31.4 C
Jakarta

Masa Depan Terorisme di Era Digital

Artikel Trending

KhazanahTelaahMasa Depan Terorisme di Era Digital
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Mukhtar Khairi, salah satu mantan teroris yang sudah mengkhidmatkan dirinya untuk bangsa dan negara, bercerita pada sebuah forum yang bertajuk “Narasi Toleransi” yang dilaksanakan oleh Indika Foundation. Forum Narasi  Toleransi adalah sebuah forum online yang diikuti oleh lebih dari 70 peserta, berasal dari kelompok muda, untuk belajar tentang toleransi, keberagaman dan inklusivitas yang dilaksanakan mulai 3-17 Desember 2022. Mukhtar Khairi memaparkan cukup banyak tentang pengalamannya dalam gerakan teroris hingga perjalanannya memilih Pancasila sebagai dasar negara. Dalam forum ini, banyak sekali pertanyaan yang muncul kepada Mukhtar, termasuk pilihan hidup yang dijalani ketika bergabung dalam gerakan terorisme.

Bagi Khairi dalam sebuah penjelasannya di CNN, kondisi gerakan teroris hari ini, berbeda dengan jejaring kelompok teroris yang sempat bikin gaduh pada awal 2000-an dibawah kendali Jamaah Islamiyah (JI). Saat ini, kelompok teroris tidak saling berkoordinasi satu sama lain. Sehingga dalam melakukan aksinya itu, disebut sebagai pelaku (lone wolf) oleh penegak hukum. Artinya, seseorang yang bergabung dalam gerakan terorisme pada hari ini, tidak bisa dipastikan ia terafiliasi dalam organisasi teroris yang mana.

Dari sekian penjelasan yang disampaikan oleh Mukhtar, satu hal yang dipahami oleh penulis bahwa, masa depan terorisme sangat cerah jika melihat strategi ciamik yang diterapkan. Pada era digital, pergerakan mereka justru tidak terbantahkan. Mereka memiliki banyak strategi untuk terus melakukan regenerasi dalam organisasinya. Seperti apa gerakannya?

Pergerakan yang soft

Pergerakan terorisme di era digital, menurut Mukhtar Khairi adalah gerakan yang nyata sekaligus absurd. Melalui pengalamannya pada tahun 2010, ia bercerita tentang perjalanannya untuk bergabung dalam gerakan teroris tanpa dibantu oleh informasi dari media sosial. Agar tergabung dalam gerakan teroris, ia dan circle se-frekuensinya, mengikuti kegiatan halaqah yang membahas tentang negara dan agama. Dalam halaqah itu, pesertanya sangat terbatas. Biasanya juga, mereka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh orang banyak.

Menariknya adalah, halaqah yang diikuti olehnya, di dalamnya terdapat beberapa organisasi pengasong khilafah di Indonesia, seperti: HTI, FPI, NII, ISIS dan Al-Qaeda. Mereka berkumpul menjadi satu untuk menyatukan visi dan misi agar bisa mencapai tujuan yakni mendirikan negara khilafah. Pada tahun 2010, menjadi sangat wajar bahwa organisasi di atas bergabung menjadi satu. Sebab organisasi itu, belum dilarang oleh pemerintah Indonesia, bahkan dibiarkan bebas untuk melakukan segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh organisasi di atas.

Pernyataan Mukhtar sejalan dengan temuan penelitian Ilham (Prisgunanto;2022) yang menjelaskan bahwa, di era pandemi, pelaku terorisme dan radikalisme justru sangat aktif melakukan kegiatan yang bersifat ekonomi. Mereka melakukan Crowd-funding dalam pendanaan aktivitas teroris.  Padahal, seperti yang kita ketahui bahwa, di era pandemi, orang terfokus pada kegiatan ekonomi dan ketika kondisinya terpuruk, akan menyasar kemiskinan karena terpaan dari krisis ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi.

Berdasarkan penjelasan ini, dapat kita pahami bahwa, kenyataan bahwa kelompok teroris memiliki dana yang sangat besar adalah hal yang tidak terbantahkan. Mereka menyusun strategi untuk mendapatkan dana agar mampu mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Mulai dari merakit bom, hingga melakukan pelatihan kepada para kombatan. Tidak heran, pembahasan tentang kotak amal teroris yang beberapa waktu lalu sempat heboh dibicarakan oleh publik, menjadi salah satu upaya untuk menyokong pendanaan kelompok teroris.

Selain memaksimalkan pendanaan, kelompok teroris juga melakukan propaganda di media sosial. Penggunaan media sosial dan konten yang berisi tentang teroris, mencari celah untuk memaksimalkan potensi ketenaran dan berupaya untuk mengajak agar orang lain. Pencarian pengikut ini sebagai sumber daya manusia pelaku terorisme agar terus bersinergi dan tetap aktif.

Propaganda yang dilakukan oleh kelompok teroris biasanya dengan mencari celah pemerintah dan dihubungan dengan kegagalan yang terjadi di dalamnya. Mereka kemudian menjadikan khilafah sebagai solusi dari segala kegagalan yang terjadi dalam sebuah negara.  Adanya media sosial justru semakin mempermudah kelompok teroris untuk menyebarkan narasi, memperkeruh suasana. Belum lagi dengan keadaan akibat kemiskinan, kelaparan, atau segala permasalahan kehidupan yang cukup kompleks, menjadikan narasi dari kelompok teroris sebagai obat yang membuat orang lain untuk menjadi bagian di dalamnya. Masa depan teroris tetap cerah di era digital. Mereka akan terus bergerilya di media sosial dengan strategi licik yang diterapkan. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru