30.9 C
Jakarta
Array

Melanjutkan Tradisi Menulis Masyayikh

Artikel Trending

Melanjutkan Tradisi Menulis Masyayikh
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Melanjutkan Tradisi Menulis Masyayikh

Oleh: Rosidi*

Tradisi penulisan di kalangan pesantren sejak dulu, sangat tinggi. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya karya-karya masyayikh (ulama) zaman dulu, yang masih dikaji oleh para santri di pesantren hingga kini.

Para masyayikh yang sangat dikenal di kalangan pesantren Nusantara hingga kini, tersebutlah nama-nama seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Mahfudh At-Turmusi, Syaikh Ihsan Jampes, Syaikh Yasin Padang, Syaikh Kholil Bangkalan, KH. Sholeh Darat, KH. Raden Asnawi, KH. Bisri Musthofa dan  masih banyak lagi.

Dalam konteks kekinian, banyak pula para kiai dan tokoh-tokoh yang besar di lingkungan pesantren, yang dikenal sangat piawai dalam bidang penulisan. Misalnya, antara lain KH. Abdurrahman Wahid  (Gus Dur), KH. MA. Sahal Mahfudh, KH. Musthofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Najid (Cak Nun), dan yang kini sedang booming bukunya ‘’HTI: Gagal Paham Khilafah’’ yaitu M. Makmun Rasyid.

Karya-karya para masyayikh pun tidak hanya di satu bidang keilmuan, melainkan sangat beragam. Mulai dari kajian tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, ilmu alat (nahwu dan sharf), mustholahul hadits, dan lain sebagainya.

Nama-nama tersebut demikian populer dalam tradisi pemikiran dan intelektual pesantren, dengan beragam karya yang ditulis. Bahkan tidak sedikit karya-karya masyayikh yang dikaji para santri di negara lain.

Apa makna di balik itu? Maknanya adalah, bahwa menulis adalah tradisi yang demikian dekat dengan santri. Para kiai zaman dulu, nampaknya sadar bahwa dengan menulislah, maka transfer ilmu-ilmu keislaman dan lainnya akan berlangsung secara kontinu (terus-menerus).

Dengan kata lain, seorang santri itu tugasnya tidak sekadar mengaji, namun jika sudah memiliki kemampuan dan mumpuni di bidangnya, maka dia harus menulis. Menulis apa saja, artikel, buku, kitab, dan lain sebagainya.

Melalui tulisan pula, maka gagasan yang disampaikan akan tahan lama, karena bisa dinikmati dalam berbagai suasana dan di mana pun juga. Artinya, penyebaran informasi dan ilmu akan bisa lebih massif dengan tulisan, terlebih saat ini didukung dengan perangkat teknologi  yang sangat canggih.

Menulis merupakan salah satu cara yang sangat representatif, karena banyak ruang yang bisa dimanfaatkan untuk transfer keilmuan dan dakwah, dengan dukungan teknologi digiital dan era yang media sosial (medsos) menjadi hal yang seakan tak bisa dipisahkan dalam kehidupan.

Dan konten-konten berkualitas, menyejukkan, tidak menyebar kebencian, toleran dan bisa mendukung upaya penanaman nilai-nilai kebangsaan, sangat dibutuhkan agar ruang maya tidak dipenuhi dengan konten-konten yang memecah belah, radikal, dan memecahbelah.

Menulis bagi para santri, mestinya bukanlah sesuatu yang ‘asing’, karena banyak kiia kita, para ulama, masyayikh, telah memberikan contoh yang sangat baik bagi pertumbuhan tradisi penulisan di kalangan santri.

Akhirnya, menulis adalah sesuatu yang niscaya. ‘’Aku menulis maka aku ada’’, demikian mengadopsi ungkapan seorang filsuf kenamaan, Descartes. Kalau Anda para santri hingga kini belum pernah melakukannya, maka mulailah sejak sekarang, karena menulis adalah tradisi para masyayikh, para kiai. Wallahu a’lam. (*)

* Penulis lepas, editor buku dan penggiat literasi di Kabupaten Kudus

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru