Masjid yang Dirindukan Semua Umat


0
28 shares

Semua agama memiliki tempat ibadah masing-masing. Tempat ibadah ini memediasi pemeluk agama bertemu satu sama lain, lebih-lebih mempererat tali persaudaraan antar sesama agama, mulai bertegur sapa saat bertemu, menyunggingkan senyum hingga membentuk forum (majlis) diskusi.

Islam menyebutkan tempat ibadahnya dengan masjid. Kata masjid merupakan kata benda yang terambil dari akar kata sajada yang berarti sujud, yakni satu-satunya aktivitas yang paling hina dibandingkan aktivitas yang lain, karena pada saat itu sang hamba merasa hina di hadapan Sang Pencipta seakan membayangkan bahwa tiada yang berkuasa dan menyombongkan diri selain Dia seorang. Masjid sebagai tempat sujud secara tidak langsung dipahami bahwa tempat ini menghapus sifat keangkuhan melekat dalam diri dan menyarankan memandang sama antar satu dengan yang lain: mereka sama-sama manusia, sama-sama makhluk Tuhan, dan sama-sama tercipta dari tiada menjadi ada.

Pesan sederhana tersebut seringkali dilupakan, sehingga masjid tidak kembali berfungsi sesuai dengan semangat yang didambakan. Salah satunya, saat masjid bukan dijadikan tempat beribadah kepada Sang Pencipta, melainkan dihiasi dengan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok. Biasanya pesan yang tidak murni ini disampaikan dalam bentuk ceramah atau dakwah bil lisan di hadapan para jamaah yang akan atau telah melaksanakan shalat. Pendakwah menyampaikan pesan-pesan Islam dengan ekstrem sehingga Islam kehilangan ruh moderat (wasathiyah) yang dicita-citakan.

Akibat dakwah kekerasan ini, pesan-pesan Islam terkesan memaksa, menggurui, bahkan menutup diri dari perbedaan. Padahal, Al-Qur’an tidak menghendaki pemaksaan dalam memeluk suatu agama, karena pemaksaan itu kering akan cinta dan hilang akan kesan. Beragama dengan dasar cinta akan mengantarkan seseorang meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Demikian pula, beragama dengan kesan kuat di hati akan selalu tulus tanpa perhitungan dan terus-menerus rindu saat kehilangan.

Baca Juga:  Agama Dalam Tanda Tanya

Masjid adalah media yang strategis dalam menjaga kemurnian agama, sehingga agama tidak dikuasai nafsu manusia, melainkan masjid menjadi tempat yang selalu dirindukan dan menjadi tempat berteduh sembari menenangkan pikiran. Disadari atau tidak masjid memiliki magnet yang dapat menarik hati seseorang sujud di sana sambil bermunajat kepada Tuhan, karena tiada tempat bersandar selain Dia seorang. Magnet positif ini dapat menghapus pikiran yang kusut dan hati yang gusar, sehingga seseorang merasakan kebahagiaan.

Masjid yang dicita-citakan Islam hendaknya mampu menyatukan perbedaan, menyambung tali persaudaraan yang putus, dan menyejukkan hati dengan pesan yang tulus. Masjid semacam ini laksana surga yang dirindukan. Penulis dapat menyebutkan masjid adalah surga dunia, karena suasana surga yang menakjubkan dan menyenangkan terlukis pada bangun masjid ini.

Hampir dalam sejarahnya belum pernah ditemukan masjid digunakan sebagai tempat berkampanye, berbisnis, dan beberapa kepentingan lain yang sifatnya pribadi. Masjid diharapkan merangkul beragam status manusia dari yang lemah hingga yang kuat, dari yang miskin hingga yang kaya, dari kaum perempuan hingga kaum lelaki. Masjid yang disebut sebagai baitullah pada hakikatnya milik bersama, dirawat bersama, dan dikembangkan bersama. Tidak dibenarkan, misalkan, masjid khusus orang Nahdlatul Ulama atau yang lebih dikenal dengan NU. Tidak benar pula ada masjid khusus orang Muhammadiyah. Namun, masjid itu diperuntukkan kepada siapa pun, lebih-lebih orang Islam sendiri. Bahkan, orang non-muslim yang memiliki keyakinan berbeda diperbolehkan masuk ke dalam masjid seperti diperbolehkannya orang Islam bertamu ke rumah ibadah mereka. Momen tour ke pelbagai rumah ibadah agama yang ada di Indonesia pernah penulis lakukan saat mengikuti acara Santri Kilat Milenial Islami pada bulan Ramadhan tahun lalu. Tidak ada larangan yang penulis temukan selama bertamu, bahkan penulis disambut baik.

Baca Juga:  Dampak Positif Kritik Sarjana non-Muslim terhadap Kajian Al-Qur'an

Selain itu, para pemeluk agama non-Islam bertamu dengan baik ke masjid Pesantren Bayt Al-Qur’an yang berlokasi di Pondok Cabe. Di sana tercipta meet and great disertai diskusi dan sharing menyangkut perbedaan agama yang dipeluk. Di tengah keyakinan yang berbeda, masing-masing saling menghormati tanpa ada rasa benci, karena mereka melihat satu sama lain saudara, walau beda agama, bahkan mereka menyadari masing-masing manusia yang harus dipenuhi hak-haknya dan diperlakukan secara manusiawi.

Walau beduk sudah ditabuh di masjid, pemeluk agama lain tidak memberontak, tidak mencegah, bahkan tidak mengoceh. Mereka mendengarkan lantunan suara azan mengalun dari corong dan ikut berbuka puasa bersama mencicipi buah kurma dan air manis. Sungguh indah perbedaan kala itu terbingkai di sebuah masjid yang berdiri di pesantren. Penulis mengimpikan masjid yang lain pun begitu. Tidak ada pembatasan bagi siapa pun untuk bertamu ke masjid.

Masjid yang tidak asing lagi dijadikan tempat berteduh seharusnya terus dijaga dari kepentingan pribadi atau kelompok dan terbuka terhadap siapa pun, termasuk orang non-muslim. Sebab, masjid bukan milik pribadi, namun milik bersama. Sucikan masjid dari kotoran jasmani dan rohani. Shallallah ala Muhammad![]


Like it? Share with your friends!

0
28 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
3
Suka
Khalilullah