32.8 C
Jakarta

Makna Kunjungan Ketua DPRD Bangka Tengah ke Harakatuna

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

“Posisi beliau sekarang di Dirjen Lapas Veteran,” tiba-tiba pesan WhatsApp masuk, dari Mas Heri, asisten Ketua DPRD Bangka Tengah, Me Hoa. Perempuan yang sudah tiga periode menjadi anggota dewan, dan sudah setahun menjadi ketua definitif daerah, itu sebenarnya sudah ingin berkunjung sejak dulu. Pada rencana sebelumnya, terjadi reschedule, sebab kepentingan yang lain. Kunjungan Ibu Me Hoa pada Sabtu (3/10) kemarin, di Kantor Redaksi Harakatuna, tentu, merupakan kunjungan istimewa.

Bu Me, sapaan akrabnya, sesuai perjanjian, tiba di Kantor Redaksi pada jam 14.50 WIB. Bersama dua pendampingnya, dirinya menjelaskan, kunjungan tersebut adalah dalam rangka peningkatan kompetensi. Banyak yang diulas, sharing, bersama para tim Harakatuna. Sebelum itu, katanya, ia juga sudah pernah mengunjungi Dewan Pers. Koordinasi dengan persatuan wartawan Indonesia (PWI) pernah juga dilakukan, untuk mengetahui, misalnya, status kredibilitas sebuah media.

Menurut Bu Me, tidak sedikit media abal-abal, dengan penulis yang abal-abal pula, berkeliaran. Di Bangka Tengah, daerah dirinya tinggal, beberapa tulisan dilahirkan untuk menyudutkan, memelintir, bahkan memeras orang tertentu. ‘Menulis karena uang’ boleh jadi tidak bermasalah, tetapi ‘memeras melalui tulisan agar dapat uang’ itu tidak dapat dibenarkan. Bu Me juga mengatakan, narasi Islam garis keras juga mengganggu. Di situ ia merasa, pemuda butuh edukasi dalam banyak persoalan sosial.

Makna Kunjungan Ketua DPRD Bangka Tengah ke HarakatunaDikunjungi seorang pimpinan DPRD seperti Bu Me, tidak saja merupakan wujud apresiasi kalangan non-Muslim terhadap Harakatuna, melainkan juga menjadi ikhtiar kerja sama memberantas ideologi-ideologi riskan terhadap Pancasila. Hari-hari, terutama setelah kasus indoktrinasi peserta didik di Bangka Belitung, beberapa hari yang lalu, narasi Islamisme menguat, dan ada di pelbagai lini. Melalui kunjungan Bu Me ke Harakatuna, diharap, kasus serupa tidak terjadi di Kabupaten Bangka Tengah.

Harakatuna menjadi satu-satunya media keislaman yang Bu Me kunjungi, dalam tur kali ini ke Jakarta. Ia sharing banyak hal dan mengapresiasi konsentrasi Harakatuna, ikhwal kontribusinya terhadap kontra-narasi radikalisme dan sejenisnya.

Harakatuna dan Kontra-Narasi

Di era kejayaan pandemi COVID-19 seperti sekarang, bukan hanya imun tubuh yang harus dijaga, melainkan juga imun otak, agar mindset kita tidak terjajah oleh ideologi perongrong negara. Tidak berlebihan untuk dikata, virus khilafah jauh lebih riskan ketimbang virus corona. Bu Me mengunjungi Harakatuna, bertemu di tempat yang terbatas, dengan diskusi, sharing, kontra-narasi. Jika bukan karena ikhtiar yang kuat, jiwa patriotik, memegang teguh kebhinnekaan, persatuan, untuk apa?

Kebhinnekaan adalah sesuatu yang niscaya di negeri ini. Pada kenyataannya, non-Muslim selama ini dianggap tidak lebih Pancasilais daripada umat Islam. Dua hal yang terjadi di Bangka: yang non-Muslim berkunjung ke media keislaman moderat dan yang Muslim justru memaksa murid membaca literatur yang tidak pantas, membuat kita perlu menanyakan ulang, mana di antara Muslim dan non-Muslim yang lebih Pancasilais, yang lebih memegang teguh kebhinnekaan?

Harakatuna memiliki konsen kajian kontra-narasi. Itu artinya kebhinnekaan, keislaman, pluralitas, merupakan subbagian di dalamnya. Memupuk jiwa-jiwa majemuk merupakan ikhtiar, sehingga toleransi antarumat menguat, dan dengan sendirinya jiwa-jiwa eksklusif yang merasa benar sendiri dan mengafirkan yang lainnya mengalami penurunan yang signifikan. Kontra-narasi sebagai bidang utama Harakatuna bisa dibilang langkah yang kecil, melihat musuh yang terlalu besar. Beberapa kali diretas oleh siber kalangan radikal. Tetapi surut, tetap saja, merupakan sebuah pantangan.

Bagi Harakatuna yang berupaya melakukan kontra-narasi, kunjungan Bu Me menjadi nilai lebih. Sebab, kali ini, itu tidak terjadi kepada media lainnya dengan konsen yang sama. Boleh jadi, ini bukan saja merupakan sinyal kerja sama, lebih dari itu menjadi sinyal keberhasilan kontra-narasi itu sendiri. Non-Muslim dan Muslim harus berpangku tangan menyergap musuh bersama, yaitu kaum-kaum agama yang keras. Baik dari kelompok Islam sendiri maupun dari kelompok non-Muslim. Perbedaan harus dirawat, diruwat, sementara eksklusivitas dan kekerasan mesti disingkirkan demi terjaganya persatuan.

Pesan-pesan Persatuan

Di Bangka Tengah, cerita Bu Me, tidak sedikit kalangan keras, baik Muslim maupun non-Muslim. Regulasi struktural mereka sempurna, dan gerakannya masif sekali. Bu Me menyampaikan banyak pesan persatuan, mengedukasi masyarakat tentang bersatu dalam keberagaman. Dunia pendidikan yang sudah terpapar ideologi berbahaya harus diselamatkan. Pergerakan kontra-narasi tidak boleh kalah masif. Dan ia, menurutnya, bersedia mengakomodasi, untuk tujuan positif tersebut.

Pertanyaannya sekarang ialah: kalau yang non-Muslim saja mengapresiasi, kenapa dari kalangan Muslim sendiri justru tidak banyak? Kenapa umat Islam malah cenderung terpengaruh ideologi pan-Islamisme yang sama sekali tidak memberi ruang atas perbedaan, atau bermaksud merebut kekuasaan dengan berpangku terhadap otoritas politik masa lalu? Mau sampai kapan antarsesama Muslim beredebat soal politik? Kenapa tidak malu dengan non-Islam yang mengawasi laku keberagamaan mereka?

Kunjungan Bu Me, andai bukan di era COVID-19, boleh jadi dilakukan di tempat terbuka. Itulah yang disayangkan. Kendati demikian, kunjungan tersebut sangat berkesan. Sekelas dewan, non-Muslim pula, berkunjung ke media keislaman, adalah bukti konkret jiwa nasionalis. Apalagi, Bu Me berasal dari partai yang selama ini dituduh, oleh FPI cs, sebagai gerbong neo-komunis PKI. Silaturahmi dan sharing Bu Me dengan Harakatuna menjadi titik balik yang penting, di satu sisi untuk membatalkan stigma tadi, dan di sisi lainnya untuk progresivitas komitmen kontra-narasi.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...

Hayya ‘Alal Jihad, Mari Berjihad Berantas FPI!

Boleh jadi, setelah membaca tulisan ini, atau sekadar membaca judulnya saja, Hayya ‘Alal Jihad, sementara orang akan berkomentar: “Bocah kemarin sore kok mau bubarkan...

Israel Musnahkan Tangga Bersejarah Masjid Al-Aqsa

Harakatuna.com. Yerusalem - Pemerintah Kota Yerusalem Israel menghancurkan tangga bersejarah yang mengarah ke Bab Al-Asbat, Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem. Penghancuran tangga bersejarah ini...