Politisasi Masjid: Awal Kejayaan Atau Kehancuran?


0
30 shares

Masjid, seperti yang kita tahu merupakan tempat beribadah umat muslim, tempat dimana umat muslim mencari ketenangan, tempat dimana hal baik selalu tersemat kepadanya. Oleh karena itu semua orang muslim mengganggap bahwa masjid adalah tempat yang sakral dan tempat yang suci, sehingga hal-hal yang bersifat profan atau keduniaan sangat makruh untuk dibicarakan didalam masjid. 

Akan tetapi apakah diera milenial seperti sekarang ini masjid masih merupakan tempat beribadah umat muslim…? seharusnya bisa dipastikan iya bahwa sampai kapanpun masjid akan menjadi tempat beribadah untuk umat muslim, melihat kenyataan dan fenomenanya, masjid bukan lagi menjadi tempat beribadah umat muslim akan tetapi tempat beribadah golongan umat muslim. jadi rasanya pemahaman mengenai masjid sebagai tempat beribadah umat muslim perlu di dekonstruksi ulang.

Peran masjid yang seharusnya bisa menyatukan umat muslim, masjid yang seharusnya menjadi tempat berkumpul umat muslim, masjid yang seharusnya menjadi titik juang umat muslim akan tetapi sekarang hal itu tidak nampak lagi, peran masjid telah hilang jati dirinya. hal ini, dikarenakan masjid telah terpetakan menjadi masjid milik segolongan umat muslim saja, ada masjid NU, masjid Muhamadiyah, ada masjid Persis, bahkan bisa dikatakan semua golongan umat mempunyai masjid. pernah terjadi suatu kasus, masjid yang baru digunakan untuk sholat seorang muslim langsung dibersihkan dengan cara dipel, karena mengganggap muslim yang bukan dari golonganya adalah benda najis.

Dengan terpetakan masjid menjadi milik golongan umat muslim, peran masjid yang dahulunya sebagai tempat menyatukan akan berubah menjadi tempat awal dari pertikaian yang membawa kehancuran, apabila golongan umat muslim telah kehilangan kesadarannya dan tetap mempertahankan sikap fanatis terhadap golongannya.

Masjid yang dulunya tempat sakral juga telah beralih fungsi menjadi tempat yang profan, karena kebanyakan aktifitas didalam masjid telah banyak dipenuhi unsur keduniaan seperti politik. Bahkan seorang pendakwah yang harusnya bersikap sopan santun telah menjadikan masjid sebagai ajang caci maki terhadap muslim yang dianggap tidak sepaham.

Jika hal seperti ini diterus-teruskan oleh umat muslim di Indonesia, maka tunggulah saat kehancurannya. Kita seharusnya belajar banyak dari negara di kawasan timur tengah. Negara mereka hancur berantakan berawal dari kegiatan caci maki di dalam masjid. Dan gejala ini juga sudah merebak di Indonesia, masjid digunakan untuk tempat saling menghujat diantara pendakwah, bahkan yang lebih ironis lagi masjid digunakan sebagai titik awal untuk melaksankan demo berjilid-jilid. Mereka melakukan itu semua untuk mengelabuhi umat muslim dan untuk menggerakan umat muslim menuju pertumpahan darah. Hal demikianlah yang menjadikan masjid kehilangan maknanya.

Oleh karenanya sebagai seorang muslim kita harus selalu berusaha mengambalikan fungsi masjid sebagaimana tujuan didirikan masjid tersebut, yaitu untuk beribadah, untuk mengembalikan ketenangan pikir setelah jenuh memikirkan dunia. Dan juga harus memfungsikan kembali masjid sebagai tempat untuk menuntut ilmu, entah itu ilmu agama ataupun ilmu alam, karena dari ilmu yang diajarkan dimasjid inilah awal peradaban Islam di mulai, hal ini juga selaras dengan fungsi masjid di zaman rasulullah, masjid digunakan sebagai tempat belajar sekaligus tempat tinggal Ahlus Suffah.

Dari wacana itu semua, menjadi jelaslah bahwa masjid bisa menjadi awal dari kemajuan dan bisa pula menjadi awal dari kehancuran, bergantung bagaimana umat muslim sekarang memposisikan masjid.

Baca Juga:  Beradab Dahulu Barulah Berilmu

Like it? Share with your friends!

0
30 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka