Masjid, Merawat Narasi Kebangsaan


0
99 shares

Masjid adalah bangunan peradaban ummat Islam, mengembangkan kegiatan keagaman dan kegiatan yang dapat meningkatkan ibadah umat setidaknya sekitaran masjid. Menjadi tempat untuk menebarkan berbagai pemahaman keagamaan, ini pula tergantung pengurus masjid serta takmir masjid yang jelas memiliki otoritas mengurus masjid. Kita tahu banyak kejadian, masjid menjadi tempat menebarkan kebencian kepada kelompok lain dan tak jarang mengintrik antar umat Islam sendiri.

Narasi saling mengintrik, menyalahkan antar umat Islam sendiri ini merupakan benih kebencian antar sesama. Bangsa menjadi gaduh, antar umat saling menuduh, saling melaporkan ke ranah hukum dan terjadi akhir-akhir ini. Tidak jarang pula masjid dijadikan untuk mengarahkan umat untuk menggiring pasangan calon tertentu, sebaliknya merawat kebencian kepada pasangan calon lain yang dianggap berbeda terutama soal agama.

Selain itu, masjid dapat menebarkan ide pemahaman tentang khilafah dengan menyebarkan buletin jum’at ke masjid-masjid serta menyebarkan pengikutnya ke masjid-masjid untuk menjadi takmir masjid. Ini yang menurut penulis paling berbahaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jelas kelompok yang menginginkan pendirian negara Islam ini, akan selalu membuat narasi penolakkan atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena dianggap tidak ‘Islami’ dan tidak segan-segan menuduh mereka yang sepakat dengan NKRI dan siap mati membela negara ini serta Ideologi Pancasila, dituduh kafir dan musuh Islam.

Narasi khilafah Islamiyyah ini mengikis jiwa nasionalisme kepada masyarakat, terutama ummat Islam sendiri. Kaum ini (khilafah macam HTI) yang menyebarkan paham eksrimis kepada umat, menggiring ayat serta dalil Allah sesuai dengan kenginan mereka, bermodal cakap berbicara, rapih dan sopan santun untuk menarik simpatik kepada masyarakat.

Pendekatan kelompok radikal ini dinilai cukup massif dan tak jarang menyasar sampai ke masjid dilingkungan pemerintah. Seperti yang dijelaskan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan dan Masyarakat (P3M) hasil survey lembaga ini menunjukkan dari 100 masjid yang berada dilingkungan pemerintah sekitar 41 masjid terindikasi radikal.

Baca Juga:  Rohingya dan Kita (1)

Kondisi ini menunjukkan penyebaraan ide radikal yang digalakkan oleh kelompok macam HTI sudah cukup massif, organisasi HTI mungkin melalui hukum sudah jelas dibubarkan. Akan tetapi ide tentang radikal, narasi kebencian atas sebuah bangsa terus dipupuk sedemikian massif. Maka, gerakan untuk merebut masjid sudah saatnya dilakukan, santri-santri serta pesantren perlu menyebarkan santrinya untuk mengisi masjid, merebut masjid artinya merebut narasi, wacana, mimbar untuk menandingi gerakan kaum radikal yang jelas-jelas masih menjadi ancaman serius bagi kehidupan berbangsa dan beragama.

Masjid perlu ditelusuri lebih jauh, perlu menguji pengurus masjid pemahaman serta keberpihakkannya atas bangsa juga perlu diuji, tidak saja terjebak dengan kecakapan diluar. Sikap ini bukan sikap untuk ikut campur dalam beribadah, akan tetapi dilakukan sebagai sikap kehati-hatian atas kelompok radikal, memotong mata rantai pemahaman radikal dengan menetralisir masjid-masjid, perlu disasar untuk menjauhkan masjid dari konsolidasi merawat kebencian atas kelompok lain, antar umat Islam itu sendiri serta kebencian atas negara dan Pancasila dan jelas memiliki pemikiran untuk menggantikan Pancasila adalah orang-orang yang jelas adalah musuh bersama.

Walaupun hasil survey P3M sudah 2 tahun lamanya, akan tetapi survey ini setidaknya menunjukkan bahwa paham radikal juga tubuh berkembang didalam masjid. Yang seharusnya masjid menjadi mimbar bagi perdamaian, kesejukkan, menunjukkan Islam yang ramah di mimbar-mimbar masjid dan bukan sebaliknya.

Berkembangnya paham radikal ini juga kritik atas Islam moderat cenderung ‘meninggalkan masjid’, tidak merebut dan menyebarkan kader-kadernya melalui ormas masing-masing macam ormas NU dan Muhammadiyah. Dua ormas terbesar yang telah mengerti betul tentang kebangsaan, memiliki narasi yang sama yaiu merawat perdamaian sebuah bangsa dan negara, dengan menyebarkan gagasan Islam yang ramah.

Baca Juga:  Khilafah dan Nahdlatul Ulama (1)

Sebagaimana prinsip nilai-nilai ke-Islam-an yang sejuk dan damai, harusnya sejalan dengan itu para da’I dan pendakwah juga mencerminkan Islam itu sendiri yang sejuk dan damai, bukan dengan menunjukkan sikap yang marah, wajah yang garang. Mereka lupa tidak ada yang lebih garang dari sahabat Umar Bin Khattab, akan tetapi saat menjadi pemimpin ia tetap santun, menelusuri rakyatnya dimalam hari, hidup sederhana serta santun, dan ini adalah kader Nabi Muhammad sendiri, melalui rasul menunjukkan dakwah yang damai, bahkan Umar yang terkenal garang, setelah masuk Islam dan menjadi pengikut setia rasul, ia menjadi sangat ramah.

Maka tidak dibenarkan mendakwah dengan merawat dan bahkan memupuk kebencian antar sesame umat muslim, antar sesama warga negara. Wajah Islam yang garah serta suka marah-marah tidak pernah dicontohkan oleh nabi Muhammad sampai kepada waliyullah pembawa Islam di Nusantara. Mari kita tangkal paham radikal bersama-sama melalui mimbar masjid setidaknya dilingkungan kita berada, untuk menyuarakan Islam ramah, damai serta cinta terhadap tanah airnya.

*Hilful Fudhul, Pimpinan Alumni Pondok Pesantren Darul Furqan Kota Bima


Like it? Share with your friends!

0
99 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
2
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Hilful Fudhul