Manusia Berwajah Dajjal


-1
4 shares, -1 points

Terkadang, kita merasa takut pada hal-hal yang menakutkan di luar diri kita. Kita takut pada serigala, hantu, dan juga pada Dajjal. Kita juga takut pada kiamat dan ancaman neraka.

Padahal, hakikatnya, semua itu juga ada dalam diri kita secara potensi. Perlahan tapi pasti, potensi-potensi tersebut mengaktual, tanpa disadari. Akhirnya, kita menjelma serigala yang siap menerkam, kita menjadi hantu yang membisikkan kebencian, kita pun menjadi Dajjal si pelopor dan penyeru eksploitasi.

Kiamat diri adalah kematian manusia sebelum kematian datang menjemputnya. Kematian sebelum kematian ini akan menyibak tirai diri, hingga tampaklah hakikat diri (wujud malakut) setiap manusia.

Mereka yang secara sadar memilih jalur eksploitasi lalu menyusurinya, pada hakikatnya telah kehilangan kehidupan hakikinya. Ia sedang mengalami kiamat internal, lalu tampaklah hakikat dirinya berupa api yang menyala-nyala (neraka).

Pun sebaliknya, mereka yang menyusuri jalan harmonisasi, pada hakikatnya telah mengalami kematian sebelum kematian. Ia tengah mencipta kiamat dalam dirinya. Bedanya, kiamat tersebut menampilkan hakikat dirinya dalam bentuk syurgawi.

Maka, sungguh aneh mereka yang takut pada serigala dan hantu eksternal, sementara mereka terus-menerus memberi makan serigala dan hantu dalam diri mereka. Mereka takut dan cemas akan kemunculan Dajjal, sedang mereka sendiri telah lama menjadi Dajjal.

Mereka mengira kiamat itu nanti, padahal setiap saat kiamat terjadi dalam diri. Mereka takut bila nanti terbakar api dalam neraka, tapi mereka terus-saja mengobarkan neraka dalam diri mereka.

Bunuhlah serigala, hantu dan Dajjal yang ada dalam dirimu, agar hilang ketakutanmu pada serigala, hantu dan Dajjal yang ada di luar dirimu.

Dalam dirimu, padamkan api neraka yang berkobar itu, lalu buatlah danau dengan taman bunga, agar engkau tak disentuh api neraka yang ada di luar dirimu.

Baca Juga:  Pendidikan Etika bagi Anak Yang Menantang Guru

Dengarlah kisah kekasih Tuhan berikut, berkisah ihwal realitas internal, tentang ribuan babi dalam diri.

Syeikh San’an, karena cintanya pada seorang gadis kristen, ia memutuskan pindah agama, menjadi kristen dan bersedia memelihara babi.

Murid-murid Syeikh San’an sangat sedih atas nasib guru mereka itu.

Fariduddin Attar lalu berpesan;

“Dalam fitrah kita masing-masing ada seratus babi. Wahai kalian yang tak berarti apa-apa, kalian hanya memikirkan bahaya yang sedang mengancam Syeikh San’an, sedangkan bahaya itu terdapat juga dalam diri kita masing-masing.

Kalau kalian tak mengetahui perihal babi-babi kalian sendiri, maka kalian tak akan pernah mengenal jalan cinta.

Apabila kalian mulai menempuh jalan itu, niscaya akan kalian jumpai ratusan babi dan ratusan berhala pujaan.

Halaulah babi-babi itu, bakarlah berhala-berhala itu di lembah cinta. Jika tidak, kalian akan menjadi seperti Syeikh San’an, hina dina dicemooh cinta”.


Like it? Share with your friends!

-1
4 shares, -1 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka