30 C
Jakarta

Melunturkan Radikalisme ala Buya Syafii Maarif

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMelunturkan Radikalisme ala Buya Syafii Maarif
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Ahmad Syafii Maarif atau sering disapa Buya Syafii merupakan salah satu tokoh yang berperan penting dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Baik melalui karya-karyanya ataupun pesan-pesan yang disampaikan secara langsung kepada masyarakat.

Bisa dikatakan perannya dalam membingkai perdamaian dalam berbangsa tidak jauh berbeda dengan apa yang dipraktikkan oleh Gus Dur. Maka tidak mengherankan apabila wafatnya Buya Syafi’i tidak hanya menjadi duka bagi keluarga, melainkan duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena sejatinya beliau sudah menjadi pahlawan kemanusiaan yang di miliki Indonesia.

Hal ini sesuai dengan catatan sejarah bagaimana beliau selalu menyebarkan pesan-pesan menyenangkan, mendamaikan, serta berusaha membangun kerukunan dalam berbangsa, yang kemudian mampu melahirkan pentingnya kemanusiaan.

Begitu juga dengan urusan radikalisme yang selalu rame di telinga. Beliau juga berpandangan kelompok radikal membangun dogma sendiri dan mencoba memonopoli kebenaran. Bahkan kelompok radikal berani mati membela teori yang mereka anut.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa beliau sepanjang hidupnya selalu lantang menyuarakan persaudaraan umat, membela kemanusiaan dan berdiri tegak atas kebenaran yang diyakini. Perannya dalam menyampaikan menjaga bangsa Indonesia tidak hanya lantang dalam orasi, tetapi menjadi laku yang selalu menjadi teladan dalam mencintai Indonesia dan kemanusiaan.

Dengan kata lain, apa yang disampaikan atau di tulis dalam karya-karyanya selalu berbanding lurus dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan beliau. Sebagaimana yang dikatakan oleh Deputi 2 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Pol Ibnu Suhaendra. Buya Syafi’i adalah sosok pahlawan kemanusiaan, setiap ada kejadian intoleransi, radikalisme, dan teroris. Beliau ini salah satu tokoh garda terdepan dalam memberikan pernyataan yang menolak radikalisme, radikalisme, ataupun intoleransi.

Pesan-pesan inilah yang seharusnya menjadi pegangan bagi kita semua dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Bahwasanya suatu perbedaan yang ada di Indonesia itu bukanlah suatu kesalahan ataupun hal yang perlu dipermasalahkan. Melainkan dari keragaman ini kita bisa belajar menjadi manusia yang bisa berguna sesama manusia.

BACA JUGA  Islam Ekstrem vis-à-vis Moderat tentang Makna Demokrasi di Medsos: Siapa yang Benar dan Siapa yang Harus Dilawan?

Sebab, sebaik-baiknya manusia ialah yang berguna untuk manusia lainnya. Pun dalam ajaran agama, tindakan kekerasan dan kebencian terhadap sesama manusia sangat di larang. Maka apabila ada sebuah kekerasan yang mengatasnamakan agama itu hanyalah sebuah kedok untuk memecah belah kerukunan di bangsa Indonesia.

Hal ini sejalan dengan apa yang ditulis dalam bukunya yang berjudul membumikan Islam. Bahwasanya dalam bukunya beliau menuliskan, sepanjang sejarah Islam, hampir-hampir tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa orang Islam pernah memaksa pihak lain untuk menjadi Muslim.

Kesaksian ini pernah pula dikemukakan oleh filsuf agnostik Inggris, Bertrand Russell dalam bukunya power; the Role of Man’s Will to Power in the World’s Economic and Political Affairs. Dalam buku ini , Russell melihat bahwa keberhasilan dan kemudahan penakluk Islam yang mula-mula dan stabilitas imperium yang mengikutinya ialah karena sikap toleransi umat Islam ini terhadap rakyat yang ditaklukkannya.

Dari sini seharusnya sudah sangat jelas, bagaimana dakwah ataupun penyampaian yang didasari dengan pemaksaan dan kekerasan tidak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Malah sebaliknya akan melahirkan perpecahan dalam hidup bersosial. Di lain sisi kita juga harus meyakini, bahwa setiap manusia memiliki agamanya masing-masing.

Terlebih di bangsa Indonesia ada beberapa agama yang memang sudah sangat diperbolehkan dalamnya. Dan ini sudah menjadi fitrah yang harus di jaga bersama. Sebab, dari sinilah bangsa ini bisa menjadi negara yang besar dan bebas dari kekerasan. Yaitu tidak membeda-bedakan agama, suku, etnis dan lain sebagainya.

Untuk itu, sudah seharusnya pesan Buya Syafii tentang pentingnya kemanusiaan disuarakan selalu. Sebab, dari sinilah manusia mampu menjalin kerukunan, menciptakan kedamaian, dan melahirkan generasi-generasi yang selalu siap menjaga keutuhan NKRI. Sebagaimana pesan Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Dan, Buya Syafii merupakan pahlawan kemanusiaan yang di miliki di Indonesia. Sudah seharusnya tindak laku hidupnya menjadi teladan bagi kita semua. Khususnya dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia.

Suroso
Suroso
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru