25.1 C
Jakarta

Melihat Semangat Kemerdekaan melalui Keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir dalam Upacara

Artikel Trending

KhazanahTelaahMelihat Semangat Kemerdekaan melalui Keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir dalam Upacara
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat,” kalimat sederhana dengan makna luar biasa itu, menjadi tagline HUT RI yang ke-77. Setelah mengalami masa pandemi selama 2 tahun, perayaan yang hanya dilakukan melalui online. Tahun ini cukup berbeda karena bisa berinteraksi secara langsung, meskipun dengan sikap hati-hati disertai protokol Kesehatan yang ketat. Semangat kemerdekaan semakin terlihat dengan banyaknya semarak perayaan di pelbagai wilayah, bahkan seluruh nusantara ikut serta merayakan.

Tidak terbatas pada semarak kebahagiaan itu, momen yang tidak terlupakan pasca merayakan kemerdekaan adalah hadirnya Abu Bakar Ba’asyir untuk mengikuti prosesi upacara bendera, 17 Agustus 2022, di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mukmin, Ngruki, Sukorharjo, Jawa Tengah, Rabu (17/08/22). Berikrarnya Abu Bakar Ba’asyir (selanjutnya; ABB), merupakan momen bahagia bagi bangsa Indonesia karena, ia adalah salah satu sosok yang selama ini menjadi lawan bangsa Indonesia,

Semenjak pondok pesantren itu berdiri, tahun ini adalah momen pertama kali, melaksanakan upacara bendera merah putih.

“Jadi memang kewajiban kita ini apa saja yang dikaruniai oleh Allah harus dibalas dengan syukur diwujudkan dalam bentuk upacara, di masjid setelah ini akan diwujudkan dalam bentuk sujud syukur,” ucap Abu Bakar Ba’asyir dilansir melalui Kompas.com.

Setelah pengakuannya terhadap Pancasila melalui ceramah yang beredar di media massa, ia secara sadar mengakui bahwa, Pancasila sebagai ideologi negara yang berdasarkan pada tauhid, Ketuhanan Yang Maha Esa, seperti yang tertuang dalam sila pertama Pancasila. ABB menjadi buar bibir masyarakat karena, selama ini ia dikenal sebagai orang yang bertentangan dengan NKRI. Dahulu kala, ia termasuk orang yang paling sentral dalam gerakan radikal-terorisme di Indonesia. Baginya, Pancasila tidak Islam, dan negara Indonesia bukan atas dasar Islam. Sehingga pemahaman itu membuat ia terlibat dalam gerakan terorisme yang terjadi di Indonesia.

Jejak Abu Bakar Ba’asyir

ABB adalah pendiri Pesantren Al Mukmin di Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia juga aktifis Jamaah Islamiyah dan mantan CEO Majelis Mujahidin Indonesia serta Jamaah Ansharut Tauhid. Eksistensinya semakin kuat melalui keteribatannya dalam pelbagai aksi radikal-terorisme. Seperti Bom di Bali pada tahun 2001, Bom JW Marriot pada tahun 2003, serta beberapa kasus yang lain. Keterlibatannya itu membuat ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Pada tahun 1983, ia ditangkap bersama kawannya, Abdullah Sungkar, karena dituduh menghasut orang untuk menolak asas tunggal Pancasila. Ia juga melarang para santrinya untuk hormat kepada bendera merah putih karena dianggap sebagai perbuatan syirik.

BACA JUGA  Selamat Datang Mahasiswa Baru! Jangan Sampai Masuk dalam Pusaran Radikalisme

Tidak berhenti pada kasus itu, tahun 2010 ia kembali ditangkap dan dipenjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta, karena terbukti merencanakan dan menggalang dana untuk pembiayaan pelatihan militer teroris di Aceh. Ia dipenjara selama 15 tahun dan bebas murni pada awal januari 2021, setelah usai menjalani tahanan 9 tahun 6 bulan, dibebaskan atas dasar kemanusiaan.

Jejak ABB dalam gerakan terorisme bukanlah pemain baru. Ia adalah senior di atas senior yang menggawangi gerakan teroris di Indonesia. Bahkan, ia bisa disebut gurunya para teroris di Indonesia. Mengapa menjadi menarik dengan keterlibatan ABB dalam upacara kemerdekaan?

ABB dan semangat kemerdekaan

Terlibatnya ABB dalam upacara, serta mengakui secara sadar dengan sempurna bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam adalah sebuah semangat baru yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Secara personal, melalui rekam jejaknya yang cukup kelam, ia adalah tokoh agama yang memiliki pesantren cukup besar. Artinya, perubahan tersebut kemudian bisa disebarkan kepada para santri dan semua keluarga pesantren untuk memiliki semangat persatuan yang sama dengan dirinya.

Tidak hanya itu, secara keorganisasian, ia memiliki banyak sekali organisasi yang berafiliasi kepada teroris. Perubahannya itu, diharapkan bisa disebarkan kepada para anggota lain, untuk menyebarkan semangat yang sama dengan menerima Pancasila. Atas dasar argumen itu, ABB memiliki pengaruh cukup besar terhadap masyarakat, baik dari pesantren, atau secara keorganisasian.

Dengan demikian, harapan besar kepada ABB adalah memperbanyak tunas-tunas baru, penerus bangsa Indonesia, atau bahkan menjadi virus kebaikan bagi lingkungannya untuk memiliki pemikiran serupa, khususnya tentang relasi agama dan negara yang tidak bertentangan. Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat untuk bersatu melawan para aktifis yang menentang Pancasila dan NKRI serta memperkuat kesatuan dan persatuan Indonesia.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru