25.7 C
Jakarta

Manajemen Teror (7): Hambatan Strategi, Operasi Intelijen, dan Cara Mengatasinya

Artikel Trending

Milenial IslamManajemen Teror (7): Hambatan Strategi, Operasi Intelijen, dan Cara Mengatasinya
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Setelah membahas seluruh taktik manajemen teror, dan proyek jangka panjang Negara Islam telah teruraikan segala strateginya, Naji beranjak pada pembahasan mengenai hambatan-hambatan yang mungkin terjadi sekaligus bagaimana solusinya. Ia menyadari betul, manajemen teror bukan perkara mudah; menukik dan butuh banyak tenaga—namun umat tetap wajib menempuhnya. Bagian ini diuraikan Naji pada bab keempat. Seri ketujuh ini akan mengulasnya.

Judul bab keempat adalah “Ahamm al-Masyakil wa al-‘Awa’iq allati Satuwajihuna wa Subul al-Ta’amul Ma’aha”, yang artinya Masalah-masalah Krusial yang Akan Kita Hadapi dan Cara Menyelesaikannya. Bab ini memiliki enam subbab, yang kesemuanya menguraikan problem-problem fundamental dalam jihad menegakkan Negara Islam melalui idarah al-tawahhusy, dengan catatan, kata Naji, tanpa mengubah mekanisme dan prinsip-prinsip yang dibahas pada bab-bab lalu.

Hambatan-hambatan fundamental yang enam itu meliputi masalah degradasi jumlah pengikut setia (al-‘anashir al-mu’minah), masalah defisit kader jihadis yang siap menjalankan manajemen teror, masalah loyalitas terhadap pemerintahan awal, masalah intelijen dan infiltrasi, masalah bagaimana memahami dan menghadapi separasi dan pembelotan individu maupun kelompok dalam kader jihadis, serta masalah hiper-spirit dalam manajemen teror itu sendiri.

Kader dan Loyalitas

Defisit kaum jihadis disinggung pertama, sebagai hambatan dalam manajemen teror. Naji mengatakan, pada awal perang Afganistan tahun 70-an, jihad melewati periode kritis karena serangan terhadap mujahid menjelma genosida hingga menyisakan hanya tiga puluh orang saja. Namun, periode berikutnya, para jihadis melonjak jadi satu setengah juta, yang sebagian besar meninggal terkena bom. Jawabannya, kata Naji, ialah dakwah, pelatihan, dan pendidikan.

Itu yang kemudian ia suguhkan sebagai cara mengatasi masalah yang pertama ini. Karena itu, terorisme mesti memiliki teritorial pertempuran yang dapat memompa spirit generasi untuk jihad. Minimnya jihadis memaksa seluruh umat, terutama di daerah konflik, untuk dididik mencintai jihad, sampai pada era di mana anak-anak menjadi suka, tidak asing dan tidak takut bermain dengan RPG peluncur roket yang bisa menghancurkan tank.

Masalah kedua ialah kurangnya kader manajemen teror. Manajemen teror, menurut Naji, membutuhkan sejumlah besar elemen yang berpengalaman untuk memanajemen chaos hingga menegakkan Negara Islam, tamkin. Di tataran pusat, mungkin masalah ini tak ada, karena para ahli strategi seperti Naji dan para pimpinan kelompok teror sudah sangat berpengalaman. Masalahnya adalah di daerah dengan jumlah penduduk besar: manajemen teror akan kekurangan orang.

Untuk mengatasinya, Naji menawarkan solusi dengan mendekati orang-orang, menunjuk penduduk daerah konflik tempat manajemen teror berlangsung, dengan cara menggaji mereka. Itu akan menambah kekuatan. Caranya ialah dengan memberikan contoh kesabaran, penolakan, pengabaian, pengorbanan, dan perlakuan adil bagi yang tertindas. Naji pada bagian ini jelas tak bergerak fisik belaka, melainkan psikologis; membentuk mindset bahwa jihadis adalah pahlawan.

Sebagaimana pada kalimat bergarisbawah di atas, kunci mengatasi masalah ini ialah merendahkan diri kepada umat dengan kekuatan dan keadilan (natawadha’u li al-khalq ma’a al-quwwah wa al-‘adl). Tentu saja semuanya akan dilalui setelah kengerian dan kesulitan yang musuh dan orang-orang munafik lakukan. Namun justru dengan itulah, kader manajemen teror akan melesat. Jihadis jadi hero yang menolak ketidakadilan, dan mindset ketertindasan sebagai stimulus menggaet mereka.

Artinya, masalah kedua ini bisa diatasi dengan menghidari sikap elitis yang tengah lumrah di dunia Islam. Konsep manajemen teror harus menampilkan keberanian, kepastian, kebajikan, sifat dapat dipercaya dan semangat kesukarelaan, kerendahan hati, kebesaran jiwa, dan keagungan visi, sehingga semua kengerian yang banyak ditakuti menjadi tak lagi dianggap ada apa-apanya di mata mereka. Semua orang pun bergerak menjadi bagian dari manajemen teror.

Selain masalah kader, loyalitas juga menjadi masalah fundamental ketiga yang menurut Naji mesti dipecahkan. Setiap orang yang ingin bergabung menjadi jihadis, masuk ke barisan manajemen teror, harus sama sekali melepaskan ikatan dengan masa lalu mereka. Apalagi jika memuat anasir thaghut, bid’ah, musyrik dan kafir. Bagian ini, dalam seri yang lalu, bisa ditilik pada ulasan tentang polarisasi. Loyalitas manajemen teror hanya ada dua jalan keluar: militansi penuh atau keluar barisan.

