi pada era yang dikatakan sebagai zaman akhir ini. Sebuah kerusakan yang tidak hanya secara fisik, tetapi juga non-fisik berupa moral yang kian hari semakin memprihatinkan.

Ternyata ia menemukan ada keraguan besar terhadap eksistensi Tuhan sehingga manusia berada dalam kebingungan. Akibatnya masyarakat seolah ‘liar’ dan tidak terkendali. Ukuran kemapanan didasarkan pada materi duniawi dan eksistensi diri. Mereka juga tidak benar-benar mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. 

Dari situ kemudian menimbulkan efek domino berupa maraknya adu domba, fitnah bahkan benturan tokoh yang didasarkan atas nama agama. Ini lah pangkal kerusakan yang sejati. Persoalan lain yang jadi sorotan terkait kerusakan zaman akhir ialah banyaknya saudara muslim yang salah menerapkan khauf dan roja’.

Pada bab pertengahan buku ini H. Abdullah Saad bahkan mengungkap kesaksiannya ketika menghadapi saudara muslim yang seperti itu. Katanya, terkadang mereka itu sudah tahu bahwa selingkuh itu berdosa, misalnya, tetapi tetap melakukannya dengan keyakinan Allah SWT akan mengampuninya bila bertaubat nanti.

Secara lugas, penulis menyebut mereka sebagai orang-orang religius yang dikalahkan oleh beragam kenikmatan duniawi. Pendapat bahwa Allah Swt akan memberikan ampunannya menunjukkan kecenderungan manusia untuk selalu membela dan melindungi kepentingan nafsunya. Padahal pelaku maksiat, meski ia tampil religius, seharusnya lebih menghadirkan rasa khauf (takut) dibandingkan roja’ (pengharapan). (Hlm. 159)

Demikian itu merupakan sebagian potret betapa banyak saudara muslim yang memutuskan perkara tidak menurut pada apa yang telah diturunkan Allah SWT. Ora nggugu dawuhipun gusti Allah lan Kanjeng Nabi. Beberapa bahkan lebih menurut pada tuntutan keadaan sebagai ‘tameng’ pembenaran atas apa yang akan dan telah diperbuat.

Cermin Dakwah

Kendati begitu H. Abdullah Saad tetap menaruh optimisme ditengah gelombang arus kekacauan zaman akhir. Masih banyak cermin hidup yang bisa diambil teladan untuk menempuh jalur yang benar dan diridlai oleh Allah dan Rasul-Nya. Salah satunya tentu saja dari perjuangan ulama Nusantara kita sendiri yang teguh berjuang meski penuh ujian sulit.

Beliau para ulama Nusantara itu secara sungguh-sungguh mewakafkan seluruh hidupnya untuk kemuliaan dakwah. Dengan kasih sayang dan rasa handarbeninya ruh agama benar-benar disampaikan sehingga terwujud saling asah-asih-asuh dalam diri masyarakat. Tidak ada sifat materialistis ataupun individualis.

Pelajaran utamanya ialah memupuk kebersamaan sebagai kunci keselamatan. Dalam hal ini, mayoritas ulama sepakat bahwa tidak ada cara lain kecuali dengan menumbuhkan cinta kepada Nabi Muhammad dan ahlul bait. Sebab dari nur Muhammad lah semesta raya ini diciptakan, maka dari Rasulullah pula lah tetesan kesalehan dan keimanan itu ada. 

Kesaksian mengenai hal itu terungkap dalam ceritanya ketika membangun Kanzus Sholawat Bakangan. Penulis menyebutnya sebagai visi kebersamaan yang ditularkan oleh gurunya, yaitu Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Berbagai elemen ahlus sunnah wal jamaah, mulai dari habaib, kiai kultural dan aktivis organisasi (NU), bahu membahu dengan perannya masing-masing. (Hlm. 218)

Dengan bekal jiwa yang mandiri masing-masing elemen itu berproses dan menyatu menjadi pondasi dakwah yang kokoh. Para kiai memilih Islam yang mandiri, bukan yang bergantung pada apapun kecuali Allah SWT. Alasannya sederhana, ketergantungan pada selain Allah bisa saja sirna. Pun dengan begitu jiwa seorang pendakwah akan yakin dan mapan sehingga tidak terkalahkan dengan iming-iming materi. Dampaknya, ajaran agama tersampaikan secara utuh dan menancap pada sanubari setiap pengikutnya.

Maka tidak heran bila dulu Wali Songo dan ulama setelahnya bisa ‘menghidupi’ Negara. Yaitu dengan mengayomi masyarakatnya, menciptakan kerukunan antar suku, bangsa dan ras seluruh Nusantara. Kemudian jadilah satu kekuatan utuh yang siap untuk mendirikan sebuah Negara bernama Indonesia.

Iman dan Aman

Pada bab akhir buku ini diterangkan bahwa agama dan Negara merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, apalagi saling mengalahkan. Mengutip pernyataan Fadhilatusy-Syaikh Ali Jum’ah, mufti besar Mesir, bahwa sebuah Negara tidak mungkin tertanam iman jika tidak ada rasa aman. Keduanya sama-sama memiliki kepentingan yang harus dipertemukan. Yaitu kepentingan berupa jaminan keamanan dan kepentingan menanamkan keimanan pada setiap insan.

Ini lah yang sedang diperjuangkan oleh NU sejak berdirinya hingga sekarang. Bahkan oleh al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, agama dan Negara dijadikan sebagai nafas dalam berdakwah yang sesuai dengan manhaj Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin. Beliau memformulasikannya dengan mempertemukan kepentingan ulama dan umaro. (Hlm. 243)

Pentingnya menerapkan mahabbah kepada Rasulullah ini lah yang bisa jadi solusi atas kebingungan umat seperti sekarang. Sebab dari cinta itu lah nantinya akan terpancar ekspresi kedamaian dalam segala aktivitas. Jiwa-jiwa yang kosong itu akan kembali terisi sehingga keinginan untuk mengejar materi duniawi dan kepentingan nafsu bisa dihindari.

Dengan tutur bahasa yang renyah lagi santun, buku ini mudah dipahami. Cerita-cerita inspiratif berdasarkan pengalaman pribadi disetiap babnya menjadikan pembaca bisa langsung mengambil ibrah darinya. Buku ini patut jadi bahan renungan yang menumbuhkan ghirah kecintaan kita kepada Nabi, Habaib dan Kiai. 

Diresensi oleh Muhammad Farid, pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Dawe, bergiat di Paradigma Institute Kudus

Baca Juga:  Kiai Suyuthi Abdul Qadir Guyangan, Penerus Kiai Hasyim Asy'ari

Like it? Share with your friends!

0
44 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
4
Suka
MuhammadFarid