25.7 C
Jakarta

Manajemen Teror (8): Adakah Cara Selain Terorisme dan Pertumpahan Darah?

Artikel Trending

Milenial IslamManajemen Teror (8): Adakah Cara Selain Terorisme dan Pertumpahan Darah?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Kita telah tiba di bab terakhir buku Idarah al-Tawahhusy-nya Naji. Tulisan ini juga seharusnya menjadi seri yang terakhir, tetapi saya memutuskan untuk membuat satu seri lagi yang meng-cover semuanya, ulasan reflektif tentang manajemen teror di negara kita sendiri: Indonesia. Bagaimana pun, buku ini menjadi konstitusi Negara Islam masa depan bagi seluruh kelompok jihad, tak hanya bagi Naji dan Al-Qaeda. JI dan JAD, misalnya, yang juga tengah meng(k)ajinya.

Penting untuk diingat, di sini, bahwa segala yang kita ulas dari awal, yang dibahasakan Naji sebagai kebiadaban dan kekejaman, juga yang ia istilahkan sebagai jihad, sepenuhnya adalah apa yang kita kenal sebagai terorisme. Itulah tahap paling kritis, paling susah, tapi terpaksa harus dilalui umat demi proyek Negara Islam. Posisi Naji, sebagai ahli strategi, ternyata tak dangkal, melainkan melangkah jauh menjadi representasi Islam secara umum. Inilah kuncinya.

Naji bertanya, apakah ada solusi lain yang lebih mudah dari manajemen teror? Ia berusaha menjawab dua persoalan penting: kemungkinan solusi alternatif sekaligus efektivitas dari manajemen teror itu sendiri.

Menurutnya, solusi damai yang diplomatis, yang tidak melibatkan pertumpahan darah, seperti apa pun bentuknya, sama sekali tidak menawarkan jalan keluar yang signifikan. Tidak ada gunanya. Bahkan jika pun sekelompok umat berhasil melakukan kudeta, Naji tetap bersikukuh bahwa semua itu percuma: selama sistemnya tetap thaghut, maka kudeta hanya akan melahirkan thaghut-taghut berikutnya. Naji memaksakan satu jalan: rombak total sistemnya.

Kata Naji,

أغلب الحركات الإسلامية تستبعد ذلك الحل لأنه شاق ولا يقدر على اتخاذ القرار باتباعه في بدايته إلا قلة، وهم لا يعترفون بذلك فيتعللون بحجج ما أنزل االله ا من سلطان أو يرفعون شعارات خادعة، وكان يجدر بذه الحركات ألا تجمع بين كذب وهزيمة، فلو صدقوا مع أنفسهم لقالوا: إن الطريق طويل، والأشواك كثيرة، والجمر لا تستطيع أرجلنا تحمله، لذلك فأزمتنا أزمة صدق في أصلها للأسف

Sebagian besar gerakan Islam menolak solusi (manajemen teror, red.) itu karena sulit dan hanya sedikit yang mampu mengambil keputusan untuk mengikutinya sejak awal. Mereka tidak mengakui itu dan mereka menawarkan bukti dalih yang tidak dilegitimasi oleh Allah, atau mereka mengangkat slogan-slogan yang menipu. Gerakan-gerakan ini harus tidak menggabungkan kebohongan dan kekalahan. Jika mereka jujur ​​dengan diri mereka sendiri, mereka akan berkata: ‘Jalannya panjang dan durinya banyak, kaki kami tidak mampu menanggung bara.’ Jadi, sayangnya, krisis keterbukaan benar-benar menimpa kita.

Naji menawarkan optimisme, bahwa selama pergerakan jihad umat telah sesuai dengan perintah Allah, maka kemenangan pasti didapat. Kalau pun gagal, maka yang mesti diperbaiki adalah iman jihadis itu sendiri. Sunnah Allah, kata Naji, pasti terjadi. Jika tidak sekarang, maka nanti. Karena itu, Naji kemudian menguraikan tesis-tesis manajemen teror. Manajemen teror harus tetap dilalui, meski bertumpah darah. Ini semua, kata Naji, sudah keniscayaan (sunnah syar’iyyah).

Tesis-tesis Manajemen Teror

Tujuh tesis Naji tentang manajemen teror ialah:

  1. Kompetisi kesabaran
  2. Cobaan antara jiwa kemanusiaan dengan Sunnah Allah dalam dakwah
  3. Jihadis dan tentara musuh di medan perang
  4. Hukum-hukum universal
  5. Manhaj rahmatan lil ‘alamin
  6. Krisis istilah maslahah dan mafsadah
  7. Polarisasi dan adidaya

Perjuangan melawan musuh, menurut Naji, adalah tes militansi dan kesabaran. Hanya dengan kesabaran, menurutnya, kemenangan akan diraih. Bayangkan, kata Naji, kita telah meletakkan jari dalam gigitan musuh, begitupun musuh telah meletakkan jarinya dalam gigitan kita. Yang kalah adalah ia yang berteriak lebih dulu. Dan jika kita berteriak duluan, musuh akan menang dan berkata: Andai saja Anda bersabar sebentar lagi, saya akan berteriak dan melepaskan jari dari gigitan Anda, dan Anda akan menang.

Tentu saja Naji tidak memproyeksikan kesabaran sebagai langkah statis, justru sebaliknya, dinamis secara strategi dan manajemen teror hingga musuh takluk dan kalah. Satu strategi gagal, ubah ke strategi lain, begitu seterusnya.

Inti dari tesis kompetisi kesabaran adalah bahwa kekalahan kelompok Islam banyak disebabkan pemimpinnya tidak memiliki konsep yang jelas dan jitu tentang strategi militer. Para jihadis sering kali kewalahan menghadapi represi musuh, lalu menyerah sebab merasa tak punya kesempatan. Aspek dogmatis pun luntur karena mereka mengambil posisi non-syariah dalam menghadapi kekalahan militer. Karena tidak sabarlah, kekalahan didapat.

Adapun tesis Naji tentang cobaan antara jiwa kemanusiaan dengan Sunnah Allah berusaha mendikotomi secara tegas sifat-sifat manusiawi kita dengan tuntutan Ilahiah. Kita, menurut Naji, sering menganggap baik sesuatu yang sebenarnya itu buruk, dan sebaliknya menganggap buruk sesuatu yang sejatinya itu baik. Misalnya penjara dan siksaan sebagai konsekuensi jihad dihadapkan dengan pedang dalam perang. Sama-sama menakutkan.

Namun kedunya tidak sama. Penjara tidak buruk, kematian adalah baik, karena akan dibalas oleh Allah di surga. Sementara takut kapada pedang sampai enggan berjihad karena takut mati, menurut Naji, adalah kemunafikan yang sangat buruk—menentang perintah Allah. Kita akan dicoba dengan ketakutan yang manusiawi dan ketakutan yang Ilahi, mana yang akan pilih. Manajemen teror memang menumpahkan banyak darah, tapi itu lebih baik daripada harus dapat murka Allah.

Selanjutnya tesis tentang jihadis dan Salibis di medan perang. Naji percaya, bahwa dalam jihad mendirikan Negara Islam, jihadis tidak berjuang sendiri, tidak juga mengandalkan persiapan fisik belaka seperti baju lapis baja dan senjata tempur mumpuni—juga tank penghancur. Pengandalan fisik, kata Naji, adalah ciri khas tentara musuh. Di medan perang, jihadis punya senjata sakinah: hadirat Tuhan. Jumlah sedikit dan alat tempur terbatas tak menjadi masalah bagi jihadis.

Naji melandaskan bukti historis Perang Badar, dengan jumlah tentara Islam sedikit melawan pasukan musuh yang besar. Ia juga menegaskan agar jihadis Islam harus belajar pada Perang Hunain, di mana jumlah sama sekali bukan penentu kemenangan pertempuran. Inilah yang membedakan jihadis dengan tentara musuh di medan perang. Para thaghut, kata Naji, adalah gerombolan tikus penakut yang akan lari terbirit-birit melihat keteguhan bertempur para jihadis.

Yang tak kalah menarik adalah tesis keempat Naji, tentang hukum-hukum universal, yang sekaligus menjadi argumentasinya untuk mengesahkan manajemen teror yang berdarah-darah. Naji mengkritik habis dan menelanjangi kedustaan kampanye damai dan perjuangan nir-kekerasan (kaff al-aydi) yang dianggap sebagai hukum universal: harmoni dan kasih sesama. Menurutnya, umat tengah dijebak agar tak suka kekerasan, padahal itu semua cara musuh melemahkan Islam.

BACA JUGA  Bangkrutnya Harmonisasi Islam Karena Habib Bahar?

Naji secara tegas mengatakan, Metode Gandhi, yakni mencapai kemerdekaan dengan perjuangan nir-kekerasan, adalah palsu belaka. Kemerdekaan India, kata Naji, sama sekali bukan karena perjuangan nir-kekerasan Gandhi, tetapi karena perang masif umat Islam India beserta pejuang-pejuang lain yang tak kenal lelah, ganas, hingga membuat Inggris kewalahan dan menyerah, lalu menyerahkan kemerdekaan. Tapi fakta tersebut menurutnya ditutupi dengan sengaja.

Jadi, jika berbicara tentang hukum universal, kekerasan tidak bisa dielakkan. Bahkan negara-negara demokratis, kata Naji, dicapai setelah perang yang menumpahkan banyak darah. Maka umat Islam ia minta untuk tak terkecoh tipuan musuh. Negara Islam tak bisa dicapai hanya dengan kampanye perdamaian. Musuh sangat kejam namun umat Islam diminta menyuarakan damai. Naji sangat murka, bahwa umat banyak tertipu hukum universal yang dibuat musuh Islam itu sendiri.

Teror sebagai Rahmat

Seluruh tesis Naji diorientasikan untuk menguatkan proyek manajemen teror. Selain empat tesis tadi, Naji juga menegaskan bahwa cara tersebut sudah merupakan manifestasi rahmatan lil ‘alamin. Manajemen teror dianggap bukan bentuk ekstremitas, dan Naji justru membalik definisinya. Bagi Naji, ekstremis yang sebenarnya adalah orang Yahudi dan Kristen yang menuduh Islam sebagai biang kekerasan. Islamofobia adalah bentuk ekstremisme.

Sementara itu, mereka yang mengatakan Islam sebagai agama rahmat sembari menuduh jihad sebagai ekstremisme adalah kalangan fasik; takut mati hingga memanipulasi Islam. Yang terakhir Naji mengatakan bahwa mereka yang benar-benar pelaku ekstremisme, kejahatan, dan kebodohan ialah umat Islam yang ikut menyuarakan tipuan nir-kekerasan. Seolah mereka berjuang untuk Islam, padahal mereka menurut Naji tengah melemahkannya.

Naji mendekonstruksi makna rahmatan lil ‘alamin, bahwa menjadi rahmat bagi alam bukan berarti menjadi lembek dan lemah diinjak-injak musuh. Manajemen teror, baginya, merupakan manifestasi dari rahmat itu sendiri, menyelamatkan umat dari genggaman thaghut dan sistem kafir Salibis yang menyengsarakan manusia. Ini berkaitan dengan tesis Naji yang keenam, tentang kerancuan istilah: mana yang maslahah (al-haqq) dan mana yang mafsadah (al-bathil).

Tidaklah berlebihan dikatakan, menurut Naji, bahwa fitnah istilah adalah fitnah terbesar yang menimpa umat Islam, terutama para pemuda. Ia yang konsekuen dengan Al-Qur’an dan sunnah justru dianggap paling jauh dari ajaran Islam, sementara ia yang melenceng dari syariat dianggap sebagai yang paling konsekuen dengan Islam. Term jihad dan iman, misalnya, kata Naji, semakin terpinggirkan dan dianggap sebagai sesuatu yang mengandung kerusakan (al-mafsadah).

Untuk mempersilakan kita melihat mana yang maslahah dan mana yang mafsadah, Naji berkata,

 يتصور البعض – بعقليتهم الفذة – أن جهاَد العدّو الصائل فقط عند بدايِة قدوم هذا العدو بقواته بينما إذا استقّر هذا العدُّو وتحقق له غرضه فإن من المفاسِد إفساد ذلك الاستقرار والأمن الذي يعيش فيه الناس!! بينما في الحقيقة ّ أن المصلحةَ – كل المصلحة – في إفساِد ذلك الاستقرار ّ لأن الكافَر أو المرتَّد إذا استقَّر واستت َّب له حكُم ٍ بلد ما سيبدأ في العمل على إخراج الناس من دينها، ولينظر القارُئ إلى الشيشان الآن والشيشان قبل ربِع قرٍن عندماكان هناك شعب يعيش في أمان وقد سلخه الحاكم الكافر عن دينه، بينما من أراد أن يقرأَ في المصحف فعليه أن يذهب إلى غرفٍة خفيٍة أسف َل المنزل يقرأُ فيهاكتاب االله ويخشى أن يعلم بذلك أحد، وليتأمل القارئ جهاَد ا اهدين في الجزائِر على مداِر ن ِ صف قرٍن بدون انقطاٍع تقريبًا وليغمض عينيه وليتخيل الجزائَر بدون جهاٍد، ولينظر لمثال تونس بجوارها فإن فيه الكثير من العبر لمن يفهم عن االله ورسوله ويعلم طبيعةَ الكفر وأهله.

Beberapa orang mengira bahwa jihad melawan musuh penyerang hanyalah awal dari kedatangan musuh tersebut dengan pasukannya. Tetapi jika musuh ini menetap dan tujuannya tercapai, di antara akibat merugikan adalah kerusakan stabilitas dan keamanan masyarakat! Pada kenyataannya, satu-satunya keuntungan yang bisa didapat adalah kehancuran stabilitas itu, karena jika orang kafir atau murtad menetap dan memerintah suatu negara, dia akan mulai bekerja untuk mengeluarkan orang-orang dari agama mereka. Biarkan pembaca mempertimbangkan Chechnya sekarang dan Chechnya seperempat abad yang lalu ketika diperintah oleh orang kafir. Mereka yang ingin membaca Al-Qur’an harus pergi ke ruang tersembunyi di ruang bawah tanah mereka, membaca Kitab Allah sambil takut ketahuan. Biarkan pembaca merenungkan jihad yang hampir terus menerus dilakukan oleh para mujahid di Aljazair selama setengah abad. Biarkan dia memejamkan mata dan membayangkan Aljazair tanpa jihad. Biarkan dia mempertimbangkan contoh Tunisia di sebelahnya. Di dalamnya banyak pelajaran bagi orang-orang yang memahami Allah dan Rasul-Nya, serta mengetahui sifat kekafiran dan aktor-aktornya.

Polarisasi dan finansial menjadi tesis terakhir Naji, bahwa manajemen teror enggan dilakukan sebagian umat bukan karena tiadanya kesadaran dogmatis, melainkan karena kuatnya kepentingan pragmatis dalam dunia politik. umat Islam, menurut Naji sering kali terpolarisasi ketika berhadapan dengan harta dan kekuatan. Mereka cenderung takut dengan negara adidaya dan memilih berkoalisi, tanpa menyadari bahwa mereka telah mengkhianati ajaran Islam.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal, apakah ada cara lain, yang lebih halus dan anti-kekerasan, yang tidak menumpahkan darah, yang bisa dilalui umat untuk menggapai kemenangannya—mendirikan Negara Islam? Dari uraian Naji melalui ketujuh tesisnya di atas, jawabannya adalah: tidak. Umat menurut Naji tetap harus menempuhnya, betapa pun harus memakan banyak korban. Manajemen teror tak perlu ditakutkan sebab merupakan anjuran Allah dalam melawan kekafiran.

Tujuh tesis ini jelas sangat berbahaya, karena Naji bertolak pada kesadaran psikologis umat Islam bahwa jika manajemen teror terasa menakutkan untuk dilalui, maka yang perlu diubah bukan strateginya, melainkan pandangan kita akan kengerian teror itu sendiri. Jadi sudah siapkah kita untuk masuk ke dalam manajemen teror dengan segala kengerian dan pertumpahan darahnya?

Bersambung…

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru