Masjid, Khotbah, dan Radikalisme


0
35 shares
Ilustrasi (Ist_)

Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) melakukan survei pada 100 masjid yang ada di lingkungan pemerintah di DKI Jakarta. Survei yang dilakukan setiap Jumat selama empat pekan dari 29 September hingga 21 Oktober 2017 tersebut menghasilkan temuan mengejutkan: terdapat 41 masjid yang terindikasi menyebarkan paham radikal.

Setiap masjid dari 100 masjid tersebut didatangi seorang relawan untuk merekam khotbah dan mengambil gambar brosur, buletin, dan bahan bacaan lain yang terdapat di masjid. Bahan-bahan tersebut menjadi acuan menilai apakah masjid terindikasi radikal atau tidak. Hasilnya, dari 100 masjid tersebut, terdapat 41 masjid terindikasi radikal. Dengan rincian, 7 masjid di level rendah, 17 masjid di level sedang, dan 17 masjid di level tinggi.

Level rendah artinya secara umum cukup moderat tatapi berpotensi radikal. Misalnya, dalam konteks intoleransi khatib tidak setuju tindakan intoleran, namum memaklumi jika terjadi intoleransi. Kemudian kategori sedang artinya tingkat radikalismenya cenderung tinggi. Misalnya, khatib setuju intoleransi, tapi tak sampai memprovokasi jamaah bertindak intoleran. Sedangkan kategori tinggi artinya khatib tak sekadar setuju intoleransi, namun juga memprovokasi umat agar melakukan tindakan intoleran (Republika.co,id, 19/11/2018).

Terkait konten khotbah yang mengarah pada intoleransi dan radikalisme, hal ini dibangun dari berbagai topik atau materi khotbah. Mengutip tirto.id(9/7/2018), survei P3M dan Rumah Kebangsaan menggunakan jasa tim analisis yang terdiri dari aktivis keagamaan dan aktivis pluralisme untuk menganalisis konten-konten khotbah Jumat di masjid-masjid. Hasilnya, diketahui muatan khotbah yang disampaikan di antaranya bertopik sikap terhadap “khilafah”, “agama lain”, dan “minoritas”.

Adapun untuk topik sikap terhadap khilafah, muatan yang disampaikan di antaranya mengarah pada penolakan terhadap Pancasila, bentuk negara Indonesia, dan demokrasi. Untuk topik sikap terhadap agama lain dan minoritas, di antaranya menyudutkan dan memandang miring kedua kelompok tersebut. Angka spesifiknya, survei ini mendapatkan hasil frekuensi ujaran kebencian terhadap agama lain dan minoritas dalam khotbah Jumat di masjid-masjid yakni: 39% ujaran kebencian ditujukan pada Katolik, 18% kepada etnis Tionghoa, 22% terhadap Yahudi, dan 17% terhadap Kristen. Sedangkan, ada 4% yang juga terang-terangan anti-Pancasila.

Baca Juga:  Tadarus Pancasila : Memahami Relasi Agama dan Negara dalam Pancasila

Survei tersebut dilakukan di masjid-masjid yang ada di lingkungan pemerintah di DKI Jakarta. Penulis belum menemukan data yang sifatnya lebih luas, yang menggambarkan materi khotbah Jumat secara umum di Indonesia. Namun, melihat hasil survei tersebut mestinya sudah lebih dari cukup membuat kita semakin sadar bahwa bibit-bibit intoleransi dan radikalisme masih membayangi kita, bahkan merasuk melalui materi khotbah-khotbah Jumat.

Survei tersebut dilakukan antara bulan September-Oktober 2017, dan sejak awal 2018, Dewan Masjid Indonesia (DMI) sudah melakukan berbagai upaya untuk merespon temuan atau indikasi masjid terpapar radikalisme tersebut. Di samping tema khotbah, DMI menyediakan konten-konten khotbah, pamflet, dan buletin. Selain itu, DMI juga tengah menyusun program pembinaan terhadap ta’mir-ta’mir masjid dan pengurus masjid di Indonesia (tirto.id, 9/7/2018).

Upaya yang dilakukan DMI tersebut juga harus didukung pengurus masjid di seluruh Indonesia untuk bisa membentengi umat dari bibit-bibit intoleransi dan radikal. Organisasi-organisasi keagamaan yang moderat dan toleran juga perlu mendukung upaya tersebut dengan mendorong pentingnya khotbah yang lebih damai, lebih mendidik dan mencerdaskan masyarakat. Masyarakat luas diharapkan juga semakin cerdas dan mewaspadai segala bentuk provokasi yang mengarah pada hasutan bermuatan kebencian, intoleransi, dan bahkan radikalisme.

Jelas berbahaya jika masjid justru menjadi tempat tumbuhnya pemikiran-pemikiran intoleran dan radikal. Masjid sebagai tempat ibadah, menguatkan iman atau mendekatkan diri pada Allah Swt mestinya bisa menciptakan nuansa yang tenang dan damai, sehingga proses ibadah menjadi lebih khusyu’. Kenyamanan dan ketenangan batin dan jiwa jamaah harus bisa diciptakan dan dibangun di masjid. Jelas kondisi tersebut akan sulit didapatkan jika masjid justru lebih sering menyuarakan permusuhan, kebencian, dan provokasi. Alih-alih merasakan ketenangan dan kedamaian ibadah, khotbah-khotbah yang bernuansa negatif malah bisa memunculkan kegelisahan, bahkan memantik emosi para jamaah.

Baca Juga:  Tak Ada Khilafah Islamiyah dalam NKRI

Di samping itu, independensi masjid juga harus tetap dijaga. Dalam arti, jangan sampai masjid menjadi tempat aktivisme politik praktis. Azyumardi Azra dalam tulisannya Masjid dan Politik (Republika, 24/11/2018) menjelaskan, politik lazimnya bersifat devisif atau cenderung memecah belah, membuat orang atau suatu kelompok bersifat partisan, mementingkan kepentingannya sendiri dengan mengorbankan kepentingan pihak lain. Dari sini, terjadi kontestasi kepentingan yang tak jarang berujung konflik dan kekerasan yang tidak sejalan dengan kesucian masjid.

Kita mesti bersama-sama membentengi masjid dari khotbah-khotbah radikal yang memecah belah. Sebab, khotbah di masjid menjadi salah satu bagian penting dalam keberagamaan umat Islam. Dari khotbah yang disimak rutin, kita diingatkan untuk selalu meningkatkan ketakwaan pada Allah Swt, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dan salah satu perintah Allah Swt adalah agar kita, umat manusia, bisa saling mengenal meski diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Artinya, menjadi bertolakbelakang jika khotbah di masjid justru menebarkan kebencian dan permusuhan pada sesama manusia. Wallahu a’lam..

*Al-Mahfud, lulusan Pendidikan Agama Islam STAIN Kudus.


Like it? Share with your friends!

0
35 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.