Mahasiswa Yang Zuhud


0
7 shares

Saat ini dunia perkuliahan identik dengan gaya hidup yang hedonisme, lebih mementingkan kesenangan dalam hidup. Banyak mahasiswa yang lebih suka shopping, jalan-jalan, memakai pakaian ber-merk luar negeri dan sebagainya. Ditambah era sekarang memasuki era globalisasi dimana arus budaya dari luar negeri dapat dengan mudahnya masuk dan di nikmati oleh para mahasiswa. Bukannya mahasiswa bisa dengan bijak memilah apa yang di dapat dari dampak globalisasi tetapi terbawa derasnya arus globalisasi. Hedonisme dengan mudah merasuki pemikiran mahasiswa sehingga melupakan makna dari agent of change yang selalu di kaitkan dengan mahasiswa. Semakin banyak kasus korupsi yang berasal dari mantan mahasiswa, ditemukannya mahasiswa yang termasuk anggota jaringan terorisme, berkurangnya jeritan mahasiswa yang mengkritik kebijakan pemerintah. Ada apa dengan mahasiswa zaman sekarang?

Mahasiswa ialah pemuda generasi bangsa, dimana mahasiswa merupakan calon pemimpin bangsa kelak. Ketika calon pemimpin telah memiliki bekal untuk menghadapi masa depan dengan baik, maka nasib bangsa beberapa tahun kedepan akan gemilang. Salah satu bekal yang perlu di persiapkan ialah zuhud. Zuhud bisa di jadikan sebagai filter kita dalam berperilaku dalam keseharian dan bermasyarakat. Sebenarnya tidak salah ketika hidup untuk mencari kesenangan, tetapi jika kesenangan yang di cari membuat lupa akan tugas yang seharusnya di laksanakan itulah yang salah. Kita yang sibuk dengan urusan dunia yang menawarkan kesenangan ragawi dan badani berdampak pada terbengkalainya urusan akhirat. Ketika berusaha menghilangkan hedonisme makan zuhud akan mudah diamalkan dalam keseharian.

Apa itu Zuhud?

Apa yang anda fikirkan ketika mendengar kata zuhud dunia? Zuhud dunia identik dengan sikap hidup yang meninggalkan kehidupan duniawi demi mengejar akhirat semata, seolah tidak peduli dengan urusan duniawi dan sekitarnya. Apakah makna dari zuhud tersebut sudah benar? Zuhud dapat dimaknai dengan berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya. Ilmu yang dapat menghantarkan ke gerbang zuhud ialah ilmu tentang betapa hinanya sesuatu yang ditinggalkan jika dibandingkan dengan sesuatu yang diambil. Seseorang yang menerapkan zuhud dalam hidup akan merasa tidak tertarik lagi dengan dunia karena ia merasa dunia ibarat sebongkah batu es yang berada di bawah teriknya matahari. Ia akan meleleh sampai akhirnya hilang tak berbekas. Sedangkan akhirat bagaikan baut permata yang tak akan hilang ditelan masa. Siapapun yang mengerti seperti mengertinya batu permata lebih berharga dibanding sebongkah batu es. Pasti akan berusaha menukar dunia nya dengan akhirat yang dinilai lebih berharga.

Baca Juga:  Dzikir Sebagai Terapi (2)

Orang yang menerapkan zuhud menganggap dunia hanyalah sebagai media menuju akhirat. Sehingga dalam kehidupan seseorang tersebut tidak tergantung pada materi dunia. Maka zuhud ialah berpaling dari suatu keremehan serta tidak memperhatikan yang tidak pantas baginya. Yunus bin Maisarah dalam buku terjemahan tazkiyatun nafs berujar zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta. Tetapi lebih yakin dan percaya kepada apa yang ada ditangan Allah daripada apa yang ada ditangan orang itu. Juga keadaanmu dan sikapmu sama ketika tertimpa musibah ataupun tidak, serta dalam pandanganmu orang lain itu sama, baik yang memujimu ataupun yang mencelamu karena kebenaran.

Berbicara meninggalkan dunia bukan berarti orang tersebut meninggalkan segala hal yang berurusan dengan dunia melainkan lebih menggunakan dunia sebagai alat menuju akhirat. Bukan berarti orang yang menerapkan zuhud tidak memiliki harta atua meninggalkan harta dunia karena zuhud ialah pekerjaan hati. Bisa jadi yang berpakaian rapih, berdasi ialah orang yang zuhud dibanding dengan orang yang menggunakan pakaian lusuh dan tidak berdasi. Zuhud tidak bisa dinilai lewat penampilan. Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki harta banyak apakah orang itu bisa berzuhud? Beliau menjawab “apabila ia tidak bangga ketika harta itu bertambah dan tidak bersedih ketika berkurang, maka dia adalah seorang yang zuhud.”

Menurut Junayd al-Baghdadi (Sufi kelahiran Baghdad, 210 H) konsep zuhud adalah dimana kita tetap memiliki harta, namun tidak terlalu mencintainya. Zuhud tidak meninggalkan harta kekayaan, tapi juga tidak tamak mengejarnya, dan tidak pula menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Orang zuhud senantiasa mewaspadai bahaya yang timbul akibat salah menggunakan harta, karena memegang harta kekayaan ibarat memegang bara api yang bisa membakar dirinya sendiri. Mengapa? Karena kaum sufi memandang bahwa dengan harta kekayaan itu, seorang pemiliknya sangat riskan terhadap ujian untuk berbuat kejahatan atau maksiat dengan harta yang dimilikinya itu. Kemudian bagaimana implementasi zuhud dalam kehidupan di era sekarang? Praktik zuhud tidak berarti selalu identik dengan kefakiran, tetapi Ketika manusia mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, mengambil secukupnya dan tidak terpukau oleh gemerlapnya dunia meski dunia berada di tangannya.

Baca Juga:  Tiga Benteng Manusia Dari Setan

Mahasiswa yang mempraktikan sikap zuhud bisa menjalankan kehidupan dengan baik antara dunia (seperti tugas-tugasnya sebagai agent of change dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam menyongsong masa depan) dan akhirat (seperti tidak terlalu berlebihan dalam menggunakan harta atau boros). Dengan zuhud mahasiswa bisa mengontrol sikap dalam berkehidupan, tidak mudah terpukau dengan budaya luar negeri yang masuk, dan bisa lebih arif dalam menyikapi hidup. Dengan lebih banyak mendengar maka akan lebih arif dalam menyikapi permasalahan di dunia.

Fika Vindayani

 


Like it? Share with your friends!

0
7 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.