Problem Intelijen

Sebagai gerakan bawah tanah, yang sangat rahasia namun mematikan, terorisme jelas tidak mungkin absen dengan strategi pengintaian. Mata-mata, atau intelijen musuh, disadari betul oleh Naji, bahwa mereka tidak bisa diabaikan karena menjadi penghambat dari manajamen teror itu sendiri. Kehadiran mata-mata bisa datang seiring meluasnya gerakan, dan menyingkirkan mereka yang memata-matai kita tentu merupakan hal yang sulit. Ini jadi masalah keempat.

Untuk itu, mata-mata bisa ditemukan melalui laporan keamanan yang diterbitkan para jihadis. Juga dengan cara menilik kemampuan tempur mereka di lapangan, mengingat agen intelijen sering kali tidak akan pernah ikut bertempur karena takut. Jika terlacak bahwa seseorang merupakan agen mata-mata, mereka harus ditindak dengan keras bahkan kejam. Itu semua agar musuh berpikir ratusan kali sebelum mereka berniat jadi penyusup dalam kelompok jihad.

BACA JUGA  Reuni 212, Gerakan Politik Bungkus Agama

Namun propaganda intelijen sering kali membuat jihadis terdeteksi dan tertangkap. Itulah pentingnya menanamkan mental berperang sampai mati dan menghindari penangkapan, karena ketika seseorang tertangkap, ia dipaksa berbicara setelah ditekan dan disiksa. Naji dengan tegas mengatakan, mata-mata musuh memang rentan, maka manajemen teror harus akurat dalam mendeteksi, sekaligus kuat mental ketika tertangkap musuh karena operasi intelijen mereka.

Problem intelijen tadi sekaligus juga bertalian dengan masalah kelima yang Naji uraikan, yakni menghadapi separasi dan pembelotan anggota maupun kelompok. Ini berkaitan dengn uraian pada tulisan sebelumnya, bahwa beberapa teritori konflik akan berada di bawah kendali klan atau kelompok bersenjata sisa-sisa rezim sebelumnya. Mengatasi ini, taktik negosiasi harus kuat. Naji menginstruksikan komunikasi yang intinya mengajak separatis dan pembelot bergabung ke dalam misi manajemen teror.

Selain semua itu, yang terakhir dan yang terpenting, masalahnya adalah aksi sporadis. Ini sanga ditekankan Naji, bahwa manajemen teror adalah agenda yang terstruktur, sistematis dan masif. Masalah operasi sporadis (ta’ajjul bi al-‘amaliyyah), ketololan (al-hamaqah), dan bid’ah melampaui batas (al-ghuluw).

Operasi yang terburu-buru bisa diatasi, akat Naji, dengan memahami medan, kapan harus bertempur, bagaimana pertempuran dilakukan, semuanya harus terstruktur. Tentu saja, orang mukmin tidak boleh dingin secara emosional. Ia harus marah demi Tuhan dan bertindak untuk menolak hal-hal terlarang dengan segala dayanya. Namun ia harus tahu kapan dan bagaimana harus bertindak, tidak terprovokasi, sehingga hasilnya optimal. Naji mengatakan,

Kami tidak melakukan ini karena kekurangan energi, kelemahan, atau menghindar; jika tidak, kami tidak akan mendeklarasikan jihad sejak awal. Kami bekerja untuk menyatukan orang dan membimbing mereka sebanyak yang kami bisa dan untuk melestarikan bara antusiasme dengan terlibat dalam pertempuran yang mencapai kekesalan pada waktu yang tepat. Sudut pandang kita bukanlah sudut pandang mereka yang duduk dan tidak berkelahi … (Operasi terburu-buru dan sporadis) berdampak buruk pada kemungkinan melakukan tindakan-tindakan yang tidak besar, suatu fakta yang mungkin membuat mereka lesu atau membuat mereka melakukan tindakan-tindakan lebih kecil tanpa menguasainya.” [hlm. 71]

Adapun masalah bid’ah alias al-ghuluw, obat dasarnya ialah pengetahuan dan semakin tinggi tingkat intelektualitas generasi muda, serta kehadiran kader intelektual yang tabah di setiap daerah. Naji tegas bahwa orang yang bersikeras pada metode tergesa-gesa, perlu dibuang dari barisan manajemen teror. Ia harus ditangani dengan cara yang sepadan, dan dicegah dari menyebabkan kerusakan pada kelompok jihadis yang telah sesuai syariat Islam.

Sementara itu ketololan juga dapat menjadi penghambat manajemen teror. Maka Naji menyarankan agar mereka yang ugal-ugalan dalam gerakan teror harus dieliminasi sebelum merusak seluruh strategi yang telah ada. Kecerobohan, seperti tidak bisa menjaga privasi, juga kenaifan ketika menuliskan sesuatu yang rahasia, disinyalir Naji sebagai bencana dalam manajemen teror. Maka satu-satunya jalan keluar adalah mengeluarkan mereka dari barisan.

Uraian Naji, pada enam masalah tersebut, menunjukkan ketajaman analisis sebagai ahli strategi manajemen teror. Optimisme akan tegaknya Negara Islam, melalui perjuangan panjang yang ia suguhkan, benar-benar cemerlang. Namun dalam perspektif yang lain, semua itu justru menjadi kesadaran semua pihak bahwa para teroris sudah jauh melangkah. Sementara kita, di Indonesia terutama, masih ribut dengan dalil: jauh tertinggal dari diskursus teror itu sendiri.

Bersambung…

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru