MCA dan Islam Politik


0
3 shares
Harmonisasi Tokoh Agama dalam Halaqah Kepesantrenan
Doc. Harakatuna.com

Beberapa tahun terakhir ini, suasana kehidupan berbangsa dan bernegara serta beragama sangat terusik. Penyebabnya adalah berita hoax, adu-domba, fitnah, dan sejenisnya merebak di dunia maya. Sehingga kondisi ini sangat berbanding lurus dengan kondisi dunia nyata, yakni tenun kebangsaan dan persaudaraan menjadi semakin renggang. Akibat hoax ini, potensi konflik sangat tinggi. Masyarakat akan terbelah menjadi dua kutub; haters dan lovers.

Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan itu, baru-baru ini Mabes Polri telah melakukan langkah konkret, yakni menciduk sejumlah orang yang ditengarai kuat menjadi otak dibalik maraknya penyebaran berita hoax. Sejumlah orang tersebut adalah para pentolan grup Muslim Cyber Army (MCA). Sebagaimana yang santer diberitakan, MCA dituding sebagai dalang penyebaran berita hoax dan ujaran kebencian.

DetikX membuat liputan yang mendalam terkait MCA. Dalam investigasi Kami Bukan Grup Anonymous, terdapat pengakuan yang cukup mencengangkan publik. “…Yang tidak banyak diketahui publik, adalah adanya perang akun antara yang pro dan kontra. Jadi ada yang saling ‘bunuh’ akun. Makanya, bisa dikatakan, MCA secara global ada yang bermain opini dan ada yang bermain perang akun sniper. Nah, bagian opinilah yang menjadi masalah sekarang ini, beredarnya hoax”, kata salah seorang anggota MCA yang saat ini sedang ditangani Polri.

Dalam investigasi tersebut juga ditemukan bahwa lima anggota MCA yang diciduk Mabes Polri di berbagai wilayah ini mengakui kesalahannya, bahwa apa yang telah dilakukan semata-mata hanya untuk membela agamanya, namun caranya tidak benar. Menurut mereka, fitnah, adu domba dan menebar kebencian adalah kezaliman yang nyata.

Sebagaimana diketahui bahwa MCA muncul juga akibat peristiwa yang sangat bernuansa politik.

Berangkat dari fakta di atas, dapat dilakukan sebuah analisis bahwa MCA erat kaitannya dengan Islam politik. Abdul Hadi W.M, dalam sebuah pengantar buku terjemahannya Masnawi Senandung Cinta Abadi menyinggung Islam politik adalah upaya menjadikan Islam sebagai kendaraan politik untuk mencapai tujuan tertentu di bidang politik seperti meraih dukungan massa dan mencapai kekuasaan. Setelah kekuasaan diperoleh, maka pendukungnya pun segera ditinggalkan. Sebaliknya, politik Islam adalah melakukan kegiatan politik dan menjalankan kekuasaan berdasarkan moral Islam yang mengutamakan keadilan.

Baca Juga:  Ucapan Elite yang Menyejukkan

MCA dan Islam Politik

Ada beberapa hal yang menjadi penguat bahwa MCA sedang mempraktikkan Islam politik. Pertama, membuat opini pemerintah gagal kelola negara. Harus diakui bahwa kritik untuk pemerintah sangat penting, bahkan ‘wajib’ dilakukan oleh segenap bangsa Indonesia. Akan tetapi, kritik yang membangun, berdasarkan data dan fakta, bukan opini belaka, sebagaimana yang dilakukan oleh MCA.

Direktorat Bareskrim Polri dalam hal ini telah mengungkap bahwa berita bohong yang diproduksi dan disebarkan oleh MCA adalah, salah satunya, bertujuan untuk membuat opini publik bahwa pemerintah gagal mengelola negara.

Hal ini tidak jauh dengan apa yang dikatakan oleh Kholid Syeirazi bahwa, Islam politik bertolak pada cita-cita besar mewujudkan penegakan Islam dalam bentuk formalisasi syariat, yang menggantikan UUD. Perbedaan Islam politik dan politik Islam dapat dilihat secara tegas dalam konteks ini. Islam politik, sekali lagi, mempunyai agenda besar, yakni mewujudkan sistem khilafah.

Sementara politik Islam lebih elegan dan sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, bahwa politik Islam menganggap bahwa politik merupkan sesuatu yang penting dan nilai-nilai Islam perlu diadaptasi atau dijadikan sebagai spirit dalam merumuskan kehiduoan berbangsa dan bernegara. Karena tujuan politik sejatinya adalah sarana untuk menciptakan kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera.

Singkat kata, apa yang telah digarap MCA untuk membentuk opini bahwa pemerintah gagal dalam mengelola negara adalah menimbulkan ketidakpercayaan kepada masyarakat kepada pemerintah untuk kemudian digiring menuju kudeta (makar). Dari sejarah Islam politik juga dipenuhi hal serupa, yakni narasi pemberontakan terhadap sistem yang dianggap sekuler.

Kedua, Islam politik menghendaki representasi dan nominasi pemimpin Muslim. Tidak hanya menginginkan formalisasi syarait Islam, Islam politik juga menghendaki untuk tetap berkuasa dalam bidang politik, yakni pucuk pimpinan adalah harga mati. Bahkan Syerazi menambahkan, Islam politik juga menghendaki alokasi kue ekonomi. Ukuran dari poin kedua ini jelas, Muslim mendominasi aspek politik dan ekonomi.

Baca Juga:  Terorisme dan Kesenjangan Ekonomi Umat

Narasi yang dibangun MCA, kira-kira mengarah pada kedua aspek strategis itu. Hal ini bisa dilihat dari narasi-narasi yang sering didengungkan adalah kebangkitan PKI, muslim lebih baik. Perbedaan antara pribumi dan non-pribumi ditonjolkan.Hal ini tentu sangat memprovokasi pihak yang dirugikan atas hal ini. Dan kondisi choas adalah sesuatuyang “dikehendaki” oleh mereka untuk memuluskan agenda besarnya.

Ketiga, menonjolkan politik identitas. Politik identitas kembali menemuman momentumnya. Anehnya, semua ini muncul ketika menjelang perhelatan demokrasi, baik di level daerah maupun nasional. Dan inilah yang menjadi awal mula berdirinya MCA. Yaitu bermula pada kasi membela gama Islam, tetapi nyatanya bermuatan politis. Politik yang ditonjolkan justru politik identitas yang lagi-lagi menimbulkan kegaduhan di mana-mana.
Fenomena MCA dan Politik Islam memberikan suatu tonjokan kepada kita semua, terutama Muslim, bahwa memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh manusia dan memperjuangkan nilai-nilai Islam tidak melulu harus mendirikan khilafah.

Tegas kata, mari kita hentikan pertikaian dalam bentuk perang opini yang dibumbui dengan fitnah, ujaran kebencian dan sejenisnya.


Like it? Share with your friends!

0
3 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.