26.9 C
Jakarta
Array

Mazhab Menulis Untuk Pemula [2]

Artikel Trending

Mazhab Menulis Untuk Pemula
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Mazhab Menulis Untuk Pemula [2]

Oleh: Muhammad Makmun Rasyid*

Gembira dan senang––untuk pendukung Madridista––setelah Cristian Ronaldo menjadi pahlawan (penentu) atas kemenangan Real Madrid. Rela memberikan sebahagian waktunya untuk menonton final Liga Champions 2015/2016 di stadion San Siro, Milan.

Tulisan ini bukan di desain untuk menafikan kontribusi mazhab Messiah, mazhab Ibrahimoviciah dan mazhab lainnya, yang telah (sudah) mewarnai lapangan hijau dan ahli memainkan si kulit bundar, tetapi sebagai objek kajian yang bisa menjadi pelajaran untuk penulis pemula. Seseorang yang ingin terjun dalam dunia literasi dan menjadikan aktivitas menulis sebagai ikhtiar “menambah umurnya”. Ya, menulis ternyata mampu menambah umur seseorang. Karya adalah nyawa kedua seseorang setelah “nyawa murni” itu sendiri. Ia sudah wafat, tapi ide dan gagasannya tetap hidup, dan berkelana menyusuri insan-insan di muka bumi ini.

Baiklah, Anda sepakati dulu bahwa tujuan dari mengikuti sebuah kompetisi dan perlombaan adalah ingin menjadi yang terbaik. Keluar sebagai pemenang adalah cita-cita mutlak sang petarung. Namun kecenderungan––pada umumnya––seseorang melihat pada hasil akhir, bukan pada “ritme kehidupan” dan pergulatan hidup, perjuangan yang dibalut oleh sikap optimis dan lain sebagainya.

Ingatlah, juara adalah kemenangan sesaat. Kemenangan dan kesuksesan itu dapat diraih, setelah melewati pelbagai tahapan yang ‘menyakitkan’. Kali ini sampel yang digunakan yakni trik (cara) sukses ala Cristian Ronaldo. Pertama, Latihan Rutin. Latihan rutin setiap hari, menjadi awal baik untuk hal apapun. Konsistensi dan istiqamah dalam menulis dapat membangkitkan emosi positif.

Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW menjadi panutan belajar konsisten. Di mana suatu ketika Alqomah bertanya pada Aisyah tentang amalan Rasulullah, Aisyah menjawab, “Nabi Muhammad tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalannya adalah amalan yang konsisten.” Menulis pun demikian, konsisten setiap hari lebih baik daripada menulis musiman. Menulis sedikit, walau tiga sampai lima halaman sehari, lebih baik daripada menulis musiman, sekalipun banyak. Setiap pekerjaan itu pasti ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat itu pasti ada masa malasnya (wa likulli ‘amalin shirratun, wa likulli shirratun fatratun).

Kedua, Tidur Lebih Awal. Para pesepak bola dan atlit, berusaha untuk menghindari kebiasaan tidur malam. CR7––sapaan akrabnya––mengatakan “tidur nyenyak di malam hari adalah salah satu rahasia suksesnya dalam meningkatkan performa.” Menjaga stamina tubuh, sebuah keniscayaan penulis. Faktor penghambat dalam menulis bisa dikarenakan kondisi tubuh yang tidak prima. Cara kerja tubuh dan otak pun menjadi penghalang, semangat berkurang. Penulis-penulis hebat, biasanya tidur lebih awal, dan bangun pagi, kemudian mengambil pulpen dan kertas atau laptop. Misalnya, bangun jam 03.00 sampai menjelang ibadah Subuh. Waktu yang baik untuk menuangkan gagasan dan ide-ide yang brilian.

Ketiga, Training. Menjaga semangat atau mood adalah kewajiban seorang penulis. J.K Rowling––penulis hebat––mengatakan “saya menulis hampir setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh jam atau sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis selama tiga jam.” Rowling tetap menjaga konsistensinya menulis setiap hari, sekalipun tiga jam. Menulis apa saja yang ada di kepala (otak), dan mencurahkannya satu per-satu ke dalam bentuk tulisan. CR7 dalam  membentuk perut six-pack harus melakukan 3.000 kali sit-ups setiap harinya.

Faktor penulis pemula adalah “sudah memiliki ide, tapi untuk memulainya susah.” Lakukan saja aktivitas menulis, tumpahkan yang ada dalam kepala, tinggalkan untuk sementara waktu, ketersambungan antar-paragraf dan antar-halaman. Mengedit dan menyunting tulisan adalah pekerjaan akhir, bukan diawal dan ditengah-tengah. Latihan terus menerus, akan membawa ke sebuah ruang yang menyenangkan.

Keempat, Porsi Latihan. Pengamatan saya––bukan riset loh yah––seorang penulis hebat, mampu membagi waktu dan mengatur waktu untuk menulis dalam setiap harinya. Misalnya, ada penulis yang memberikan dua jam dalam setiap harinya untuk menulis, dua jamnya lagi untuk membaca. Untuk penulis pemula, lakukan menulis untuk pertama kali, satu jam setiap harinya.

Dengan menjaga keempat hal diatas, penulis pemula akan dapat melahirkan sebuah karya. Ketika sudah memutuskan untuk menjadi penulis, penulis apa saja, maka upayakan membuat sebuha buku dan karya. Sebagaiaman ungkapan Michael Crichton––salah satu novelnya berjudul Jurassic Park, “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.” Satu buku lahir, maka akan memicu untuk menuliskan satu buku selanjutnya, begitu seterusnya. Selamat melaksanakannya, yah!.

 *Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IIQ Jakarta dan penulis Buku-buku Islam dan Motivasi

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel SebelumnyaRenungan Tentang Umat Islam
Artikel SelanjutnyaSekolah (Itu) Bukan Penjara

Artikel Terkait

Artikel Terbaru