24.1 C
Jakarta

Mau Jadi Penulis? Inilah Senjata yang Wajib Kalian Miliki

Artikel Trending

KhazanahLiterasiMau Jadi Penulis? Inilah Senjata yang Wajib Kalian Miliki
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Selama ini, banyak orang beralasan tidak bisa menulis karena belum memiliki laptop. Alasan klasik ini jadi dalil untuk dimaklumi jika sejauh ini belum menulis buku. Khususnya bagi kalangan pelajar yang suatu saat punya impian untuk menjadi penulis. Kemampuan finansial yang masih bergantung dengan orang tua menjadi kendala. Akhirnya tak kunjung bisa membeli laptop. Penghasilan orang tua yang pas-pasan menambah deretan masalah sehingga tidak bisa meminta untuk dibelikan.

Memiliki laptop memang bisa memudahkan seseorang dalam menulis. Impian menjadi penulis terasa lebih mudah dicapai. Namun, dalam penerapannya, ternyata laptop bukan jadi senjata utama bagi seorang penulis. Tanpa harus memiliki laptop, seseorang masih bisa menulis di buku, media sosial, blog atau note di gawainya.

Sekalipun Anda memiliki laptop keluaran terbaru, selama tidak punya senjata utama ini, semua akan berujung sia-sia. Berikut 5 senjata yang bisa Anda miliki untuk menulis:

Seribu Tekad

Pengakuan dari Tere Liye dan Helvy Tiana Rosa, menulis adalah tentang tekad. Bukan mengandalkan bakat saja. Bagi orang yang hendak full time menjadi penulis, ia wajib memiliki seribu tekad. Ribuan tekad itu adalah bahan bakar di saat terpuruk. Penulis yang hanya memiliki satu tekad, ia ibarat memiliki satu lilin yang menyala dalam perjalanan pulang ke rumah di dalam hutan. Jika lilin itu mati, tamat sudah riwayatnya.

Berbeda sekali dengan seseorang yang punya ratusan bahkan ribuan tekad. Penulis dengan tekad kuat tak akan berhenti, meski naskahnya ditolak berkali-kali. Satu tekadnya memang sudah patah, tapi masih ada tekad-tekad lain yang mengantre. Ia tinggal mengambil dan membawa kembali untuk menemaninya meramu diksi. Penulis dengan berlimpah keinginan selayak orang yang menggenggam matahari sebagai penerang jalan.

Oleh karenanya, wajib bagi seseorang yang bercita-cita ingin menjadi penulis, untuk membuat list tekad-tekadnya. Tekad yang terbaik dibuat berdasarkan hati terdalam. Tidak dari hasil ikut-ikutan orang lain. Karena setiap penulis memiliki tekad yang berbeda. Sebelum menggerakkan pena, temukan dulu jajaran semangat yang ingin dibawa.

Buku

Senjata selanjutnya adalah buku. Ini bukan rahasia lagi. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Menulis diibaratkan seperti orang menuang air dari teko ke gelas-gelas. Isi gelas bergantung pada apa yang ada di dalam teko. Jika isi dalam teko adalah susu, pasti yang tertuang juga susu. Bila isinya habis, gelas-gelas kosong tak bisa terisi kembali. Untuk bisa mengisi gelas kosong, kita harus mengisi tekonya terlebih dahulu.

BACA JUGA  Banyak Followers, Haruskah Itu Menjadi Syarat Seorang Penulis?

Dalam proses menulis, teko sama dengan otak manusia. Sedangkan susu, kopi, teh adalah buku-buku yang telah kita baca. Nah, gelas kosong tadi seperti laptop yang kamu gunakan untuk menulis naskah. Kualitas naskah seseorang berbanding lurus dengan literatur yang dibacanya.

Ejaan Bahasa Indonesia

Senjata ini sering menjadi musuh besar calon penulis. Bahkan, guru bahasa Indonesia jarang memakainya. Menurut tirto.id, rata-rata uji kompetensi guru bahasa Indonesia nilainya di bawah 50. Ini karena kebanyakan guru bahasa Indonesia mengajarkan teori dan melupan praktik.

Senjata itu bernama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), dulu dikenal dengan nama Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Di era digital seperti sekarang ini, aplikasi PUEBI sudah bisa diunduh di gawai. Di waktu senggang, sangat bagus untuk mempelajari kaidah-kaidah penulis dari PUEBI.

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Harga kamus cukup mahal, sehingga berat jika harus membelinya. Maka, saran saya adalah cukup dengan mengunduh KBBI di gawai kesayangan. Fungsinya, untuk menghindari typo dan mengetahui bagaimana bentuk kata baku yang tepat. Seperti: nasihat bukan nasehat, praktik bukan praktek, orang tua bukan orangtua. Dengan adanya kamus, seseorang bisa langsung mengecek. Terutama ketika membaca buku, lalu menemukan kosakata baru.

Tesaurus

Buku ini belum terlalu familiar. Padahal, memiliki peranan penting bagi seorang penulis. Bagi seseorang yang ingin memperbanyak perbendaharaan diksi, diwajibkan memilikinya. Tesaurus merupakan sumber referensi berupa daftar kata, dengan sinonim dan antonimnya. Jangan karena begitu banyak pilihan kata yang ditawarkan, Anda memilih kata yang tidak akrab di telinga. Itu bisa menjadi petaka bagi pembaca tulisan Anda.

Nah, tunggu apa lagi. Dengan memegang 5 senjata di atas, jalan Anda untuk menjadi penulis besar akan terbuka lebar. Anda yang tidak memiliki laptop tidak perlu cemas. Selama amunisi ini Anda genggam, Anda akan terus menulis tanpa henti.

Reni Asih Widiyastuti
Alumni SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media, seperti: Kompas Klasika, Padang Ekspres, Solopos, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Harian Merapi, Kabar Madura, Harian Singgalang, Bali Post, Bangka Pos, BMR FOX, Radar Cirebon, Radar Mojokerto. Salah satu buku tunggalnya telah terbit, yaitu Pagi untuk Sam (Stiletto Indie Book, Juni 2019). Telah mengikuti Kelas Menulis Cerpen Online (KMCO) dan Kelas Menulis Puisi Online WR Academy. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected]

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. Wafiiki barakallah, Kak Riami. Tetap semangat dan terus menulis. Aamiin. 🤲😊

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru