32.1 C
Jakarta

Melihat Kemerdekaan dalam Pandangan Tokoh Sufi Haidar Bagir

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanMelihat Kemerdekaan dalam Pandangan Tokoh Sufi Haidar Bagir
image_pdfDownload PDF

Lagi-lagi soal kemerdekaan. Seakan sesuatu yang biasa terdengar setiap tahun, tepatnya saat memasuki bulan Agustus. Tokoh sufi Indonesia Haidar Bagir mencoba mengulas kemerdekaan dalam kacamata sufistik atau yang lebih akrab disebut tasawuf. Sungguh sangat menarik mengawinkan uraian-uraian kemerdekaan begitu dikawinkan dengan pandangan-pandangan tasawuf yang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.

Kemerdekaan itu merupakan bagian dari ajaran Islam. Tak terkecuali kemerdekaan ini dilakukan oleh kaum sufi yang selama ini dianggap sebagai kelompok yang suka menyendiri, menjauh dari masyarakat, dan melupakan kegiatan duniawi. Anggapan ini menjadi sebuah tantangan bagi kaum sufi sendiri untuk membuktikan anggapan itu salah, sehingga sampailah pada sebuah pembuktian bahwa kaum sufi termasuk bagian dari kelompok yang berjuang melawan penjajahan demi terwujudnya kemerdekaan, terlebih terbebasnya manusia dari belenggu-belenggu yang mencekal.

Dalam sejarah banyak sekali kaum sufi yang ikut andil dalam kemerdekaan, baik di Negara Indonesia maupun di belahan negara-negara muslim lain. Sebut saja, di Indonesia terkenal Pangeran Diponegoro (1785-1855) yang dibesarkan dalam keluarga tasawuf dan dikenal sebagai pengikut Tarekat Satariyyah, bahkan gemar mempraktikkan ajaran tasawuf Wahdah al-Wujud, peleburan diri dengan Sang Wujud Allah. Di negara lain kaum sufi yang memperjuangkan kemerdekaan, antara lain, Umar Mukhtar di Libia yang melawan penjajahan Eropa, Imam Syamil di Uni Soviet yang menjadi pemimpin pemberontak terhadap penindasan, dan lain sebagainya.

Islam di zaman Nabi Muhammad Saw. dikenal sebagai cara untuk menghilangkan perbudakan. Pada masa itu orang muslim yang tertangkap oleh musuh di luar Islam biasanya dijadikan tawanan dan dijadikan budak. Nabi Saw. mencari jalan sebanyak mungkin untuk membebaskan perbudakan. Dalam Al-Qur’an sendiri disebutkan istilah mustadh’afin, orang-orang tertindas. Islam sendiri sangat menghormati orang-orang tertindas ini. Selain itu, terdapat istilah dalam Al-Qur’an fatqu raqabah, bebaskan budak. Penghormatan terhadap orang yang tertindas dan budak merupakan uluran tangan Tuhan untuk mengangkat mereka terlepas dari jerat perbudakan dan penindasan, sehingga pada akhirnya mereka menjadi orang yang memiliki status sosial yang istimewa.

BACA JUGA  Lebih Baik Menjadi Ateis yang Berilmu daripada Menjadi Agamawan yang Bodoh
BACA JUGA  Percayalah, Penegakan Khilafah di Indonesia Hanyalah Ilusi!

Kemerdekaan, selain sebagai upaya pembebasan dari penindasan yang berupa fisik, juga sebagai upaya pembebasan dari penindasan hawa nafsu. Banyak orang yang merasa hidup dalam kemerdekaan karena terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang, tetapi pada hakikatnya mereka masih diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri. Maka, kehadiran tasawuf dapat membantu manusia bukan hanya terbebas dari perbudakan orang lain dan terbebas dari perampasan hak asasi manusia (HAM), melainkan juga terbebas dari jerat hawa nafsu.

Perbudakan hawa nafsu itu jauh lebih berbahaya dari perbudakan orang lain. Tidak heran bila Nabi Muhammad Saw. pernah mengingatkan dalam sebuah hadis yang populer: Perang fisik sebesar apapun itu harus dilihat sebagai jihad yang kecil, jika dibandingkan perang melawan hawa nafsu dan perang melawan hawa nafsu inilah termasuk jihad yang besar. Karena itu, kemerdekaan dari perbudakan hawa nafsu itu jauh lebih penting dari kemerdekaan melawan penjajahan orang lain.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini diolah dari Pandangan Haidar Bagir yang disampaikan di akun YouTube Nuralwala

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru